Semangat Kenalkan Halal Awareness

Di antara sekian banyak Influencer Pontianak yang wara-wiri di timeline media sosial, sosok Chelsy Artha cukup menarik perhatian, khususnya kawula muda. Muslimah berusia 20 tahun yang juga seorang Halal Influencer ini kerap berbagi ilmu mengenai halal awareness, terutama makanan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Halal Influencer adalah sekelompok influencer yang fokus pada dakwah perkara halal awareness, terutama dalam hal makanan. Chelsy Arta menjelaskan Halal Influencer sendiri bertugas mengedukasi audiens agar lebih aware terhadap perkara Halal dan ebih mementingkan ‘Buy Halal First’.

“Selain itu juga mengedukasi audiens agar paham menilai titik kritis suatu makanan dan memilah milih makanan yang akan dimakan,” jelasnya.

Ketertarikan Chelsy untuk terjun di bidang ini bukan tanpa alasan. Dia mengaku pernah kejebak ‘Haram’. Waktu sedang mengunjungi Kota Batam, Chelsy ingin mencoba salah satu varian kopi kekinian yang sedang ramai diperbincangkan. Ia pun membeli salah satu varian roem regal, yakni minuman susu dengan topping regal ditambah aroma rum.

Kala itu Chelsy tidak tahu ternyata rum pada minuman itu merupakan minuman alkohol, tergolong minuman keras jenis ‘C’ dengan kandungan alkohol sebesar 30 persen. Dan, hukumnya haram untuk dikonsumsi. Dari pengalaman itulah, muslimah ini tertarik untuk semakin kritis terhadap apa yang dimakan, dipakai,dan apa saja yang masuk ke badannya.

“Saya resmi bergabung menjadi Halal Influencer pada bulan Agustus Tahun 2019,” ujar Chelsy.

Dara kelahiran Pontianak, 18 Maret 2000 ini membagikan ilmu mengenai Halal awareness melalui konten tulisan ringan, illustrasi bergambar dan video yang dibalut jenaka agar penyampaiannya tidak terlalu kaku dan santai di media sosial Instagram. Sesekali materinya juga ia unggah di website (https://chelsyarta.wordpress.com) pribadinya. Chelsy melakukan semua secara sukarela dan tanpa dibayar, demi mendukung Halal.

“Untuk sasaran halal awareness lebih kepada remaja berusia 17 tahun keatas. Karena saya masih muda dan audiens saya banyak anak remaja dewasa keatas,” katanya.

Sejauh dakwah ini berjalan, audiens Chelsy sangat antusias dan semangat untuk tahu dan belajar lebih lanjut perkara halal. Bahkan, beberapa UMKM dan rekan-rekan penggiat kuliner, khususnya di Pontianak mulai mendukung. Baik itu dengan mulai mensertifikasi halal dagangan ke MUI atau mengutamakan makanan halal first yang dipromosikan ke para audiens.

“Bahkan, yang mau dagang sekalipun pernah konsultasi halal sama saya, saking yang bersangkutan mementingkan kehalalan produk,” ucap Chelsy senang.

Chelsy pun tidak menyangka masyarakat sangat antusias dan ada beberapa yang terkejut bahwa halal haram itu luas, tidak sekadar ‘no lard’, ‘no pork’ dan ‘no alkohol’. Chlesy menuturkan zaman semakin berubah, tantangan masyarakat pun semakin nyata dalam menghadapi apa yang dikonsumsi sehari-hari. Demi menjaga keabsahan ibadah dan doa yang mustajab.

Namun, Chelsy juga sempat mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan sebagai Halal Influencer. Ia pernah dikritisi beberapa orang yang mungkin lebih senior di dakwah halal. Saat itu Chelsy ditarik ke meja diskusi, hingga sempat terjadi adu argumen. Hanya saja, semua itu selesai lantaran apa saja yang ia paparkan ada dasarnya.

“Kebetulan saya dibawah bimbingan teh Aisha Founder Halal Corner yang dulunya sebagai Jurnalis LPPOM MUI dulu,” tuturnya.

Menurut Chelsy, bentrok yang terjadi lebih kepada masalah pendapat saja. Beberapa berpegang kepada fikih, dan Chelsy cenderung memegang pendapat dari MUI. Lantaran MUI mengeluarkan fatwa bukan tanpa alasan. Beberapa juga sebagai tindakan preventif dan disertai alasan logis pula. Namun, bukan berarti Chelsy tidak mempelajari fikih, ia juga sedang mempelajarinya.

“Bahkan seringkali terjebak di dalam diskusi fikih terkait fenomena halal haram dengan guru saya,” tambah alumni SMA Negeri 2 Pontianak ini.

Sebagai seorang Halal Influencer, Chelsy berharap semakin banyak lagi masyarakat yang peduli terhadap makanan halal, kosmetik halal, perniagaan yang halal dan pasangan yang halal. Karena senjata utama ummat muslim adalah doa. Jika doa tertolak karena makanan haram yang dikonsumsi, maka harta dan jabatan sekalipun belum tentu menyelamatkan, selain doa.

“Dan, penting sekali menjaga keabsahan ibadah. Lantaran dari apa yang dipakai, boleh jadi terdapat unsur haram yang mengganggu keabsahannya,” pesannya. **

loading...