Selektif Memberi Utang

Iluistrasi

Salah satu tolong-menolong yang kadang berujung pusing kepala adalah meminjamkan uang. Saat ada yang pinjam uang, mulai muncul perasaan kasihan dan ingin membantu. Namun, selektif dalam memberi utang mutlak diperlukan agar ujungnya tak justru malah merugikan diri sendiri

oleh : Siti Sulbiyah

Mariasi punya pengalaman tidak mengenakkan soal meminjamkan uang kepada orang lain. Dia mengaku sering diminta tolong orang lain untuk dipinjami uang. Namun, oleh orang yang berutang itu, uang yang dipinjam sangat lama dikembalikan.

“Orang ini lama sekali bayarnya, kalau tidak diingatkan mungkin tidak dibayar. Kadang diingatkan, masih susah bayar. Sering janji mau bayar, tapi tidak ditepati,” keluhnya.

Lebih mengesalkan lagi, orang yang dipinjami uang ini, hidupnya tergolang layak, bahkan cenderung berlebih. Orang ini punya pengahasilan tetap dan punya mobil. Namun, orang ini kerap meminjam duit kepada dirinya. Dia pun tak kuasa menolak.

“Saya tidak tega kalau bilang tidak punya uang. Bukan berarti saya kaya raya, cuma saya punya uang tabungan sebagai simpanan,” tutur dia.

Saat orang ini meminjam uang, ia memang tak pernah bertanya soal peruntukan uang tersebut. Terkadang ada rasa khawatir dalam benaknya, jika ternyata uang yang dipinjam itu tidak dikembalikan. “Orang yang suka pinjam uang ini kalau tidak diingatkan, tak pernah bilang kapan mau bayar utang. Kadang setahun lebih baru dibayar. Itu pun setelah diingatkan dan sedang benar-benar butuh,” pungkas dia.

Menurut Rosdaniar, M.Psi., Psikolog, pinjam meminjam uang umumnya oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai hal yang lumrah dilakukan Kondisi ini biasanya terjadi ketika seseorang menginginkan atau membutuhkan sesuatu, tetapi tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk mendapatkan hal tersebut. Hal itu membuat orang meminta pertolongan keluarga atau teman agar dipinjami uang guna memenuhi kebutuhannya itu.

Meminjamkan uang kepada orang yang meminta pertolongan merupakan hal yang baik. Namun, jika tidak hati-hati, persoalan pinjam meminjam uang ini, berpotensi berakhir dengan hubungan yang tidak nyaman, bahkan berujung konflik.

“Fenomena yang ada di masyarakat, kadang menunjukkan pinjam meminjam uang ini mengakibatkan rusaknya hubungan, putusnya tali silaturahmi, bahkan berakhir dengan konflik,” ungkap Rosdaniar.

Itu sebabnya, kata dia, dalam memberi pinjaman uang kepada orang lain harus selektif. Pemberi pinjaman terlebih dahulu mengenal kepribadian si peminjam, terutama rekam jejaknya dalam menjalankan amanah. Jika si peminjam adalah orang yang sudah dikenal memiliki karakter yang bertanggung jawab dalam menjalankan amanah, boleh dipertimbangkan untuk dipinjamkan uang.

Di samping itu, aspek pekerjaan si peminjam juga perlu jadi pertimbangan. Pemberi pinjaman harus memastikan bahwa si peminjam punya pekerjaan layak atau penghasilan yang tetap. Dengan mengetahui hal ini, setidaknya si pemberi pinjaman tahu, seberapa besar kemampuan peminjam dalam melunasi utang.

“Lihat apa pakerjaannya. Apakah dengan penghasilnya itu, ia mampu melunasi utang?” tutur dia.

Namun, miliki tanggung jawab dan penghasilan tetap tidaklah cukup. Menurut Rosdaniar, ketika transaksi pinjam meminjam itu terjadi, ada baiknya kedua orang yang terlibat ini membuat sebuah komitmen dalam memberi utang. Komitmen ini, bisa dilakukan secara lisan, atau perjanjian hitam di atas putih. Kesepakatan yang dimaksud, terutama tentang tenggat waktu pembayaran hutang, hingga metode pembayaran.

 “Kita harus menentukan, kapan tenggat waktunya? Cara pelunasannya juga, apakah secara tunai atau menyicil,” kata dia.

Namun, yang lebih penting dari itu semua, lanjut dia, adalah kemampuan diri dalam memberi pinjaman. Tidak ada salahnya memikirkan situasi diri sendiri terlebih dulu sebelum menolong orang lain, apalagi dalam hal ini uang terlibat. Jangan sampai perasaan kasihan di awal berubah menjadi negatif karena uang tidak kunjung kembali pada saat sedang dibutuhkan. Alih-alih menolong, justru si pemberi pinjaman yang dirugikan.

Selektif dalam memberi pinjaman juga berlaku untuk keluarga kandung sendiri. Pinjam meminjam uang dalam keluarga, malah kadang memunculkan konflik yang lebih panas. Apalagi jika si peminjam tidak memiliki rasa segan kepada si pemberi pinjaman.

“Kadang karena keluarga sendiri jadi bisa seenaknya pinjam uang, lalu lama dikembalikan. Mentang-mentang keluarga, jadi sering minta keringanan,” kata Rosdaniar.

Dalam hal ini, pihak yang paling sering dirugikan adalah si pemberi pinjaman. Kadang karena keluarga, ada rasa tidak nyaman untuk meminta kembali uang yang dipinjamkan itu. Padahal bagaimana pun, uang yang dipinjam itu, adalah hak si pemberi pinjaman. Sementara melunasi utang adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh si peminjam. **

loading...