Sebulan Tampung 500 Kilogram Sampah Warga

EKONOMIS: Pengelola Bank Sampah Rosella Sulviawati memperlihatkan berbagai produk kerajinan dari sampah yang dibuatnya bersama warga sekitar. ARISTONO/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Plastik kemasan seperti pembungkus kopi, susu, dan bubuk minuman lainnya sering dijumpai di sekitar lingkungan. Begitu juga dengan limba anorganik lainnya. Sayangnya, limbah tersebut biasanya berakhir di tempat sampah dan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Menilik hal itu, Lembaga Rosella berinisiatif mengolah limbah menjadi beragam produk bernilai ekonomis.

Bank Sampah Rosella telah berdiri dari tahun 2013 ini, merupakan suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah. “Lembaga ini didirikan untuk membantu mengedukasikan dan mensosialisasikan tentang pemilahan sampah, khususnya sampah kering atau anorganik,” ujar Sulviawati, pengelola Bank Sampah Rosella.

Dalam sebulan lembaga ini bisa menyerap 500 Kg sampah warga. Sampah-sampah tersebut kemudian dipilah mana yang bisa dikreasikan menjadi barang kerajinan mana dan mana yang cukup dijual dalam bentuh mentah. Kerajinan dari plastik misalnya bisa dijadikan berbagai toples, hiasan bunga dan lainnya. Sedangkan kertas koran dapat disulap menjadi tempat tisu, kotak penyimpanan, vas bunga dan lainnya. Begitu juga perca kain. Mereka yang mengerjakan adalah ibu-ibu warga sekitar.

Kendati demikian, Ia mengakui pihaknya masih sulit memasarkan produk tersebut. “Produk yang cukup banyak dicari baru pokok telok dan manggar sebagai hiasan resepsi kawinan. Sedangkan yang lain jarang pembelinya. Mungkin karena harganya sulit bersaing dengan produk industri. Semoga dengan adanya bantuan mesin ini, harga kita bisa bersaing,” pungkasnya.

Konsep Bank Sampah telah diterapkan di berbagai kota di Indonesia. Anggota DPRD Kota Pontianak Zulfydar Zaidar Mochtar menyebut penerapan Bank Sampah sangat tepat dilakukan di kota ini. Selain sebagai strategi untuk mengatasi permasalahan sampah, juga sebagai pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Jadi masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari menjual sampah. Selain itu pengepul dan pengolah juga mendapatkan keuntungan ekonomi dari produksinya,” ujar dia.

Namun, kata dia, perlu ada sistem terpadu yang dikoordinasikan oleh Pemerintah Kota Pontianak hingga ke tingkat RT dan RW. “Ada satu atau dua Bank Sampah induk yang dikelola BUMD atau swasta. Tetapi di masyarakat ada Bank Sampah cabang, bisa tingkat RT, RW atau kelurahan. Masyarakat bisa menjual sampah buangan rumah tangga ke Bank sampah. Jadi ada pendapatan,” sebutnya.

Selain itu, perlu juga ada dukungan pembiayaan dari bank daerah seperti Bank Kalbar dan Bank Pasar (BPR Kota Pontianak). Hal itu untuk menimbulkan kepastian dan jaminan pembiayaan. Sehingga ada kepastian dari masyarakat sampah yang mereka kumpulkan akan dibeli. Ujungnya masyarakat akan antusias untuk mengelola sampah rumah tangganya masing-masing.

Di Pontianak, kata dia, saat ini sudah ada beberapa Bank Sampah yang sukses dikelola oleh kelompok masyarakat. Hal tersebut bisa menjadi pilot project bagi Pemkot untuk mengembangkannya ke titik-titik lain di Pontianak. Selain itu, Pemkot juga bisa meniru keberhasilan pengelolaan Bank Sampah di kota-kota lain di Indonesia yang sudah terbukti berhasil. Baik dalam pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, maupun peningkatan ekonomi warga.

“Kalau perlu kita buatkan Perda-nya. Karena untuk membentuk budaya bersih tidak cukup hanya dengan memberikan sanksi kepada mereka yang melanggar saja. Tetapi juga ditambah cara lain, yaitu dengan memotivasi masyarakat agar sadar kebersihan dan kesehatan. Caranya dengan konsep Bank Sampah ini. Masyarkat akan terpacu untuk mengelola sampah karena ada manfaat ekonomi juga yang didapat,” pungkasnya. (ars)

 

loading...