Saat Balita Ikut Berpuasa

Buah hati adalah pecontoh ulung. Termasuk ketika melihat orangtuanya berpuasa, si kecil jadi penasaran dan juga ingin mencoba. Keinginan itu membuat orang tua senang. Namun, perlu persiapan agar puasa pertama buah hati berjalan lancar dan berkesan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Keluarga menjadi pintu gerbang awal buah hati mendapat pelajaran berharga tentang kehidupan, termasuk mengajarkannya berpuasa. Namun, beberapa orang tua khawatir mengajarkan anak balitanya berpuasa. Sebab, buah hati masih terlalu kecil untuk menjalankan ibadah puasa. Terlebih di usia ini, ia masih membutuhkan asupan nutrisi dan gizi yang cukup untuk kembang tumbuhnya.

Namun, bagaimana jika balita ingin berpuasa? Seperti buah hati Wanti dan Anang yang berusia tiga tahun. Sang anak tiba-tiba meminta ikut menjalankan puasa. Awalnya, pasangan suami istri yang telah menikah selama empat tahun ini khawatir mengijinkan si kecil berpuasa. Apalagi anaknya tergolong suka ngemil hampir setiap jam.

“Saat meminta ikut berpuasa, saya dan suami sempat memberi pengertian bahwa ia belum kuat untuk berpuasa. Tidak apa ikut sahur, tapi pagi dan siang tetap harus makan. Tapi, ia justru menangis dan meminta untuk dibolehkan berpuasa,” ujarnya.

Melihat kesungguhan sang buah hati, Wanti dan Anang pun luluh. Keduanya menjelaskan mengenai puasa, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Siapa sangka, saat menjalankan puasa si kecil mampu bertahan hingga bedug Magrib tiba. Meski hanya bertahan selama tiga hari, tetapi mereka bangga atas pencapaian sang buah hati tersebut.

“Saya dan suami tidak menyangka ia bisa bertahan sampai bedug Magrib selama tiga hari, meski besoknya ia meminta untuk tidak menjalankan puasa lagi. Setidaknya, ia sudah mau belajar,” kata Wanti bangga.

Psikolog Isyatul Mardianti, M.Psi mengatakan keinginan buah hati berpuasa meski di usianya yang masih kecil didasari dari tahap mengamati yang dilakukan anggota keluarga selama bulan Ramadan. Mulai dari bangun dini hari, menyantap makanan, melaksanakan ibadah salat lima waktu, membaca Alquran, tidak makan selama 12 jam, hingga baru sibuk mempersiapkan buka di sore hari.

Biasanya keinginan ini baru mulai setelah hari pertama dan kedua puasa. Karena di hari pertama dan kedua, balita belum memiliki keinginan untuk ikut serta berpuasa. Tetapi, setelah mengamati ia mulai menangkap rasa. Ada kebahagiaan yang terlihat saat anggota keluarga berpuasa. Hingga akhirnya, ia pun memiliki keinginan yang sama untuk ikut melaksanakannya.

Tentu orang tua merasa bahagia dan antuasias melihat buah hatinya memiliki keinginan berpuasa. Namun, sebelum memperbolehkan balita menjalankan ibadah ini, sebaiknya melihat kondisi buah hati terlebih dulu.

“Apakah buah hati memang sedang dalam kondisi sehat. Atau, kondisi buah hati sedang tidak memungkinkan karena sedang sakit,” kata Isyatul.

Isyatul menuturkan hal-hal ini perlu menjadi perhatian orang tua saat buah hati mengatakan ingin ikut menjalankan puasa. Apalagi  masa balita masih dalam masa pertumbuhan. Masih membutuhkan asupan nutrisi dan gizi yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Jika anak dalam keadaan sehat, berat badan baik, tidak perlu ragu mengiyakan keinginan buah hati.

“Orang tua tinggal melihat saja apakah anak sanggup hingga Magrib atau puasa dilakukan secara bertahap,” tutur Isyatul.

Dosen Program Studi Psikologi Islam IAIN Pontianak ini mengungkapkan sangat baik jika anak memiliki keinginan dari dalam dirinya untuk berpuasa sejak usia dini. Meski ia belum memiliki kewajiban untuk menjalankannya. Jika di usia balita ia sudah tertarik, tidak ada salahnya orang tua mengenalkan dan mengajarkan buah hati tentang ritual dan rukun yang ada selama bulan Ramadan.

Lantas, hal apa saja perlu dipersiapkan? Isyatul menjelaskan puasa dimulai saat sahur. Anak harus bangun lebih awal. Agar anak tidak ngantuk dan rewel saat sahur, sejak malam orang tua sudah mengajak melakukan niat bersama dan tidur lebih awal.

“Atau, sambil persiapan tidur orang tua bisa menceritakan tentang kegiatan puasa, manfaat dan lainnya. Hal ini akan membuat anak semakin penasaran dan tertarik, bahkan tidak sabar untuk melaksanakannya,” ungkapnya.

Saat menjalankan puasa dan anak mulai rewel karena lapar, orang tua tidak perlu memaksakan hingga memintanya untuk bertahan hingga Magrib tiba.

“Tidak apa jika anak meminta berbuka. Hindari mengejek anak. Hal itu akan melemahkan semangatnya. Lebih baik menyemangati dan mengapresiasi puasa yang sudah dilakukan anak. Orang tua bisa memberi semangat dengan berkata ‘Tidak apa hari ini sampai jam 9 pagi, siapa tahu besok lebih lama ya, Nak’. Kata-kata ini akan lebih memotivasi anak,” tambah Isyatul.

Saat anak memutuskan untuk berhenti berpuasa, orang tua bisa mengajaknya mengobrol dengan menanyakan alasan anak memilih berhenti. Padahal, telah beberapa hari sudah menjalankan puasa. Saat anak menjelaskan, orang tua sebaiknya memahami tanpa perlu merasa kecewa.

“Tidak perlu juga sampai mengancam akan mencabut hadiah yang sudah terlanjur diiming-imingi dengan tujuan agar anak tetap mempertahankan puasanya. Tidak tepat cara seperti itu,” pungkasnya.**

loading...