Remaja Saat Pandemi Tetap Bisa Berprestasi

BEKERJA: Seorang remaja mengisi waktu sambil bekerja di salah satu kafe di wilayah Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/11/) | ANTARA/Laily Rahmawaty

Jakarta- Remaja pada saat pandemi COVID-19 tetap bisa berprestasi asal bisa melihat peluang dan potensi dirinya sehingga mereka dijauhkan dari kondisi stres dan depresi.

“Keterampilan hidup, keterampilan bekerja dalam tim, digital dan perencanaan, serta keterampilan teknikal seperti montir, berdagang dan sebagainya, adalah kombinasi keterampilan yang diperlukan untuk berhasil,” kata Pembina Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Prof Samsuridjal Djauzi, saat membuka  diskusi webinar “Remaja vs COVID-19 : Prestasi Yes, Depresi No”, di Jakarta Selatan, Sabtu.

Prof Samsuridjal yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini mengatakan remaja bisa tetap berprestasi dan menghasilkan uang di masa pandemi.

Namun, remaja juga memiliki permasalahan yang dihadapinya, kadang masalah tersebut tidak bisa diselesaikannya layaknya orang dewasa, cenderung merugikan diri sendiri.

Psikiater RSUD Banyumas, Jawa Tengah, dr Hilma Paramita, salah satu narasumber menyebutkan, remaja itu masa mencari jati diri, remaja yang sudah menemukan jati diri, tidak mudah untuk terpengaruh hal-hal buruk.

“Remaja di Indonesia banyak yang berprestasi, hebat, tapi tak sedikit juga yang terjerumus dalam tindak pidana seperti pembunuhan, narkoba hingga tawuran dan lainnya,” kata Mita sapaan akrabnya.

Mita mengatakan terjadi perubahan perilaku remaja di masa pandemi dan sebelum pandemi.

Pada masa sebelum pandemi, remaja bersekolah, bergaul dengan teman, interaksi fisik, interaksi dengan keluarga terbatas, ekonomi keluarga lebih mapan, mental orang tua lebih stabil dan bebas berekspresi untuk menyalurkan stres.

“Selama masa pandemi, belajar di rumah, bergaul lewat media telekomunikasi, media sosial, minim interaksi fisik, lebih banyak berinteraksi dengan keluarga, ekonomi keluarga dan mental orang tua terpengaruh, ekspresi terbatas dan penyaluran stres terbatas,” ujarnya.

Agar masa pandemi tidak menyebabkan stres dan depresi, tapi bisa berprestasi dan menghasilkan uang, Ns Intan Widya Nanda, perawat yang juga pemengaruh (influencer) memberikan beberapa tips untuk para remaja.

Menurut Intan, ada empat langkah awal yang perlu dilakukan oleh remaja, yakni kenali potensi dan bakat, mencoba hal-hal baru untuk keluar dari zona nyaman, mengikuti perkembangan media sosial dan aksi.

“Mengenal lebih dulu bakat atau potensi diri, berani mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman kita, ikuti perkembangan lewat media sosial, lalu ‘action’. Karena, kalau rencana tanpa aksi tidak akan jalan,” katanya.

Intan juga memberikan tips agar tetap berprestasi dan menghasilkan uang di masa pandemi, yakni memiliki perencanaan harian, bulanan atau tahunan, sehingga tau apa yang harus dilakukan, apa yang mau diperbuat.

“Setelah perencanaan, hobi dan aksi, let’s do it, do it and do it,” kata Intan.

Yayasan Pelita Ilmu (YPI) merupakan lembaga yang dirikan para dokter lulusan UI, diinisiasi oleh Prof Zubairi Djoerban, fokus pada pencegahan HIV dengan mengedukasi kelompok remaja dan masyarakat umum.

Saat ini YPI juga aktif mendampingi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di wilayah Jakarta dan beberapa wilayah di Indonesia.  (Laily Rahmawaty/antara)

error: Content is protected !!