Saatnya Anak Pisah Kamar Tidur

Ilustrasi

Tak selamanya anak tidur bersama orangtua. Orangtua hendaknya mengajari buah hati untuk tidur sendiri sedini mungkin. Karena, dampaknya sangat baik mereka.

Oleh : Siti Sulbiyah

Jumiana mulai membiasakan anaknya, Uwais, tidur di kamar sendiri meski usia sang anak baru dua tahun lebih. Langkah ini ia ambil supaya ada ruang privasi bagi dirinya dan suami. Terlebih saat ini ia tengah mengandung anak kedua.

“Karena sekarang sudah mau punya adek, persiapan kalau lahiran, dia (Uwais, red) biasa tidur tanpa ditemani mamanya,” ungkap Jumiana.

Jumiana memang telah mempersiapkan satu kamar khusus untuk anak pertamanya itu. Di kamar itu, barang-barang pribadi Uwais, seperti buku bacaan, diletakkan di sana. Di kamar itu pula, anak laki-lakinya itu sering bermain. Sengaja ia lakukan itu agar anaknya terbiasa beraktivitas di kamar sendiri.

Jumiana mengaku tak punya kendala berarti dalam membiasakan anaknya tidur terpisah. Uwais, dinilainya tidak takut untuk tidur sendiri, termasuk ketika malam hari. Hanya ketika akan tidur, ia harus menemani hingga sang anak tertidur lelap.

“Sebelum tidur biasanya ditemani karena dia minta dikelon. Kalaupun sadar tengah malam, dia tidak histeris mencari mamanya. Palingan bangun buat minta dikelon lagi,” tutur dia.

Menurut Isyatul Mardiyati, M.Psi Psikolog, memisahkan kamar orangtua dan anak, akan berdampak baik bagi buah hati. Beberapa manfaat tersebut, yakni, durasi tidur anak akan lebih lama, anak jadi terbiasa mandiri, serta menumbuhkan keberanian. Di sisi lain, dengan pisah tidur dengan anak, orangtua bisa menjaga ruang privasinya.

“Dikhawatirkan ketika tidur bersama orangtua, ada aktivitas antara suami istri yang tidak seharusnya ia lihat. Kendati pun usianya masih bayi, namun hal ini bisa berdampak kurang baik bagi anak,” ungkap Dosen Psikologi Islam di IAIN Pontianak ini.

Isyatul mengatakan tidak ada batasan usia yang tepat untuk memisahkan kamar dengan anak. Namun, kebanyakan anak akan sulit pisah kamar dengan orangtua ketika usianya di atas satu tahun. Dari referensi yang pernah ada, menyatakan bahwa pisah kamar justru baik dilakukan ketika anak masih bayi, atau di bawah satu tahun.

Dia menjelaskan bayi yang terpisah tidurnya dengan orangtua, dapat mengurangi risiko mengalami sudden infant death syndrome (SIDS). SIDS adalah kematian mendadak pada bayi sehat usia di bawah setahun secara tidak terduga atau tanpa ditandai gejala apa pun. Faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, salah satunya karena tubuh bayi tertimpa atau terjepit orangtuanya ketika sedang tidur.

“Kematian mendadak pada bayi bisa juga terjadi karena kelalaian orangtua ketika tidur. Entah saat tidur orangtua lasak sehingga menghimpit bayi, atau bayi ketutup bantal, atau hal lain yang membahayakan bayi. Nah, risiko seperti itu dikurangi, dengan pisah ranjang atau kamar,” jelas dia.

Namun terkadang, lanjut dia, ada orangtua yang justru tak ingin berpisah kamar tidur dari anak, dengan alasan agar mudah menenangkan saat anak tiba-tiba menangis ketika bangun di tengah malam. Untuk hal ini, diperlukan kebijaksanaan orangtua dalam menilai kesiapan anaknya untuk pisah kamar.

“Tiap kasus pasti beda-beda. Jadi kebijakan masing-masing, karena mungkin tiap orang punya feeling good kapan kira-kira pisah tidur dengan anak. Namun ada baiknya, jika usia anak tidak lebih dari 5 tahun, baru diajarkan untuk pisah kamar,” tutur dia. **

loading...