Saling Lempar di Perang Ketupat, Bupati Paolus Kena Lagi

PERANG KETUPAT: Puncak Festival Budaya Keraton Pakunegara Tayan 2019 berlangsung pada Rabu (27/11). SHANDO SAFELA/ PONTIANAK POST

Puncak Festival Budaya Pakunegara Tayan 2019

Puncak Festival Budaya Keraton Pakunegara Tayan 2019 berlangsung semarak, Rabu (27/11). Kemarin menjadi hari yang ditunggu-tunggu karena digelar prosesi Mande Bedil Kerajaan dan Perang Ketupat.

IDIL AQSA AKBARY, Tayan

Warga tumpah ruah menghadiri kegiatan yang dimulai di Keraton Pakunegara Tayan sekitar pukul 08.00 WIB. Dalam prosesi mande bedil kerajaan dan perang ketupat, rombongan kerajaan beserta tamu kehormatan menaiki kapal tongkang menyusuri Sungai Tayan. Sementara warga berbondong-bondong menyaksikannya di sepanjang pinggiran sungai tersebut.

Sebelum perang ketupat dimulai, dilangsungkan prosesi mande bedil atau memandikan benda-benda pusaka milik kerajaan. Usai itu, barulah dilangsungkan perang ketupat. Aksi saling lempar ketupat berlangsung seru. Warga antusias mengikuti kegiatan ini dan bahkan Raya Tayan XIV Gusti Yusri bersama Bupati Kabupaten Sanggau Paolus Hadi juga tak ketinggalan ikut serta diikuti para tamu undangan lainnya.

Raya Tayan XIV Gusti Yusri menjelaskan, perang ketupat adalah simbolik dari memerangi bala atau mara bahaya sekaligus sebagai wujud sukacita atas hasil panen dan hasil pertanian. Perang ketupat dilakukan oleh dua pihak yakni antara masyarakat di daratan dengan yang di sungai menggunakan perahu atau alat transportasi sungai lainnya.

“Perang ketupat adalah sebuah tradisi dari Kerajaan Tayan yang sudah dikenal dari zaman dahulu kala dan memiliki nilai filosofi yang tinggi,” ungkapnya kepada awak media.

Di zamannya, kata dia, perang ketupat biasanya dilaksanakan ketika akan menyambut tahun baru Islam atau 1 Muharam. Dan selain itu juga bisa dilaksanakan di saat lainnya, jika memang diperlukan. Tradisi perang ketupat selalu dirangkai dengan prosesi memandikan benda-benda pusaka milik kerajaan.

“Dalam satu rangkaian itu memandikan benda-benda pusaka dan juga diikuti dengan perang ketupat, sebagai simbolik dari memerangi mara bahaya,” jelasnya.

Namun untuk saat ini, kedua tradisi itu dikemas dengan festival sehingga agak lebih sederhana. Prosesi ini bisa dikatakan akulturasi dari beberapa etnis yang ada. Seperti tabuhan gendang dan gong yang menjadi bagiannya dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak.

“Suku Dayak di Kampung Empanis namanya, itu dari zaman dahulu kala juga tugas atau bagian dari mereka, tidak bisa diperankan oleh siapapun (tabuhan musiknya) selain masyarakat suku daya di Kampung Empanis,” paparnya.

Raja bergelar Panembahan Anom Pakunegara itu mengatakan, selain tamu-tamu kerajaan se-Kalbar, hadir pula tamu dari luar negeri seperti Swedia, Australia-New Zealand, Brunei Darussalam dan Malaysia.

Pada kesempatan sama, Bupati Sanggau Paolus Hadi mengungkapkan, rangkaian Festival Budaya Keraton Pakunegara Tayan 2019 ini didukung penuh oleh Pemkab Sanggau. Kegiatan ini rutin digelar tiap tahun dan sudah didukung pemerintah sejak beberapa tahun yang lalu.

“Setiap tahun saya lihat semakin maju, semakin banyak yang mendukung. Peran serta masyarakat terutama dalam lempar ketupat ini, saya dengar justru masyarakat yang menyiapkan ketupat per dusun. Mereka bantu, mereka rasa ini bagian dari yang mereka banggakan,” ungkapnya.

Harapannya ke depan, kegiatan ini bisa semakin ramai dikunjungi. Bisa dikemas lebih baik lagi hingga menjadi even yang besar. “Karena ini strategis betul, tidak jauh dari Pontianak, lintasan trans kalimantan, tadi saya lihat ada beberapa turis dari beberapa negara yang datang. Dan tentu juga didukung para raja-raja se-Kalimantan,” katanya.

Paolus Hadi mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Ia sendiri bahkan merasakan serunya sensasi saling lempar di perang ketupat. “Sudah ada lima enam kali saya lempar dan dua kali saya kena (lemparan), tapi saya berpikir itulah rezeki, tahun lalu juga kena,” tutupnya.

Salah satu warga Evan juga merasakan serunya mengikut perang ketupat. Ia yang datang langsung dari Kota Pontianak merasa, event budaya seperti ini perlu diangkat atau diperkenalkan lebih luas lagi.

“Itu seru kita saling melempar (ketupat) satu sama yang lain, ada dua kubu, favorit saya saat saling serang menyerang, saya kena lempar tiga kali,” ucapnya seraya tertawa. (*)

 

Read Previous

Ruko Terbakar, Rugi Rp3 Miliar

Read Next

OJK Ungkap Investasi Ilegal Mata Uang Kripto

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *