Raup Jutaan Dolar dari Kratom, Pernah Ditipu Kawan dan Buyer

kratom
Teks Foto; Pengusaha Kratom, Muhammad Zakaria saat ditemui di pabrik pengolahan daun kratom miliknya.

Kisah Muhammad Zakaria, Pengusaha Sukses Daun Kratom

Daun Kratom sudah menjadi sumber mata pencarian banyak orang. Tanaman ini menjadi andalan sekitar 300.000 petani dan pengusaha skala kecil dan besar di Pulau Kalimantan. Muhammad Zakaria adalah salah satu pengusaha sukses dari tanaman bernama latin Mitragyna Speciosa ini.

DENY HAMDANI, Sungai Raya

Dari rumahnya dihasilkan ribuan dolar dalam setahun. Bagaimana olahan dan produksi ribuan ton dari pabriknya sebelum dikirim ke Amerika Serikat ?

Sebuah Gang Sempit bernama Wanara Sakti, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya berdiri kokoh bangunan megah. Sebuah rumah kelas menengah model minimalis, tersambung dengan bangunan berukuran 7×17 meter. Di bangunan belakang itulah, tempat produksi kratom skala besar diproduksi pemuda bertubuh mungil ini.

Di sana, remahan dan bubuk Kratom siap kirim ke Amerika Serikat tengah diolah. Lengkap bersama alat olahan yang didatangkan dari Cina, bubuk daun Purik ini segera dikirimkan ke beberapa negara bagian di Amerika. Jumlah kirimannya juga tidak main-main yakni sekali kirim per ton.

”Terkadang 10, 20, 40 sampai 100 ton lebih juga saya kirimkan,” ucap Zaka, panggilan karibnya, ketika berbincang kepada awak media.

Bubuk Kratom itu sebelum dikirim memang dikontrol kualitasnya. Ada sekitar 40 orang yang dipekerjakan di sana. Rinciannya, 22 perempuan dan sisanya pria. “Mereka warga sekitar di Desa Arang Limbung,” ucapnya.

Proses produksi daun kratom ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Dari masa tanam pertama, tiga bulan ke depan sudah bisa panen. Kratom sendiri sebetulnya tak ada jenis. “Hanya proses kerjanya. Sebagian difermentasi, dijemur langsung matahari kemudian masuk penggilingan,” katanya.

Usai digiling lalu masuk filter. Selanjutnya diayak dan disterilkan. Alat sterilnya memakai mesin UV baru. Sesudah semua dilewati, 20 kilogram siap dipacking dalam satu kemasan sebelum dikirim.

Zaka menyampaikan bahwa bisnis daun Kratom memang melibatkan banyak pihak. Mulai dari tukang petik, petani, jasa kargo, karyawan angkutan hingga elemen pengusaha skala kecil dan besar. Daun bubuk olahannya dikirimkan melalui jasa udara dan laut.

Dalam sebulan ekspornya mencapai 25 ton melalui kargo udara. Sementara 125 ton dengan memakai container kapal laut dengan tujuan Amerika Serikat.

“Bulan ini saja sekitar tujuh kontainer. Satu kontainer beratnya mencapai 20-25 ton dengan memakai kendaraan 40 feet,” kata dia.

Daun bernama lain Purik yang dikirimnya rata-rata berkualitas grade A. Datangnya dari Kapuas Hulu, Samarinda dan beberapa daerah lain. Zaka sendiri membina petaninya dan sengaja tidak mengambil dari petani lain.

”Saya beli  dalam bentuk remahan. Dulu pernah ditipu membeli dari Bajarmasin. Ternyata daun kratom saya dicampur dengan daun pepaya dan daun ibu. Rasanya mau nangis, sempat stress. Sebanyak 14 ton tidak diterima Buyer,” ucapnya.

Meski mengalami cobaan, jangan kaget dengan hasilnya. Untuk biaya pengeluaran pengiriman selama tahun 2019 (Januari-November), dia merogoh kocek mencapai Rp39 miliar melalui kargo udara. “Saya juga dibebankan PPh 23 untuk ekspor. Saya sudah bayar Rp400 jutaan untuk tahun 2019 saja,” ucapnya.

Buyer Zaka sendiri di Amerika Serikat memang datang dari beberapa negara bagian. Setidaknya ada empat buyer setianya di sana. Hingga November 2019, nilai transaksinya mencapai 3.411.980 US Dollar. Yang belum membayar mencapai 418.250 US Dollar. Angka fantastis jika diakumulasikan rupiah Rp14.300 (per 1 dollar) sama dengan Rp48.791.319.720 perputaran uangnya. Untung bersih Zakaria sendiri klop diangka 1,5-2 juta USD/tahun.

Sukses yang diraihnya seperti sekarang memang penuh liku. Pekerjaan pertamanya adalah Cleaning Service di sebuah diler mobil. Pernah di Marketing truk dan alat berat. Tahun 2013 buat perusahaan domestik khusus angkutan alat berat. ”Tahun 2015 kolap alias bangkrut,” tuturnya.

Dari kebangkrutannya inilah, Zaka memulai bisnis daun kratomnya. Awalnya ia memperkenalkan teman ke petani. Setelah cocok ternyata temannya tidak membayar petani.

”Mau nangis rasanya. Saya punya tanggungjawab moral. Dari sanalah saya nekat jual ke Amerika Serikat guna menutupi beban utang teman saya ke petani,” ucap dia.

Zaka mengakui tak punya modal sama sekali. Laptop saja harus meminjam. Pertama dapat pelanggan dari Kolombia. Barang dikirimkan tetapi kembali rugi Rp26 juta. ”Kembali kena tipu. Tidak dibayar sama sekali setelah barang dikirim,” ujarnya.

Selanjutnya dapat Buyer orang Amerika. Buyer ini memasan uji coba pertama sebanyak 250 gram saja. Nah karena jujur sekarang pesanannya sebulan sudah mencapai 50 ton. ”Pertama buyer untuk konsumsi teh. Tetapi banyak dokter ahli di sana bantu orang dari ketergantungan narkotik dengan kratom,” katanya.

Pertama menyulitkannya adalah komunikasi lewat video call. Bicara panjang lebar tetapi tidak paham. Tak heran ia menyewa jasa translate pekerja di Maskapai Garuda. “Yang menerima telpon adalah translater saya. Transalater  saya bisa dapat Rp200 juta sebulan. Dibayar Rp50 rupiah untuk per 1 kilogram daun kratom yang dikirim,” tukasnya.

Di Amerika Serikat, data dari buyernya memperlihatkan bahwa tahun 2005 setiap 11 menit selalu ada overdosis narkotika. Nah semenjak ada kratom berkurang drastis sampai 35 pesen. Makanya wacana di sana diperkirakan bahwa semua Negara bagian Amerika akan melegalkan kratom.

”Sekarang baru delapan Negara bagian. Tetapi pelan-pelan sudah disosialisasikan manfaat kratom,” ucap dia.

Daun Kratom di Amerika lebih mudah didapat karena harganya murah dibandingkan resep obat dokter paling minimal 100 dollar per hari. ”Kalau kratom bisa untuk 1 bulan konsumsi dengan 100 dollar,” tuturnya.

Walaupun menikmati kejayaannya, sedekah tetap menjadi harian pria lulusan pesantren di Jawa ini. Berkat kratom ini, setidaknya belasan karyawannya sudah umroh. Sementara ada empat panti asuhan untuk anak-anak yatim piatu yang dibinanya. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!