Santai Menyikapi Sindiran Rekan Kerja

Entah disengaja atau tidak, terkadang perkataan rekan kerja membuat tersinggung atau merasa tersindir. Telinga terasa panas, apalagi ucapannya cukup pedas. Hati berang, pikiran pun jadi tak tenang. Bagaimana menyikapi sindiran tersebut?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Mia (28) pernah merasa mendapat sindiran dari rekan kerja. Namun, dia berusaha maklum dan tak terpancing. Bahkan, memilih mengalah dan terus mengevaluasi diri.

“Tujuannya, menghormati yang bersangkutan. Mungkin dari beberapa sindiran yang diberikan ada benarnya,” ujar Mia.

Namun, kesabarannya mulai berkurang karena sindiran itu makin sering dan makin pedas. Tak hanya melontarkan secara langsung, ada juga yang menuliskan sindiran di media sosial.

Mia semakin bingung karena ada teman lainnya yang berubah sikap.

“Bahkan, perubahan tersebut juga dilakukan salah satu pimpinan di kantor,” tambahnya.
Mental Mia pun runtuh. Beruntung ada rekan kerja lain yang memberinya semangat.

“Sempat ingin melakukan hal serupa (membalas). Tapi saya urungkan,” kata Mia.

Psikolog Ghulbuddin Himamy, M.Si mengatakan aksi sindir biasa terjadi di lingkungan kerja. Terbagi atas dua, sindiran halus dan kasar.

Aksi sindir bisa terjadi karena pihak yang disindir melakukan kesalahan tetapi tetap tak merasa bersalah.

“Ada juga yang menyindir karena iri hati terhadap rekan,” kata pria yang akrab disapa Imam ini.
Kendati demikian, lanjut Imam, sebaiknya sindiran yang dilontarkan bertujuan mengkritik agar yang bersangkutan berubah ke arah positif. “Bukan karena niat ingin menjatuhkannya. Sindiran dengan niat ingin menjatuhkan berpotensi memengaruhi hubungan dengan rekan kerja tersebut,” ungkap Iman.

Menurut Imam, tak semua bisa menerima sindiran dengan baik. Ada yang merasa sindiran sebagai bentuk kepedulian. Tapi, ada pula yang merasa sedih dan mencap yang menyindir sebaai orang jahat. Akhirnya tumbuh kebencian.

Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini menuturkan ketika merasa tersindir,  bisa menyaring, sindiran itu karena ada kesalahan diperbuat atau ada unsur iri. Jika diperkirakan karena iri, abaikan saja. Teruslah berprestasi dan berbenah diri.

“Namun, jika sindiran yang diterima karena kesalahan yang diperbuat, cobalah untuk mengoreksi apa yang salah dalam diri,” ujar Imam.

Imam menyarankan agar berbesar hati.  Dosen Psikologi Poltekkes Kemenkes Pontianak ini menambahkan mental akan rapuh jika terus memikirkan sindiran dari orang lain. Akhirnya mempengaruhi kinerja, bahkan menjadi stres dan depresi.

Dia menambahkan sebaiknya bekerja dengan baik, cari teman sebanyak-banyaknya, serta menjadi pribadi yang ramah dan menyenangkan.

“Namun, perlu diingat juga, apa yang Anda lakukan tidak mungkin disukai oleh semua orang. Jadilah diri sendiri, tetap berpikir positif dan sosok pribadi yang kuat mental,” saran Imam.**

Read Previous

Ratusan Ribu Warga Membludak Saksikan Atraksi Tatung   

Read Next

Cap Go Meh Singkawang, Wujud Nyata Budaya Jadi Pemersatu Bangsa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *