Sabu Lolos Pemeriksaan X-Ray Bandara

BARANG BUKTI: Gubernur Kalbar Sutarmidji saat menunjukkan KTP palsu yang digunakan pelaku untuk menyelundupkan sabu-sabu.

Polda Bongkar Penyelundupan 26 Kg Sabu Asal Malaysia

PONTIANAK – Jajaran Kepolisian Daerah Kalimantan Barat kembali membongkar sindikat penyelundupan narkotika antarnegara sebanyak 26 kilogram sabu. Tiga orang kurir berhasil diringkus. Dua di antaranya warga Malaysia dan satu orang Indonesia.

Dua kurir warga Malaysia tersebut yakni, Kelvin Kho Ngiap dan Jackson Tan Liang Yew. Sedangkan kurir warga Indonesia bernama Ahmad Sajali, warga Banjar Selatan, Kabupaten Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Mereka diamankan pada 23 Agustus 2019 di dua lokasi berbeda. Dua warga Malaysia ditangkap di sebuah hotel di Jalan Ahmad Yani dengan jumlah barang bukti sebanyak tujuh kilogram sabu. Kelvin dan Jackson menyelundupkan sabu itu melalui jalur penerbangan Kuala Lumpur tujuan Pontianak. Ironisnya, sabu yang dikemas menggunakan bungkus teh itu lolos pemeriksaan x-ray kargo bandara internasional Supadio.

Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono mengatakan, sindikat penyelundupan barang haram tersebut terungkap setelah jajaran Polresta Pontianak mendapat informasi pengiriman narkoba jenis sabu dari Malaysia melalui Kuala Lumpur tujuan Pontianak yang dibawa oleh dua kurir.

Dari informasi itu, polisi kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan dua warga Malaysia di sebuah hotel di Jalan Ahmad Yani, Pontianak dan menyita barang bukti.

“Jadi barang haram (narkoba) ini dibawa langsung oleh warga negara Malaysia ke Pontianak menggunakan jalur penerbangan. Selanjutnya dilakukan penangkapan berikut barang buktinya,” kata Didi Haryono, dalam keterangan persnya, kemarin.

Di hari yang sama, polisi juga menangkap seorang kurir yang diduga akan mengirim narkoba menggunakan jalur air melalui pelabuhan rakyat Nipah Kuning. Pelaku diamankan bersama barang bukti sebanyak 19 kilogram sabu.

Selain mengamankan tiga tersangka dan barang bukti berupa narkoba jenis sabu sebanyak 26 kilogram, polisi juga menyita paspor dan empat KTP palsu milik Ahmad Sajali.

Dengan penangkapan ini, Didi mengklaim telah menyelamatkan setidaknya 208 ribu orang dari penyalahgunaan narkoba.

“Jika kita asumsikan satu gram bisa digunakan delapan orang maka 208 ribu orang terselamatkan dari bahan adiktif jenis sabu. Untuk itu, ini menjadi atensi kita semua untuk benar-benar anti narkoba karena berbahaya,” terangnya.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji mengatakan, pemprov akan menyampaikan masalah narkoba ini ke kementerian luar negeri agar dapat dikoordinasikan ke pihak Malaysia. “Sembilan puluh sembilan persen narkoba berasal dari Malaysia. Ini akan saya sampaikan ke kementerian luar negeri untuk dikoordinasikan kepada pihak Malaysia,” katanya.

Sutarmidji mengaku miris karena penyelundupan narkotika ini tidak hanya melalui jalur darat, tetapi juga melalui jalur udara atau penerbangan. “Ini kan satu hal yang sangat miris bagi kita. Ada juga yang masuk melalui pintu-pintu resmi di Entikong. Aparatur kita yang di depan, pelabuhan, border, harusnya lebih cekatan, lebih teliti. Jangan sampai narkoba masuk dari pintu resmi. Itu menunjukkan ketidakseriusan kita menangkal hal-hal seperti itu,” katanya.

Kasus ini dinilai menjadi preseden yang buruk. “Jika narkoba yang sangat berbahaya saja bisa lolos, apalagi yang lain. Perdagangan-perdagangan ilegal pasti lebih mudah masuknya. Dibiarkan. Saya akan sampaikan ke kementerian masing-masing,” sambungnya.

Terhadap kasus narkotika, Sutarmidji meminta pihak penegak hukum serius dan memberikan tindakan yang maksimal. “Kejaksaan dan pengadilan, sudah harus serius. Jangan sampai ada yang dihukum rendah, hingga akhirnya tidak ada efek jera,” tegasnya.

Upah Menggiurkan

Bisnis narkoba tidak hanya memberikan keuntungan yang besar bagi pelaku utama, tetapi juga bagi para kurir. Ahmad Sajali misalnya. Pemuda asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini rela meninggalkan anak istrinya untuk menjadi kurir narkoba.

Ahmad yang sehari-hari bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel di kota kelahirannya itu sudah dua kali menjadi kurir narkoba dengan upah yang cukup fantastis. Antara Rp75 juta-Rp100 juta.

“Saya sudah dua kali menjadi kurir. Yang pertama, sekitar dua tahun yang lalu. Saya dikasih upah Rp75 juta untuk mengantar narkoba sebanyak satu kilogram ke Jakarta,” katanya saat ditemui Pontianak Post.

“Yang kedua, saya dijanjikan upah Rp100 juta lebih, untuk membawa barang itu ke Makasar,” sambungnya. Ahmad berencana membawa sabu seberat 19 kilogram itu ke Makasar menggunakan jalur laut melalui Pelabuhan Rakyat Nipah Kuning.

Diakui Ahmad, kedatangannya ke Pontianak sudah sudah ada yang mengatur. Ia berkomunikasi menggunakan jalur BBM dengan sesorang yang biasa ia panggil Bos.

“Semua yang mengatur bos. Mulai dari penginapan selama seminggu di Pontianak, sampai mengambil barang itu,” katanya.

Selain uang kebutuhan selama di Pontianak, pria kelahiran Paringin 10 November 1995 itu juga dibekali tiga kartu identitas palsu untuk mengelabui petugas. Hal serupa juga diakui duo warga Malaysia, Kelvin dan Jackson. Keduanya mengaku mendapat upah RM500 per satu kilogramnya.
(arf)

Read Previous

Wujudkan Pengelolaan Zakat Profesional

Read Next

26 Tahun Lagi Peserta Panjat Pinang Adalah Robot

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *