Rasa Nyeri di Bagian Vagina

Sebagian perempuan pernah mengalami nyeri di sekitar area vagina. Penyebabnya bermacam-macam. Namun, tak sedikit yang mengabaikannya. Padahal, ini patut diwaspadai. Sebab, bisa saja merupakan tanda-tanda Vulvodynia.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Rina Nulianti mengatakan vulvodynia bukanlah depres vagina. Sebab, tak ada depresi vagina dalam istilah medis.

“Vulvodynia merupakan kondisi nyeri kronis yang datang dalam kurun waktu yang tak bisa ditentukan atau bisa dikatakan datang begitu saja. Rasa nyeri bisa hilang dan timbul kembali. Ada juga yang bertahan dalam jangka waktu panjang,” jelas Rina.

Vulvodynia dapat ditandai dengan rasa cenut di bagian vagina ketika duduk terlalu lama. Namun, dalam beberapa kasus, vulvodynia ditandai dengan gejala, seperti rasa terbakar (burning) di daerah vagina. Rasa menyengat, gatal, berdenyut, bengkak (inflamasi) dan kemerahan (hyperemia).

“Intinya, dari penyakit ini adalah rasa nyeri yang sering digambarkan sangat menyakitkan,” kata Rina.
Dokter di RS Augerah Bunda Khatulistiwa Pontianak ini menuturkan penyebab vulvodynia tergolong multifaktor. Bisa dikarenakan iritasi atau pernah mengalami cedera di bagian vulva seperti labia mayora, meliputi klitoris dan labia minora. Bisa juga disebabkan infeksi di bagian vagina, mengalami alergi atau sensitif, serta, terjadi perubahan hormon.

Begitu pula saat terjadi disfungsi seksual berupa kekejangan abnormal otot vagina di sepertiga bagian luar dan sekitar vagina (Vaginismus). Otot pada dinding vagina menjadi kaku. Dan, menjadi masalah saat akan melakukan hubungan seksual. Perempuan akan merasa sakit dan tak menikmati hubungan seksual yang dilakukan bersama pasangan.

Terlalu fokus akan rasa nyeri dan sakit sedikit banyaknya dapat memengaruhi sehingga tak jarang diri mengalami depresi. Jika dibiarkan dalam jangka waktu panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas hidup sehingga harus segera ditangani.

Menurut Rina, dari hasil riset yang dibacanya, vulvodynia dapat diderita perempuan yang berusia produktif, pramenopause, dan menopause. Pada usia produktif, penyebab vulvodynia berkaitan dengan cedera yang mungkin pernah dialami atau mengalami infeksi. Sedangkan pada saat menopause terjadi karena adanya gangguan hormon.

Dokter di RS Bersalin Jeumpa Pontianak ini menjelaskan sejatinya perempuan memiliki dua hormon, yakni hormon estrogen dan progesteron. Saat menopause terjadi, ovarium tak lagi berfungsi. Kadar estradiol menurun.

“Otomatis tak akan bisa menghasilkan lendir pada vagina. Sehingga, pada saat berhubungan seksual, perempuan yang bersangkutan akan merasa nyeri. Jika dipaksakan, akan menyebabkan iritasi atau lecet di bagian vagina,” ungkapnya.

Rina menuturkan bisa saja terjadi komplikasi, bergantung pada penyebab vulvodynia yang dialami. Jika disebabkan karena infeksi di bagian vagina, tentu saja bakteri (gonore dan klamidia) yang ada di dalam vagina bisa naik dan masuk ke dalam uterus (rahim). Dikhawatirkan bakteri masuk ke saluran tuba.

Bakteri yang masuk ke tuba akan menyumbat saluran telur. Bisa menyebabkan perempuan sulit hamil atau terjadi radang panggul. Saat dilakukan Ultrasonography (USG) akan terlihat cairan bebas dan pembengkakan pada saluran telur. Umumnya, bakteri masuk saat melakukan hubungan seksual. Bakteri bisa saja hadir dari terbawa karena aktivitas multi partner seksual.

“Atau, bisa juga dikarenakan kondisi vulvanya kurang baik,” tutur Rina.

Pencegahan vulvodynia dapat dilakukan dengan cara rajin membasuh dan menjaga kebersihan vulva. Menggunakan celana dalam berbahan katun yang dapat menyerap keringat. Usahakan celana dalam yang digunakan tak terlalu ketat. Jika mudah mengalami iritasi dan alergi terhadap pembalut dan pantyliner, pilih merk yang dermatologi bahan tak terlalu mengiritasi. **

loading...