Semangat Bekerja Setelah Melahirkan

Kembali pada rutinitas pekerjaan setelah melahirkan bukan hal mudah. Banyak yang harus dipersiapkan, termasuk ketika harus meninggalkan anak untuk bekerja. Namun, pastinya harus tetap semangat agar aktivitas berjalan lancar.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Perlu waktu satu bulan untuk menyiapkan diri kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Demikian diungkapkan Psikolog Yulia Ekawati Tasbita.

“Sebab, ibu baru harus mempersiapkan segala hal  saat meninggalkan buah hatinya di rumah selama ia bekerja,” ungkap Yulia.

Yulia Ekawati Tasbita // Psikolog

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan adalah orang yang akan membantu merawat atau mengasuh anak, ASI perah, hingga peralatan yang akan digunakan buah hati.

“Harus dipersiapkan se-detail mungkin,” katanya.

Selain itu juga harus mempersiapkan fisik dan mental. Pastikan fisik sehat dan prima sebelum dan saat bekerja.
“Artinya, ibu tersebut harus menjaga nutrisi di dalam tubuhnya agar tidak mudah lelah. Salah satunya dengan mengonsumsi vitamin dan lainnya,” ungkap Yulia.

Tak lupa mempersiapkan mental untuk beradaptasi pada perubahan. Sebab, ketika kembali bekerja, tentu ritmenya akan berbeda.
Yulia menuturkan suami berperan  sangat penting untuk mendukung pilihan istri untuk kembali bekerja.
“Di sisi lain, ibu baru juga bisa mengkomunikasikan akan mulai bekerja kembali pada atasan atau rekan kerja di kantor. Ibu baru harus tahu juga situasi di kantor seperti apa,” tutur Yulia.

Menurut Yulia, terkadang ada kondisi atau hal tak terduga dialami saat bekerja. Selama tak melanggar SOP di tempat bekerja dan bisa mengerjakan tugas dengan baik, Yulian yakin atasan pasti bisa memberikan sedikit toleransi.
“Atasan memahami kondisi Anda yang baru menjadi seorang ibu dan memiliki bayi. Namun, bukan berarti mendapat toleransi bisa bersikap seenaknya,” jelas Yulia.
Bisa juga berbicara pada rekan kerja, bisa membantu pekerjaan bersifat mendesak dan segera.
“Meski terasa penat, ibu baru harus tetap bahagia. Jika tidak, tentu akan memengaruhi fisik yang akan berdampak pada kualitas ASI,” kata Yulia.

Jika seorang ibu baru tidak bisa beradaptasi dengan baik, lanjut Yulia,  akan berpengaruh pada diri sendiri dan situasi yang sedang dihadapi.
“Dia pasti tidak akan bisa mengatur mana yang harus difokuskan pada bayi dan pada kerjaannya. Semua yang dikerjakannya bisa saja berantakan,” ujar Yulia.
Jika ibu stres, ibu lebih mudah marah. Ini berdampak pada fisik dan mental. Berpotensi mengalami baby blues.
Berkenaan dengan kekhawatiran terhadap virus Covid-19, Yulia menyarankan agar tak terlalu banyak membaca  hal negatif. Sebab, akan memengaruhi pikiran dan perasaan. Tetap fokus pada pekerjaan dan buah hati.
“Alihkan pada hal positif. Jangan lupa juga menjaga daya tahan tubuh dengan baik. Kerja sama antara suami dan istri juga penting,” tutupnya. **

error: Content is protected !!