Santyoso: Ekspor CPO Lebih Untung Lewat Perbatasan

PONTIANAK – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar Santyoso Tio menilai, seharusnya pintu perbatasan bisa dimanfaatkan untuk mengekspor komodita primer Kalbar. Menurutnya, untuk mendongkrak ekspor CPO tak harus menunggu Pelabuhan  Kijing beroperasi. Kalbar bisa memanfaatkan Pelabuhan Senari, Sarawak yang punya kapasitas 16.000 DWT sebagai tempat pengapalan. Dari PLBN Entikong, jarak ke Senari hanya satu jam. Sehingga biaya logistik menjadi jauh berkurang. Ketimbang harus mengitari lautan menuju pelabuhan-pelabuhan di Sumatera dan Jawa.

Apalagi Pelabuhan Senari menghadap langsung ke Tiongkok dan negara-negara Asia Timur lainnya yang menjadi pasar terbesar CPO Kalbar. Ujungnya harga tandan buah segar (TBS) sawit akan naik. “Tingginya biaya logistik tujuan ekspor-impor selama ini menjadi salah satu faktor inefisiensi ekonomi di kita. Daya saing kita menjadi sangat lemah dibanding provinsi lain, apalagi negara lain. Untuk meningkatkan ekspor, kuncinya adalah menurunkan biaya logistik,” imbuhnya.

Faedah utama lainnya, ekspor CPO akan tercatat di Kalbar. Begitu pula pajak ekspor akan masuk ke PAD provinsi ini. Sebenarnya cara ini sudah diterapkan oleh grup Sinar Mas yang mengeskpor CPO melalui pintu perbatasan Badau, Kapuas Hulu. Namun skalanya masih kecil. Menurutnya, pemerintah daerah harus mendorong agar Kalbar mendapatkan pajak dari ekspor ini. Betapa tidak, sebanyak 3,4 juta ton CPO Kalbar diekspor dalam setahun. Nilainya puluhan triliun.  “Sambil menunggu Pelabuhan Kijing beroperasi, Entikong dan pintu perbatasan lain bisa mejadi pelabuhan darat. Tentu ini perlu kebijaksanaan dan dukungan dari pemerintah pusat. Karena Kalbar sudah terlalu lama dirugikan,” sambung dia. (ars)