Sepatu Lokal Kian Dikenal

LIHAT antrean mengular demi barang-barang branded yang sedang diskon besar-besaran udah jadi hal yang nggak asing, apalagi bagi masyarakat kota besar, atau berselancar dengan aplikasi market place atau website brand luar negeri menjadi pilihan terbaik bagi kaum rebahan.

Antrean panjang ternyata kini nggak hanya untuk rebutan membeli produk luar negeri, loh. Pertengahan Desember lalu antrean para pembeli sepatu Compass nggak kalah ramainya bahkan mengular. Tak tanggung-tanggung ada yang sudah ke booth dari jam 2 pagi demi mendapatkan sneakers lokal buatan anak bangsa ini. Semakin berkembang teknologi, semakin berkembang juga kreativitas anak negeri. Kita kayaknya udah ke-triggered buat nggak cuma jadi konsumen tapi beralih jadi produsen.

Tak hanya Compass yang asal Bandung, di Pontianak juga ada sepatu lokal yang sudah lama dikenal. Kurniawan hadir dengan Seija Company yang sudah ia dan timnya bangun sejak sepuluh tahun lalu. Menjadi satu-satunya produsen sepatu lokal Pontianak yang masih bertahan sampai saat ini. Seija juga turut merangkap appaprel bahkan papan skate. Berbekal konsep sepatu murah dengan kualitas bagus, Seija sudah terjual ratusan pasang pada tahun-tahun pertama penjualannya.

”Dulu Seija masih dijual nggak gabung dengan warung sepatu. Sekarang udah disatuin, di Warung Sepatu yang di Jalan Bukit Barisan ada, di sini (Paris 2) ada juga. Nah, sejak 2019 kita coba buat lakukan re-branding untuk kap sol-nya, desain out sol-nya juga dari kita sendiri dan diterima dengan baik oleh market,” ujar Kurniawan.

Mulai namanya saja Seija yang merupakan kepanjangan dari Sungai Jawi sudah sangat kental akan Pontianak tapi tetap diterima oleh masyarakat Indonesia di luar Kalimantan Barat. Masih dari penuturan Kurniawan, followers akun Instagram @SeijaCompany hanya 10% dari 109k yang merupakan users asal Pontianak dan sisanya dari luar daerah.

“Kita penjualannya selain langsung di store juga di market place, bisa lewat Line Official dan Instagram, total ada sepuluh admin yang mengurusnya. Kalau bicara soal antusias, sejak awal rilis Seija udah diterima dengan baik oleh masyarakat nggak hanya di Pontianak bahkan nasional. Bahkan beberapa waktu kita produksi 200-an pasang laku dalam waktu tiga hari. Sekarang anak muda Pontianak banyak yang udah kenal Seija, tapi ya itu, kita memang udah bangun dari awal sepuluh tahun yang lalu dan nggak instan,” tambahnya.

Bicara soal pasar, penjualan sepatu merk Seija bisa terjual ratusan pasang dalam waktu satu bulan. Ditambah lagi produksi yang nggak banyak membuat Seija jadi eksklusif. Desain yang akan dihadirkan pun bahkan sudah siap hingga tahun 2022 tetapi karena keterbatasan produksi, produk-produk tersebut masih dalam waiting list menuju rilis. Dalam timnya, Seija bahkan punya tim bagian research yang akan membantu membaca pasar.

“Untuk Seija itu kita fokus menciptakan style sendiri dalam artian kita coba produksi apa yang menurut kita bagus. Jadi kita ada tim desain sendiri dan semuanya anak Pontianak. Kita juga udah punya timeline produksi dengan banyak pertimbangan salah satunya nggak mau over dan pengin ngerasa baru terus,” pungkas Kurniawan.

Dipatok dengan harga sekitaran Rp200.000-Rp350.000, Seija Footwear dinilai masih terjangkau untuk kualitas produk yang tergolong baik. Maka nggak heran ya kalau jadi favorit para penikmat sepatu lokal brand. Hype anak muda yang sedang haus akan produk lokal mmebuktikan bahwa karya anak negeri nggak kalah bagus dibanding produk impor. Soal gengsi, barang lokal jadi tren dan kebanggaan sendiri bagi konsumennya saat ini. Sobat Z, udah punya berapa sepatu lokal yang tersimpan di rak sepatunya? Atau masih dalam tahap pertimbangan untuk membeli? Ayolah, gaskeun! (mya)