Sahabat Sampai Mati; Mencoba Melawan Arus

PONTIANAK – Satu lagi film karya sineas lokal Kalimantan Barat yang akan tayang di bioskop, yaitu “Sahabat Sampai Mati”. Kali ini benar-benar 100 persen mengandalkan talenta lokal. Dari produser, sutradara, aktor-aktris, hingga kru, serta seting lokasi.Gema Andika, sang sutradara mengatakan, pihaknya benar-benar ingin mengangkat bakat-bakat dari Kalbar, sehingga kesan natural dari film ini benar-benar berasa.

Hebatnya, sebagian dari para pelakon film ini tidak berlatar belakang seni peran.

“Kami melakukan audisi dan casting beberapa minggu untuk mencari pemeran yang benar-benar cocok. Audisinya terbuka untuk semua orang. Akhirnya kami pilih para pemain. Ada yang backgroundnya karyawan bank, mahasiswa, dan lain-lain,” ungkap dia saat peluncuran judul dilm ini di Kafe Upgrade, Pontianak, Rabu (4/9) malam.

Rencananya film ini akan tayang tahun depan. Proses syuting sendiri akan dimulai pada bulan ini. Lokasinya di Kabupaten Sambas (Temajuk dan Aruk), Singkawang, Pontianak dan Jakarta. Gema tidak muluk-muluk. Pihaknya hanya menargetkan 20.000 penonton untuk film bergenre drama ini.

“Kami bersyukur bisa lebih. Targetnya bioskop-bioskop di Kalbar dan beberapa kota lain yang banyak warga Kalbarnya. Kami juga akan beraudensi ke Kemendikbud untuk menceritakan project ini,” jelas dia.

Sahabat Sampai Mati sendiri dapat dibilang melawan arus. Saat industri perfilman tanah air dituntut oleh pasar untuk memproduksi drama percintaan dan kisah hantu-hantuan. Film ini enggan menyelipkan kisah cinta di dalamnya, kendati karakter-karakter di dalamnya adalah anak muda.

Penulis skenario film ini, Mada menjelaskan, film ini sejatinya drama persahabatan. Namun banyak mengandung nilai-nilai edukasi. Film ini juga mengupas problematika di Kalbar, seperti perdagangan manusia di perbatasan, nasionalisme dan hubungan antar-suku. Film ini juga melukiskan semangat bersekolah anak-anak di perbatasan, di tengah minimnya fasilitas pendidikan.

Secara singkat, film ini tentang enam orang sahabat dengan kepribadian dan latar belakang berbeda. Mereka adalah Jasmin, Dendi, Siska, Ridho, Rudolf dan Iman. Namun tokoh sentralnya adalah Jasmin, seorang gadis kota penderita kanker darah yang kaya raya. Sebelum mati, dia ingin berbuat baik kepada banyak orang. Singkat cerita, sampailah dia ke desa pedalaman di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Sebuah tempat dimana, orang-orang lebih memilih untuk menjadi TKI dan mengabaikan pendidikan.

Ditemani oleh kelima sahabatnya, Jasmin mencoba untuk mengedukasi masyarakat kampung. Namun upayanya mendapat hambatan dari para preman di sana. Juga orang-orang yang mendapat keuntungan dari perdagangan manusia di perbatasan. Ending film ini tragis, sekaligus bikin terharu bangga. Ketika kematian jasmin akibat kanker yang dideritanya membuat seluruh warga kampung sadar akan pentingnya pendidikan.

Film ini sendiri mendapat kritikan positif dari pakar pendidikan, Aswandi. Menurutnya, film ini patut diapresiasi.

“Tidak banyak orang yang mau membuat film seidealis ini. Dengan nilai nasionalisme dan pendidikan yang tinggi. Apalagi film inii bikinan anak-anak Kalbar. Masyarakat Kalbar, bahkan Indonesia harus menontonnya karena muatannya sangat positif,” ungkapnya.

Sahabat Sampai Mati diproduksi oleh Gema Pictures dan Pixma Production. Diproduseri oleh Jaya Larembi, dengan stradara Gema Andika dan penulis naskah Mada. Para pemainnya adalah; Prisma Jaya (Jasmin), Andy Kurniawan (Iman), Aldino Roni (Ridho), Oka Sihotang (Rudolf), dan Rizky (Dendi). Para aktor senior Kalbar juga turut meramaikan film ini. (ars)

Read Previous

PLN Tanam 500 Bibit Pohon

Read Next

Nikmati Malam di Pontianak, Jokowi Makan Empek-Empek

Tinggalkan Balasan

Most Popular