Segalanya Karena Pembelajaran

Oleh: Aswandi

PEMBELAJARAN merupakan prediktor penting dalam sebuah peradaban. Pembelajaran efektif terbukti mampu membuat perubahan bermakna, memutus mata rantai kemiskinan dan kemelaratan secara lebih cepat dan pasti, namun sebaliknya pembelajaran tidak atau kurang efektif, tidak saja memperlambat dan menghambat proses perubahan, ia justru melahirkan kebodohan dan ketidakberdayaan.

Martin Seligman mengatakan, “ketidakberdayaan adalah proses yang dipelajari”.  John Maxwell menegaskan “The first lose often is not the biggest lose”, artinya kegagalan pertama tidak selalu menyebabkan kegagalan terbesar kita, boleh jadi kegagalan pertama justru menjadi kesuksesan besar kita, semua ini tergantung pada respons kita (respons way), antara lain melalui proses pembelajaran.

Charles Darwin mengatakan bahwa “existensi atau kemampuan bertahan hidup manusia bukan karena ia memiliki kekuatan, melainkan kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi sebagai dampak dari proses belajar yang dialaminya”.

Pendapat senada disampaikan oleh John C. Maxwell (2013) dalam bukunya berjudul “Sometimes You Win Sometimes You Lose is Learn”, ia menyatakan bahwa kadang-kadang menang atau sukses, dan kadang-kadang kalah atau gagal, semua tergantung pada belajar (learn).

Periode sebelum lahirnya Rasulullah Saw, dikenal sebagai era atau zaman jahiliah, pada waktu itu perilaku manusia sangat tidak beradab. Sejak kecil baginda Rasulullah SAW. melihat dan merasakan suasana tidak nyaman dalam kehidupan masyarakat dan berusaha untuk mengubah kebiadaban masyarakat menjadi beradab, namun kurang berdaya, beliau pergi ke Gua Hiro berharap mendapat petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT.

Setelah memanjatkan doa, Allah SWT mewahyukan firman-Nya, “Iqra’, ya Muhammad, Dijawab oleh Rasulullah SAW, “Saya tidak tahu membaca, dan seterusnya”. Makna dari dialog tersebut adalah lakukan perubahan melalui pembelajaran, khususnya melalui literasi membaca. Rasulullah SAW melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Hanya dalam waktu selama 20 (dua puluh) tahun terjadi perubahan besar dalam masyarakat, yang dulunya tidak beradab menjadi masyarakat beradab dan bermartabat.

Dari waktu ke waktu, manusia semakin tidak atau kurang paham akan masa depannya. Thomas Alva Edison mengatakan, “kita tidak tahu sepersejuta persen (1/1.000.000) pun tentang sesuatu”. Menurut penulis terlalu berlebihan ketika bapak presiden mengatakan bahwa alasan beliau memilih Nadiem Anwar Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI karena dinilai oleh beliau Bapak Nadiem paham masa depan.

Pakar masa depan (Futurolog) menggambarkan masa depan, antara lain: (1) dunia berubah dengan laju semakin cepat; (2) kehidupan, masyarakat dan perekonomian menjadi lebih kompleks; (3) sifat dasar pekerjaan berubah sangat cepat; (4) jenis-jenis pekerjaan menghilang dengan kecepatan tak terbayangkan; dan (5) di era ketidakpastian ini, masa lalu semakin tidak dapat dijadikan pedoman bagi masa depan”, dikutip dari Rose dan Nicholl (2006) dalam bukunya “Accelerated Learning for The 21st Century”.

Jamil Salmi, seorang pakar pendidikan dari Bank Dunia menyatakan bahwa akan ada sekitar 700 profesi di dunia sekarang ini hilang, ada pekerjaan baru lainnya yang dibutuhkan”, dikutip dari Republika, 7 februari 2020.  Fenomena lain, sebanyak 65% siswa saat ini bakal mendapat pekerjaan dimana pekerjaan untuk mereka belum ada sekarang ini.

Fenomana kehidupan seperti itu, sering kali membuat kita merasa cemas akan masa depan. Dan fenomena tersebut tidak dapat dihadapi melalui pembelajaran biasa-biasa saja atau conventional learning, melainkan dihadapi melalui pembelajaran cepat atau accelerated learning.

Carl Gustav Jung (2002) dalam bukunya “The Undiscovered Self” mengatakan bahwa “dari sejak dahulu kala hingga saat sekarang ini manusia menatap masa depan dengan perasaan cemas”. Selama manusia mau belajar, maka tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan ancaman masa depan yang mencemaskan itu. Jadi, jawabannya adalah mulai hari ini harus ada kesadaran kolektif kita bahwa “Segala sesuatu karena Pembelajaran”.

John C. Maxwell (2013) menjelaskan secara singkat dimensi pembelajaran efektif yang mampu mengantarkan keberhasilan, yakni sebagai berikut: (1) the spirit of learning is humility, (2) the foundation of learning is reality, (3) the first step of learning is responsibility, (4) the focus of learning is improvement; (5) the motivation of learning is hope; (6) the pathway of learning is teachability; (7) the catalyst for learning is adversity; (8) opportunities for learning is problems; (9) the price of learning is change; (10) the prespective of learning is bad experiences; (11) the price of learning is change; and (12) the value of learning is maturity.

Kita sering lupa bahwa, filosofis pembelajaran menyatakan bahwa mengajar itu adalah penting, namun belajar jauh lebih penting dan yang terpenting adalah bagaimana anak belajar, bukan guru atau pendidik mengajar. Belajar masa depan adalah belajar apa saja, belajar dimana saja, dan belajar kapan saja sebagaimana digagas oleh bapak Nadiem selaku Mendikbud RI melalui kebijakan merdeka belajar.

Esensi dari sekolah cerdas (intelligence school) adalah belajar terus menerus (continuos learning). UNESCO menegaskan, yang terpenting adalah bagaimana anak belajar.

Pengajaran adalah upaya membelajarkan siswa, sementara belajar adalah pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si belajar.

Lebih dari 2400 tahun silam, Confusius menyatakan; “Yang saya dengar, Saya lupa; Yang saya lihat, saya ingat; Yang saya kerjakan, saya pahami”. Asumsi Confusius tersebut menegaskan bahwa Learning by doing sangatlah penting.

Vernon A. Magnesen; “Kita belajar; 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan”.

Peter Kline; “Belajar akan efektif, jika dilakukan dan suasana menyenangkan”. Bagi Indonesia pembelajaran menyenangkan menimbulkan pertanyaan besar karena dari hasil penilaian PISA terhadap siswa SMP di antero dunia, dimana nilai membaca, matematika dan sain siswa SMP Indonesi sangat rendah, padahal mereka menyatakan bahwa pembelajaran yang dialaminya dalam suasana menyenangkan, demokratis dan partisipasi orang tua sangat tinggi.**

 

Penulis, Dosen FKIP Untan