Rasio Kredit Macet Perbankan Kalbar Terkendali

PONTIANAK – Rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) perbankan di Kalimantan Barat masih terkendali meski puluhan ribu debitur terdampak sentimen negatif dari pandemi covid-19. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar mencatat, NPL perbankan di provinsi ini sebesar 2,17 persen. Angka ini masih di bawah rata-rata NPL nasional.

“Rasio kredit bermasalah (NPL) Provinsi Kalimantan Barat posisi Mei 2020 relatif terkendali sebesar 2,17 persen atau di bawah NPL nasional sebesar 3,01 persen,” ungkap Kelapa OJK Kalbar, Moch Riezky F Purnomo, kemarin.

Menurutnya, pandemi covid-19 secara umum telah mengakibatkan para debitur mengajukan restrukturisasi kredit. OJK Kalbar mencatat, sebanyak 27.099 debitur, baik UMKM maupun non UMKM direstrukturisasi dengan total baki debet sebesar Rp2,29 Triliun. Namun di sisi lain, fungsi intermediasi masih berjalan dengan baik dengan pertumbuhan kredit posisi mei 2020 sebesar 4,52 persen (yoy) atau menjadi Rp52,7 Triliun.

“Pertumbuhan kredit tersebut masih di atas rata-rata pertumbuhan kredit nasional sebesar 3,09 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh kredit sektor rumah tangga, perdagangan, serta pertanian,” kata dia.

Direktur Utama Bank Kalbar, Samsir Ismail, mengatakan, dampak dari krisis penyebaran covid-19 adalah terjadinya kenaikan kredit bermasalah atau NPL. Dia menyebut, pada posisi Februari 2020 atau sebelum terkonfirmasi virus ini di tanah air, angka NPL Bank Kalbar sebesar 1,77 persen, dan meningkat menjadi 2,15 persen pada Mei 2020. Namun dengan adanya kebijakan dari OJK melalui POJK Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional, pihaknya berupaya agar kualitas kredit membaik.

“Bank Kalbar akan terus berupaya melakukan relaksasi kredit terdampak covid-19 ini sehingga kualitas kredit dapat kembali menjadi lancar dan tidak memburuk pada NPL,” jelas dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Ban Kalbar telah menyalurkan kredit sebesar Rp11,8 Triliun hingga 23 Juni 2020 yang lalu. Dari total itu, terdapat 1569 debitur UMKM dengan baki debet sekitar Rp451,5 miliar yang mengajukan relaksasi atau 2,8 persen dari total penyaluran kredit.

“Bank Kalbar telah melakukan relaksasi sebanyak 227 debitur dengan baki debet Rp225 miliar,” sebut dia.

Debitur yang diberikan kebijakan relaksasi ini, tambah dia, adalah debitur yang benar-benar usahanya terdampak sentimen negatif pandemi covid-19. Adapun bentuk relaksasi yang diberikan, antara lain penurunan suku bunga, penjadwalan kembali fasilitas kredit, dan penundaan pembayaran pokok maupun bunga. (sti)

loading...