Masyarakat Tak Patuh Prokes, Kasus Covid-19 Melonjak
Rumah Sakit Hampir Penuh

ILUSTRASI / PONTIANAK POST

PONTIANAK – Peningkatan kasus harian Covid-19 di Kalimantan Barat (Kalbar) cukup tinggi akhir-akhir ini. Angkanya selalu di atas 100 kasus per hari, hal itu kemudian membuat angka keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) di Rumah Sakit (RS) hampir penuh.

“Kita ini BOR se-Kalbar meningkat, angka kematian meningkat, karena klaster lebaran. Masyarakat tidak patuh Prokes (protokol kesehatan), tidak mendengarkan anjuran pemerintah, menganggap Covid-19 itu tidak ada, hanya ngade-ngade pemerintah jak,” ungkap Harisson kepada awak media, Minggu (6/6).

Karena masyarakat lalai terhadap prokes menurutnya membuat kasus Covid-19 meningkat. Selain itu pasien positif Covid-19 yang harus dirawat di RS juga banyak. “RS sudah hampir penuh, walaupun sudah kita tambah kapasitas tempat tidurnya, masih saja terus berdatangan pasien yang harus dirawat, RS sudah hampir kewalahan, angka kematian pun menjadi meningkat,” katanya.

Untuk itu ia meminta Satgas penanganan Covid-19 di kabupaten atau kota bertindak tegas. Terutama untuk melarang sementara aktivitas masyarakat yang diperkirakan tidak akan bisa menerapkan prokes dengan baik. Termasuk juga kepada masyarakat ia meminta tolong agar berhenti dahulu membuat kegiatan yang melibatkan orang ramai. Yakni kegiatan yang diperkirakan prokes akan tidak bisa dijalankan dan berisiko terjadi penularan virus corona.

“Satgas harus tegas, bila perlu dimonitor kegiatan kegiatan masyarakat, bila dianggap terjadi kerumunan dan akan mengakibatkan terjadi penularan, seharusnya dibubarkan,” pintanya.

“Satgas harus berani, jangan takut tidak populer di masyarakat, ini semua demi kesehatan dan keselamatan masyarakat,” tambahnya.

Dari data harian per 6 Juni 2021, dipaparkan Harisson telah terjadi penambahan kasus konfirmasi Covid-19 sebanyak 104 orang dari total sampel yang diperiksa sebanyak 663 orang. Dari jumlah kasus baru tersebut ada sebanyak 28 orang yang harus dirawat di RS.

Adapun tambahan kasus baru ini tersebar di Kota Pontianak sebanyak 23 orang, Singkawang delapan orang, Kabupaten Kayong Utara empat orang, Ketapang dua orang dan Kubu Raya tujuh orang. Lalu di Kabupaten Landak juga ada penambahan kasus sebanyak lima orang, Mempawah sembilan orang, Sambas satu orang, Bengkayang 20 orang dan Melawi 25 orang.

Sedangkan kasus konfirmasi yang telah dinyatakan sembuh ada 109 orang. Terdiri dari warga Kota Pontianak sebanyak 15 orang, Kabupaten Kubu Raya empat orang, Ketapang empat orang, Kayong Utara dua orang, Landak satu orang, Mempawah 15 orang, Sambas empat orang, Sekadau 24 orang, Singkawang tiga orang, Sintang empat orang, Melawi enam orang dan luar wilayah Kalbar satu orang.

“Dengan demikian sampai 6 Juni 2021, total kasus konfirmasi ada 11.504 orang, kasus aktif 667 orang atau 5,79 persen, kasus sembuh 10.729 orang atau 93,26 persen dan meninggal dunia 108 orang atau 0,93 persen,” pungkasnya.

Vaksinasi Lansia Masih Rendah

Realisasi program vaksinasi Covid-19 untuk penduduk lanjut usia (lansia) di Kalimantan Barat (Kalbar) masih sangat rendah. Secara keseluruhan baru sekitar empat persen warga lansia yang sudah divaksin dari target 407.885 jiwa.

Untuk percepatan cakupan vaksinasi Covid-19 lansia ini, Dinas Kesehatan Kalbar telah meminta Dinas Kesehatan kabupaten/kota melaksanakan beberapa langkah. Pertama memberikan prioritas, fasilitasi dan kemudahan akses bagi masyarakat lansia dan penyandang disabilitas untuk mendapatkan pelayanan vaksinasi Covid-19.

“Jadi Dinas Kesehatan kabupaten/kota agar mendekatkan pelayanan sedekat mungkin dengan para lansia. Jadi bisa dilakukan di Posyandu maupun Posbindu yang tersedia di desa-desa atau melaksanakan pelayanan di Pustu dan Puskesdes,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson.

Lalu yang kedua, Dinas Kesehatan kabupaten/kota agar melakukan percepatan vaksinasi kepada golongan tersebut melalui fasilitas layanan kesehatan dan sentra-sentra vaksinasi Covid-19. Masyarakat lansia dan penyandang disabilitas dapat dilayani di seluruh fasilitas kesehatan manapun dan tidak terbatas pada alamat domisili KTP.

Selanjutnya agar Dinas Kesehatan kabupaten/kota melakukan kerja sama dengan komunitas, organisasi lokal dan pihak swasta untuk melakukan mobilisasi masyarakat lansia dan penyandang disabilitas. Termasuk mendaftarkan dan mengatur transportasi antar jemput masyarakat lansia dan penyandang disabilitas ke fasilitas layanan kesehatan tempat vaksinasi.

Keempat prioritas vaksinasi Covid-19 pada pendidik dan tenaga kependidikan dilaksanakan secara bertahap dimulai dari jenjang pra atau sebelum pendidikan dasar. Itu untuk mengejar target pembelajaran tatap muka di bulan Juli 2021.

Serta yang kelima pemberian vaksinasi Covid-19 kepada orang atau relawan yang membantu percepatan pelaksanaan vaksinasi bagi masyarakat lansia. Dengan mekanisme satu berbanding dua orang atau lebih. Yaitu satu orang dapat divaksin jika membawa minimal dua orang lansia untuk divaksin Covid-19 dosis pertama.

“Relawan yang membawa lansia (60 tahun ke atas) untuk divaksin harus berumur 18 tahun ke atas agar dapat divaksin,” jelas Harisson.

Sebelumnya Gubernur Kalbar Sutarmidji juga mengimbau kepada daerah, agar ketersediaan vaksin yang sudah ada bisa langsung digunakan atau disuntikkan ke masyarakat yang menjadi sasaran vaksinasi. “Jadi suntikan saja semua, ini kan disuntik, sementara sebagian ditahan untuk suntikan kedua, harusnya sudah ada suntikan semua,” katanya.

Ketika stok vaksin habis untuk penyuntikan tahap pertama, menurutnya daerah tinggal meminta ke pemerintah pusat lagi untuk penyuntikan tahap kedua. Dengan demikian program vaksinasi bisa berjalan lebih cepat. “Ini kan tidak vaksin (tahap) pertama lalu simpan untuk vaksin (tahap) kedua, lama jadinya,” ucap Midji sapaan akrabnya.

Meski demikian, selain sasaran lansia, capaian vaksinasi di Kalbar dikatakan Midji sudah cukup baik. Ia berharap program vaksinasi Covid-19 di Kalbar bisa berjalan lancar agar kekebalan kelompok bisa terwujud. (bar)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!