Seminggu Antre di Bandara

papua

Para pengungsi antri masuk pesawat Hercules di Lapangan Udara TNI AU Manuhua, Wamena, Papua, Senin (30/9/19). Pesawat Hercules TNI AU mengangkut para pengungsi ke Jayapura, Biak, Timika, dan Merauke. FOTO: HENDRA EKA

Pengungsi Sulit Hilangkan Trauma

WAMENA – Antrean di Bandara Wamena masih panjang. Sedikitnya 17.097 pengungsi menunggu penerbangan Pesawat C-130 Hercules ke Jayapura dan beberapa daerah lainnya. Berhari-hari mereka bertahan di bandara. Alasannya, takut pulang. Pasrah karena habis bekal. Nekat lantaran tidak ingin ambil risiko kehilangan nyawa.

Juarto salah satunya. Pria asal Pati, Jawa Tengah itu memilih tinggal di Pengungsian Detasemen TNI Wamena. Sejak Selasa lalu (24/9) dia bersama putranya, Dwiki Agus Marzuki, 18, berada di sana. Tidak ada pilihan lain bagi Juarto dan Agus. Di Wamena mereka tidak punya keluarga. Hanya teman seperantauan yang sama-sama buruh bangunan.

Tiga minggu lalu, pria 45 tahun itu memutuskan bertolak ke Wamena. Menghindari demonstrasi berujung ricuh di Jayapura. Sekaligus mengadu nasib di tempat baru. ”Di Jayapura dari 2001. Karena demo ricuh coba ke Wamena,” ungkap dia kemarin (30/9). ”Belum sebulan ternyata begini (ricuh di Wamena),” sesalnya.

Senin pekan lalu (23/9), kerusuhan terjadi ketika Juarto sedang bekerja. Dia bersama Agus dan lima rekannya menyadari ada yang tidak beres saat api dan asap muncul. ”Kanan, kiri, depan, belakang bangunan kami asap semua,” tutur ayah dua anak tersebut. Selain itu, ribu-ribut suara massa jelas terdengar. “Bunuh, bunuh, bunuh. Mana pendatang itu, bunuh,” kata dia menirukan suara massa. Mendengar itu, dia sadar ada yang tidak beres. Sehingga memilih sembunyi.

Dari tempat persembunyianya, Juarto melihat dengan mata kepala sendiri, seorang ibu dan anak dibakar massa. ”Saya kalau ingat itu merindung ini,” ujarnya. ”Mereka lari, naik lantai dua, berdekapan, lalu rumahnya dibakar,” lanjut dia. Matanya memerah saat menceritakan itu. Dia lantas menuturkan bahwa dirinya juga hampir jadi korban. Nyaris kehilangan nyawa bersama putranya. “Yang saya khawatirkan itu anak saya,” kata dia.

Beruntung tidak ada satu pun massa masuk ke area bangunan yang sedang digarap Juarto. Sehingga dia aman sampai aparat TNI – Polri datang. Mereka lantas dibawa ke pengungsian. Kini tidak ada yang dia punya selain pakaian yang melekat di badan. ”Uang tidak ada sepeser pun,” imbuhnya. Karena itu, Juarto memilih bertahan di Detasemen TNI Wamena.

Dia mengandalkan makan dan minum di sana. Tidur pun sama. Digenggam erat olehnya selebar kertas pendaftaran. Untuk terbang ke Jayapura memakai Hercules. Dia masuk kelompok terbang 30. Penerbangan Hercules terakhir kemarin kelompok terbang 15. ”Mungkin tiga atau empat hari lagi sudah terbang,” harapnya.

Asa serupa ada dalam hati Ahmad Ariswanto. Pemuda 22 tahun itu satu rombongan dengan Juarto. Hanya, dia berasal dari Jember, Jawa Timur. Dia juga sudah satu minggu berada di Detasemen TNI Wamena. Tanpa uang sedikit pun. ”Yang penting bisa makan di sini,” ujarnya. Keinginan lain pemuda yang biasa dipanggil Aris itu adalah segera meninggalkan Wamena.

Aris belum punya rencana pulang ke Jember. Dalam kepalanya, dia ingin ke Jayapura. Kembali mencari kerja di sana. ”Setelah ada uang baru pulang,” kata dia. Karena itu pula, dia memilih bertahan di Detasemen TNI Wamena. Sebab hanya TNI AU yang menyiadakan angkutan gratis dari Wamena ke Jayapura.

Komandan Detasemen Wamena Mayor Pnb Arief Sudjatmiko mengakui, pihaknya sudah mengamankan dua orang calo. Mereka memanfaatkan keadaan dengan menjual tiket untuk penerbangan menggunakan Hercules. ”Ada yang Rp 1,5 juta per orang. Ada yang Rp 500 ribu,” ujarnya. Tidak hanya diamankan, mereka juga dihukum minta maaf kepada pengungsi.

Arief menegaskan bahwa tidak ada biaya sepeser pun untuk pengungsi yang hendak meninggalkan Wamena memakai Hercules. Jumlah total pengungsi yang sudah diterbangkan sebanyak 4.121. Semuanya ke Jayapura. Har ini (1/10) bakal ada penerbangan ke Biak, Merauke, dan Timika. Jumlah pengungsi yang ingi ke sana 703 ke Biak, 400 ke Merauke, dan 190 ke Timika. Karena keterbatasan kapasitas, besar kemungkinan mereka diangkut secara bertahap.

Apabila tidak ada hambatan, dua Hercules yang kemarin beroperasi dari Jayapura akan ketambahan tenaga. Yakni satu unit Hercules long body dari Lanud Halim Perdanakusuma. Dengan tambahan pesawat itu, kapasitas angkut pengungsi yang akan meninggalkan Wamena bertambah besar. Dia optimistis hari ini mampu menuntaskan sepuluh sortie penerbangan.

Kemarin target itu tidak tercapai. Sebab, cuaca memaksa penerbangan pertama dari Jayapura dimulai agak siang. ”Sehingga hari ini (kemarin) yang bisa dilakukan adalah tujuh sortie,” terang Arief. Dengan tambahan satu unit Hercules long body, dia yakin 17.097 pengungsi bisa diangkut keluar dari Wamena dalam sepuluh hari.

Hanya, itu bisa terealisasi apabila jumlah pengungsi yang mendaftar untuk mengantre naik Hercules tidak bertambah. Jika bertambah, tentu butuh waktu lebih lama untuk mengangkut mereka. Bukan tidak mungkin pula pengungsi yang antre berhari-hari semakin banyak. Selain Juarto dan rombongannya, kemarin ada ribuan pengungsi antre.

Sejak pagi mereka sudah berdesakan menunggu petugas memanggil nama masing-masing. Yanti Sampe, 27, tenaga pengajar yang berasal dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan salah satunya. Dia baru dapat jatah terbang kemarin sore. Bersama ribuan pengungsi lain, dia sudah merapat ke Bandara Wamena sejak pagi. ”Sudah tujug hari kami bolak-balik, baru hari ini dapat terbang,” ujarnya.

Kemarin dia terbang ke Jayapura untuk mengantar saudara-saudaranya. ”Dua anak, empat perempuan,” kata Yanti. Dia mengaku keluarganya masih trauma. Mereka takut lantaran melihat api dan asap di mana-mana saat kejadian Senin pekan lalu. ”Kami ingin tenang dulu,” tambahnya. Dari Jayapura, Yanti berniat naik kapal. Sebab, harga tiket pesawat tinggi.

Alasan lain Yanti ingin meninggalkan Wamena adalah aktivitas belajar mengajar masih berhenti. Belum jelas kapan sekolah mulai aktif. Sampai kemarin, belum ada sekolah buka. ”Tutup semua,” ujarnya. Walau sedikit demi sedikit aktivitas perekonomian masyarakat pulih, Yanti memilih pulang kampung lebih dulu. ”Nanti kembali setelah normal dan aman,” kata dia.

Tempat tinggalnya di Wamena tidak rusak. Tidam juga dibakar masa. Namun demikian, ingatan saat massa membabi buta menyerang terus menghantui. Menghancurkan keberaniannya untuk bertahan. Dia takut itu terulang dalam waktu dekat. Untuk itu, pulang kampung menenangkan diri adalah cara terbaik.

Berdasar pantauan, kemarin aktivitas masyarakat Wamena memang sudah mulai tampak. Warung-warung sudah buka, beberapa bank juga kembali melayani nasabah. Namun, memang tidak banyak masyarakat di jalan. Sebagian besar berada di lokasi pengungsian. Sisanya berada di bandara. Untuk antisipasi, pengamanan juga masih ketat.

Petugas keamanan dengan senjata api bertebaran di mana-mana. Bandara, pinggir jalan, sampai tempat pengungsian. Mata mereka jeli melihat keadaan. Mencurigakan sedikit saja, langsung ditanya. Datang dari mana, keperluannya apa, bawa surat atau tidak. Wartawan koran ini pun ditanyai demikian. ID pers saja tidak cukup kalau tidak bisa meyakinkan petugas. Sampai mereka yakin, baru diizinkan meliput. (syn/)

Read Previous

Mahasiswa Serbu Pelantikan Dewan

Read Next

Sering Terkendala Minimnya Pengetahuan dan Akses Pasar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *