Restoran Tutup, Nelayan Merana, Harga Ikan Anjlok

PONTIANAK – Nelayan mengeluhkan sepinya penjualan sejak beberapa waktu terakhir, terutama setelah diterapkannya pembatasan sosial atau social distancing. Rumah makan yang dulunya menjadi pangsa pasar strategis, kini tak lagi bisa diharapkan. Harga ikan di tingkat nelayan pun anjlok dan kesejahteraan mereka semakin menurun.

“Sementara ini kebanyakan (nelayan) tidak melaut. Selain karena ada ada yang pulang (menyambut puasa), harga ikan juga turun,” ungkap Rahmat (58), nelayan asal Sungai Kakap, Kubu Raya. Beberapa jenis ikan yang mengalami penurunan harga itu antara lain tenggiri, senangin, dan udang galah.

Dia menuturkan, nelayan saat ini agak sulit menjual hasil tangkapan, terutama kepada para agen atau pengepul. Sebabnya, kata dia, jumlah pembeli berkurang atau permintaan yang mulai menurun. Turunnya permintaan mengakibatkan harga melorot.

Hal itu merupakan dampak dari terhentinya operasional sejumlah rumah makan, yang mengandalkan pasokan ikan nelayan Sungai Kakap. Padahal, kata Rahmat, rumah makan selama ini menjadi salah satu pangsa pasar utama.

Di samping itu, para agen juga kesulitan menjual ikan yang berorientasi ekspor. “Udang wangkang salah satunya, sudah sulit untuk diekspor,” katanya. Kini para pembeli mayoritas hanya berasal dari masyarakat lokal. Kebanyakan nelayan yang berlayar pun bukan yang menggunakan kapal-kapal besar. Ia adalah salah satunya, yang merupakan nelayan harian. Pergi pagi dan pulang sore. Intensitas melaut juga tidak normal seperti biasa.

“Jadi kadang melaut kadang tidak. Agak berkuranglah (intensitasnya),” kata dia. Kondisi ini sedikit banyak telah membuat pendapatan nelayan turun. Padahal, sebagian besar dari mereka masih punya tunggakan. Untunglah ada kelonggaran cicilan. Selain itu, ia dan nelayan lainnya juga merasa terbantu dengan adanya bantuan sembako dari berbagai pihak.

Penyuluh Perikanan di TPI Sungai Kakap, Dino menyatakan, meski harga ikan turun, sebagian nelayan masih memutuskan tetap melaut. Menurutnya, penurunan harga tidak hanya pada jenis ikan kebutuhan lokal, tetapi juga ikan dengan tujuan eskpor. Harga ikan ekspor ini bahkan mengalami penurunan yang lebih tajam.

“Ikan betutu misalnya. Harga ekspor biasanya Rp 100 ribu per kg, sekarang jatuh jadi Rp25 ribu per kg,” katanya.

Jenis ikan yang diekspor ini, harganya anjlok ketika dipasarkan secara lokal. Dengan harga yang murah seperti saat ini, kata dia, akan semakin membebani ongkos produksi nelayan, serta kebutuhan keluarga mereka sehari-hari. “Apalagi saat ini harga-harga naik. Gula salah satunya,” ujar dia.

Sementara itu, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, pada Maret 2020, kesejahteraan nelayan Kalbar, yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor Nelayan mengalami penurunan.

BPS Kalbar merilis, NTP Perikanan (NTPN) Maret pada 2020 sebesar 100,39 poin, atau turun 0,73 persen dibanding NTP bulan Februari 2020 sebesar 101,13 poin.  Sedangkan NTP Perikanan Tangkap Maret 2020 tercatat 99,70 poin atau turun 0,91 persen dibanding NTP Februari 2020 yang tercatat 100,62 poin. Kemudian, NTP Perikanan Budidaya pada Maret 2020 sebesar 103,43 poin atau naik 0,07 persen dibanding NTP bulan Februari 2020 sebesar 103,37 poin. (sti)

 

loading...