Ruwahan, Tradisi Sambut Ramadhan Warga Kubu Raya

Warga Menggelar Ruwahan atau Doa Menyambut Bulan Suci Ramadhan 2021. Dok

PONTIANAK-Bulan suci Ramadhan 2021 menjadi momentum spesial bagi warga Indonesia di berbagai daerah. Untuk mengekspresikannya, ada banyak tradisi timbul dalam menyambut bulan suci umat Islam ini. Salah satunya adalah Ruwahan, atau sedekah ruwah yang merupakan upacara penyambutan kedatangan bulan suci 2021 ini.

Imam Masjid Radhiyatum Mardiyah, Ustad Rino menyampaikan bahwa agenda Ruwahan dilakukan biasanya dimulai pada pertengahan bulan Sya’ban hingga detik-detik memasuki bulan Ramadhan. Pada bulan tersebut masyarakat biasanya melakukan acara bersih, ziarah kuburan keluarga hingga mengundang masyarakat untuk berdoa di rumah.

Biasanya memasuki pekan pertengahan bulan Sya’ban masyarakat Kubu Raya dan sekitarnya melaksanakan acara sedekah ruah dengan menyiapkan makanan seperti nasi beserta lauk pauk gulai ayam, ikan, atau daging sapi, kue, dan buah-buahan.

Beragam makanan tersebut disiapkan kelompok masyarakat atau individu suatu keluarga setempat. Pelaksanaannya pun kerap dilakukan di masjid, musholla, surau hingga rumah warga yang dihadiri oleh lapisan elemen masyarakat seperti tokoh masyarakat, ulama, ustad, karyawan, pejabat, aparat, dan warga.

Tradisi ruwahan ini dilakukan di hampir di setiap rumah warga di Desa Arang Limbung. Inti acara ruwahan adalah mengirimkan doa yang dilakukan pada bulan ruwah (bulan Sya’ban) dalam menyambut bulan suci Ramadan, bentuk kemanfaatan yang dapat adalah diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah melalui doa.

“Jadi mari kita kirim doa, kita doakan keluarga, saudara, kerabat, sahabat yang telah meninggal dunia semoga amal ibadah yang pernah dilakukan di dunia diterima disisi Allah SWT,” ucapnya.

Bentuk kirim doa ini dengan membaca ayat-ayat suci Alquran, surah yasin sebanyak tiga kali, tahlilan, kemudian dilanjutkan dengan doa-doa keselamatan, dan keberkahan untuk masyarakat.Setelah selesai acara kegiatan, barulah masyarakat bersama-sama duduk dengan tertib dan hikmat untuk menyantap hidangan yang telah dihidangkan oleh panitia ruwahan, remaja masjid, dan ibu-ibu untuk meletakkan makanan di atas dulang untuk disantap bersama warga yang baik dari keluarga maupun oleh tetangga sekitarnya.

Acara ruwahan kerap terjadi dengan moment yang begitu ramai, masjid dipenuhi dan dimakmurkan oleh warga sekitar, tokoh masyarakat, serta suara anak-anak kecil yang semakin membuat suasana kebersamaan dan kehangatan warga yang terjalin begitu hangat dan hikmat.

Untuk diketahui tradisi kebudayaan ini setiap tahun dilakukan oleh masyarakat Desa Arang Limbung. Sebab merupakan bentuk penghormatan terhadap arwah orang yang sudah meninggal dan merupakan warisan turun menurun. Ruah berarti arwah leluhur atau nenek moyang jadi ruwahan berarti bulan mengenang arwah leluhur atau nenek moyang.

Rino menyebutkan bahwa tradisi Ruwahan biasanyah berlangsung 1-2 pekan sebelum Ramadhan telah berusia ratusan tahun. Akan terus bertahan hingga kini di tengah perkembangan zaman. “Makna lebih dalam dari ruwahan adalah agar jiwa dan raga yang akan melakukan puasa, bersih secara lahir batin,” ujarnya. (den)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!