Kisah Mahasiswa di Pontianak Terlilit Utang Aplikasi Pinjol
Sempat Stres Akibat Kerap Diteror

TERLILIT UTANG: Putra, seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Pontianak saat menceritakan pengalamannya terlilit utang dari aplikasi pinjol. (Arief Nugroho/Arief Nugroho)

Putra, seorang mahasiswa semester akhir pada salah satu perguruan tinggi di Kota Pontianak mengaku, stres akibat sering diteror oleh para debt colection dari berbagai aplikasi penyedia jasa pinjaman online atau pinjol.

Arief Nugroho, Pontianak

Pemuda usia 22 tahun ini menceritakan pengalamannya. Saat ini, ia terlilit utang hingga belasan juta rupiah dari aplikasi penyedia jasa pinjaman online.

Ini berawal dari saat dirinya yang ikut membuka akun di sebuah aplikasi sharing (berbagi) like di internet. Karena butuh modal, ia pun mengajukan pinjaman online.

Awalnya ia meminjam uang sebesar Rp1,2 juta dari aplikasi pinjaman online yang ia yakini legal. Dari uang itu, ia pun mampu mengembalikan uang pinjamkan dari penghasilan yang ia dapatkan dari aplikasi berbagi like tersebut.

Karena aplikasi itu berpeluang dan sangat menguntungkan, ia pun berniat untuk menambah modal dengan meminjam kembali di aplikasi pinjol, sebesar Rp3 juta. Tragisnya, aplikasi tersebut tutup. Di sini masalah itu muncul. Putra mulai kesulitan membayar tagihan.

Ia panik karena takut tidak bisa mengembalikan uang pinjaman itu. Akhirnya, untuk menutup utang sebelumnya, ia lantas meminjam uang di aplikasi lain. Menurut dia aplikasi pinjol ini ilegal.

“Karena kepepet dan panik, saya pinjam ke pinjol lain. Pinjol ilegal, karena lebih mudah pengajuannya. Hanya satu jam langsung cair,” ungkapnya.

Sampai dengan hari ini, Putra mengaku telah meminjam di 14 aplikasi pinjol. Tujuh di aplikasi pinjol legal, sisanya pinjol ilegal. “Tagihannya mencapai Rp19 juta. Tapi saya bayar sebagian, sekarang sisa Rp12 jutaan,” ujarnya.

Putra mengaku, selama proses peminjaman online ilegal, ia kerap mendapatkan teror yang berdampak pada  psikologisnya.

Pada aplikasi pinjaman online ilegal, waktu pengembaliannya juga lebih singkat dibanding Pinjol legal. Misalnya, kata Putra, pinjol legal diberi waktu 30 hari hingga beberapa bulan untuk proses pengembalian, namun aplikasi ilegal, hanya diberi waktu beberapa hari saja.

Selain itu, pihak aplikasi pun memberikan denda keterlambatan setiap hari bila nasabah itu tidak membayar utangnya.

“Kalau Pinjol ilegal, misal saya pinjam Rp2,5 juta, cairnya hanya Rp1,9 juta, lalu bila lewat dari tempo, satu hari denda sampai Rp180 ribu. Kalau yang legal menagihnya seperti bank biasa. Menagihnya masih sopan, tetapi yang Ilegal ini, mereka menagih dengan kasar dan penuh ancaman, taunya harus bayar,”ungkapnya.

Teror dari si penagih, kata Putra,  sangat meresahkan. Dalam sehari ia bisa diteror melalui telpon hingga berpuluh kali, kemudian iapun menerima pesan melalui berbagai media sosialnya dengan ancaman-ancaman dan bahasa yang kasar.

Lalu para penagih dari pinjol ilegal itupun menghubungi berbagai kontak yang ada di handphone miliknya dan mengirimkan pesan penagihan utang.

Tidak hanya itu, bahkan, pinjol itu juga menyebarkan berita bohong atas dirinya, dengan mengirimkan foto dirinya ke banyak orang disertai caption bahwa ia merupakan penipun dan pencuri, selain itu para pinjol Ilegal itupun juga menyebarkan foto KTP dirinya pula dengan narasi.

“Teman-temen sampai nanya ke saya apakah benar ini penipuan, tapi saya jelaskan ke teman-teman bahwa itu tidak benar, tetapi karena saya pinjam online,”jelasnya.

Akibat teror tersebut, ia mengaku sempat depresi dan mengalami gangguan psikologi. Bahkan, ia mengalami gangguan tidur akibat teror pinjol tersebut.

Ia berharap, Kepolisian dapat mengusut tuntas terkait aplikasi pinjaman online ilegal yang meresahkan, karena saat ini sudah banyak warga masyarakat yang menjadi korban dari aplikasi pinjaman online ilegal.

Tetapkan Tersangka

Terpisah, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat menetapkan dua orang karyawan PT. Sumber Rejeki Digital (PT SRD) sebagai tersangka jasa penagihan Pinjaman Online (Pinjol).

Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Donny Charles Go mengatakan, penetapan status tersangka tersebut, setelah melakukan gelar perkara.

“Kedua tersangka itu yakni seorang perempuan berinisial SS dan seorang laki-laki Y. Tersangka SS dan Y berperan sebagai Kapten yang bertugas melakukan pengawasan kepada Desk Collection atau penagih pinjaman,” ucapnya.

Sebelumnya, jajaran Ditreskrimum Polda Kalbar menggerebek perusahaan penagih utang pinjol di sebuah rumah di jalan Veteran, Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan.

Perusahaan penagih utang ini telah beroperasi sejak Desember 2020. Perusahaan ini bekerjasama dengan 14 perusahaan pinjol ilegal yang tak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain itu, Donny membeberkan bahwa masih ada beberapa orang lagi yang sedang dicari keberadaannya, yang kini sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron.

“Ada beberapa orang lagi di perusahaan yang masih kami buru,” jelasnya.

Menurut Donny, orang-orang tersebut saat penggerebekan sudah berada di luar Kota Pontianak.

“Kami masih melakukan pengembangan dan memburu para DPO tersebut,” pungkasnya. (arf)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!