Rimpang Jaga Daya Tahan Tubuh

Ilustrasi tanaman rimpang

Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan imunitas tubuh di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya mengonsumsi olahan rimpang atau empon-empon. Rimpang dinilai memiliki khasiat yang baik, khususnya dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitti

Rimpang atau biasa disebut empon-empon menjadi tanaman yang banyak dicari masyarakat sejak pandemi Covid-19. Rimpang ini dipercaya berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh, serta sebagai penangkal virus Covid-19.

Ternyata, pemanfaatan rimpang yang juga dikenal sebagai obat tradisional ini telah disetujui oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Kemenkes RI juga sudah mengeluarkan surat edaran Nomor: HK.02.02/IV.2243/2020 tentang Pemanfaatan Obat Tradisional untuk Pemeliharaan Kesehatan, Pencegahan Penyakit dan Perawatan Kesehatan semasa Covid-19. Di dalamnya juga tertera panduan, jenis-jenis dan syarat tanaman yang boleh dimanfaatkan.

Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Untan, Rise Desnita, S.Farm,. M.si., Apt mengatakan rimpang termasuk dalam tanaman obat yang bisa digunakan untuk pencegahan penyakit dan perawatan kesehatan.

“Golongan yang disarankan adalah zingibereceae, terdiri dari jahe merah maupun jahe putih, temulawak, kunyit, kencur dan lengkuas,” katanya.

Pada umbi-umbian ada bawang putih. Kulit kayu ada kayu manis. Pada batang, contohnya serai. Pada daun contohnya ada daun kelor, daun katuk, daun pegagan, dan daun seledri. Pada buah ada jambu biji, lemon dan jeruk nipis.

Sedangkan herbal berarti seluruh bagian tanamannya digunakan, mulai dari akar, batang dan daun. Contohnya tanaman meniran. Pada biji, contohnya ada jinten hitam.

Wakil Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD-IAI) menyatakan jahe, kunyit dan temulawak paling disarankan di dalam formularium obat tradisional. Jahe memiliki kandungan utama, yakni gingerol dan shogaol. Kedua kandungan inilah yang menyebabkan jahe terasa pedas dan hangat, sehingga sangat baik untuk metabolisme tubuh, pencernaan dan mengurangi rasa mual. Jahe juga memiliki efek sebagai antiinflamasi, antiradang, antibakteri dan antioksidan.

“Umumnya rimpang memiliki kandungan antioksidan yang tahan pada pemanasan. Itulah yang membuatnya populer dan dicari,” ujar Rise.

Begitu pula kunyit, memiliki kandungan utama yang membuat kunyit memiliki kemampuan antioksidan paling kuat karena adanya kandungan curcumin. Curcumin ini juga yang membuat warna kunyit menjadi kuning-keorangean. Tak hanya antioksidan, kunyit juga memiliki efek sebagai antiradang, antinyeri dan anti penggumpalan darah.

“Kunyit juga bisa melancarkan asi dan bertindak sebagai antihepatotoksik untuk penyakit hati,” ucapnya.

Temulawak memiliki kandungan utama tumerol. Tumerol punya kemampuan antioksidan, antiradang, antibakteri dan melancarkan metabolisme tubuh.

Rise menjelaskan dalam penatalaksanaan terapi Covid-19 ada tiga hal utama yang penting dan harus diperhatikan. Pertama, memiliki efek antioksidan. Saat tubuh sakit, maka akan banyak radikal bebas yang tercipta di dalam tubuh. Antioksidan yang didapatkan dari makanan yang dikonsumsi (sayur dan buah) tak mampu melindungi tubuh.

 

Sehingga, butuh suplai antioksidan lebih banyak untuk mengikat radikal bebas. Jika radikal bebas dibiarkan ia bisa memperbanyak diri dan merusak organ. Sehingga tubuh mengalami stres oksidatif.

“Makanya, terapi pertama adalah memberikan antioksidan,” ujar Rise.

Kedua, memiliki efek antiradang. Di dalam Covid-19 terjadi badai sitokain, dimana reseptor melepaskan semua inflamasi. Umumnya, terjadi radang, bisa menyerang di bagian tenggorokan maupun paru-paru. Maka dari itu penggunaan obat antiradang juga penting.

Ketiga, meningkatkan sistem imun dengan obat-obat peningkat daya tahan tubuh. Rimpang, seperti jahe, kunyit dan temulawak memiliki mekanisme ketiganya. Umumnya kandungan di rimpang sebagai antioksidan, antiradang dan dapat meningkatkan sistem imun tubuh.

“Itulah kenapa rimpang menjadi booming di masyarakat. Karena perpaduan di dalam rimpang sangat baik sebagai penatalaksana peningkatan daya tahan tubuh di masa pandemi Covid-19,” jelas Rise.

Rise menuturkan dalam mengolah tanaman obat ada langkah-langkah yang harus diperhatikan, seperti jenis tanaman, komposisi dan takaran. Jangan sampai mengolah jenis rimpang yang tak disarankan.

“Karena tidak semua jenis tanaman rimpang bisa diolah,” tutur Rise.

Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah komposisinya sebanyak apa. Biasanya pengolahan tanaman ini juga tak berdiri sendiri. Ada beberapa yang dipadukan dengan tanaman lainnya. Tak lupa juga perhatikan takarannya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah kebersihan, khususnya bahan dan peralatan yang akan digunakan. Usahakan dicuci bersih terlebih dulu. Umumnya, pengolahan dilakukan dengan teknik merebus. Namun, banyak masyarakat yang kerap keliru. Menurut Rise, kesalahan yang sering kali terjadi adalah penggunaan wadah untuk merebus.

Dilarang menggunakan wadah berbahan logam saat meracik tanaman obat ini, kecuali wadah tersebut berbahan stainless steel kualitas tinggi. Hal ini dikarenakan ada beberapa zat aktif yang dapa bereaksi dengan logam dari wadah. Sebaiknya menggunakan wadah, seperti kaca tahan panas, keramik, dan porselen.

Selain wadah, saringan juga tak luput dari perhatian. Terkadang ada yang mengklaim saringannya berbahan stainless steel, tapi tetap saja mudah berkarat. Sebaiknya gunakan bahan plastik nilon. Jadi ketika menyaring tetap aman.

“Harus diingat untuk pembuatan dari bahan segar sebaiknya dikonsumsi di hari yang sama (rebusan). Jangan disimpan dan dipanaskan lagi, tentu manfaatnya akan berkurang,” sarannya.**

error: Content is protected !!