Rata-rata Tujuh Ribu Orang Per Hari
Sepekan 44.314 Warga Kalbar Divaksin

HISTERIS: Sejumlah warga terlihat histeris saat mengikuti vaksinasi covid-19 di sejumlah lokasi di Kalbar. Dalam sepekan, sebanyak 44.314 orang di Kalbar mendapat suntikan vaksin. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) menggenjot program vaksinasi Covid-19 dengan kegiatan vaksinasi massal berjalan cukup efektif. Dalam sepekan terakhir terjadi peningkatan yang cukup signifikan, bahkan per harinya rata-rata ada tujuh ribuan orang yang divaksin di provinsi ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, capaian vaksinasi untuk suntikan pertama se-Kalbar sampai Selasa (22/6), ada sebanyak 229.798 orang. Terdiri dari tenaga kesehatan (nakes) sebanyak 27.852 orang, petugas publik 175.679 orang dan lanjut usia (lansia) sebanyak 26.267 orang.

Dibandingkan dengan pekan lalu, per 15 Juni 2021, jumlah orang yang sudah divaksin se-Kalbar untuk suntikan pertama baru mencapai angka 185.484 orang. “Jadi dalam satu minggu kita (Kalbar) melakukan vaksinasi sebanyak 44.314 orang atau 6.330 orang per hari,” ungkapnya, Rabu (23/6).

Sementara untuk vaksinasi dosis kedua, disebutkan Harisson dalam satu minggu sejak15 Juni 2021 sampai 22 Juni 2021, telah dilakukan vaksinasi sebanyak 6.216 orang. Jika dijumlahkan untuk suntikan pertama ada 44.314 orang dengan suntikan kedua 6.216 orang, artinya sudah ada 50.530 orangyang divaksin dalam sepekan terakhir. “Atau rata-rata 7.218 orang per hari dilakukan vaksinasi Covid-19 di Kalbar ini,” jelasnya.

Upaya percepatan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di masyarakat dijelaskan dia akan terus digencarkan. Sesuai dengan target Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bahwa dalam satu hari ada satu juta orang Indonesia yang divaksin. Untuk di Kalbar sendiri Harisson menargetkan harus ada lima ribu sampai 10 ribu orang per hari yang divaksin.

“Kalau perlu nanti, jika semua sudah berjalan baik, kan sekarang kabupaten/kota baru bangkit (vaksinasi) dibantu TNI dan Polri, mudah-mudahan nanti dalam sehari kita (Kalbar) bisa mencapai target, kalau target dari Pak Gubernur itu 15 ribu orang,” tambahnya.

Saat ini menurutnya banyak informasi tidak benar tentang vaksin Covid-19 yang beredar di masyarakat. Ia berharap masyarakat tidak mempercayainya. Karena untuk pelaksanaan vaksinasi ini sudah ada yang namanya tim Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Ketika ada KIPI yang dilaporkan maka akan selalu dibahas oleh tim di Dinas Kesehatan.“Dan itu memang biasanya bukan karena KIPI, atau bukan penyebab langsung dari vaksin itu,” katanya.

Yang pasti, lanjut dia, jika memang ada temuan kasus KIPI, pemerintah pasti akan bertanggungjawab. Namun sejauh ini pihaknya dikatakan belum menerima atau sudah meneliti beberapa laporan, tapi tidak ada temuan efek samping yang serius dari vaksin. Baik itu untuk vaksin merek Sinovac maupun AstraZeneca yang sudah digunakan di Kalbar.

Harisson memaparkan saat ini memang sedang terjadi peningkatan kasus Covid-19, baik secara nasional maupun di Kalbar. Ada dua hal yang harus dilakukan agar kondisinya tidak semakin memburuk atau ketika tertular gejalanya tidak parah. Pertama dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes). Lalu yang kedua dengan cara vaksinasi.

“Dengan divaksin itu tubuh kita sudah membuat tentara, membuat benteng, sehingga nanti ketika virus itu masuk tubuh kita akan bisa langsung melawan. Tidak perlu proses terlalu lama tubuh bisa langsung melawan dan seandainya setelah divaksin masih tertular, tidak akan menimbulkan gejala seberat apabila tidak divaksin,” paparnya.

Untuk itu ia mengajak kepada seluruh masyarakat untuk tetap melaksanakan prokes secara disiplin. Selain itu juga mau memanfaatkan program vaksinasi yang saat ini diberikan secara gratis. “Itulah benteng kita untuk melindungi diri dari virus corona ini,” tegasnya.

Selain soal vaksinasi, Harisson juga mengimbau kepada warga di Kalbar agar tidak dulu bepergian ke Jakarta atau Pulau Jawa. Begitu juga sebaliknya warga yang berada di Jakarta sebaiknya tidak usah dulu datang ke Kalbar untuk sementara waktu.

Hal tersebut disampaikan karena kondisi saat ini baik di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur maupun provinsi lainnya, telah ditemui varian Covid-19 jenis alpha asal Inggris, dan varian delta dari India. Dimana jenis virus tersebut dua kali lebih menular dibandingkan virus awal sebelum mutasi yang pertama kali ditemukan di Wuhan.

“Dan kemudian bisa menular dengan cepat di antara anak-anak usia sekolah. Nah ini yang kami khawatirkan,” ucapnya.

Sedangkan untuk nilai cycle threshold (CT) dari kedua virus jenis ini dikatakan lebih rendah dan periode infeksinya juga lebih panjang. Dengan demikian, karena virus varian alpha dan delta ini belum terditeksi di Kalbar, maka perlu langkah-langkah antisipasi.

“Untuk itu saya mengimbau warga Kalbar jangan ke Jawa, karena nilai CT rendah itukan artinya viral load (kandungan virus) tinggi, bisa sampai jutaan atau ratusan juta,” terangnya.

Ketika seseorang terpapar Covid-19 dengan kandungan virus yang tinggi maka akan lebih mudah menularkan kepada orang lain. Jika tidak ada keperluan penting atau mendesak Harisson mengimbau warga Kalbar tidak dulu pergi ke Pulau Jawa. Dikhawatirkan warga yang pergi ke luar Kalbar, ketika pulang bisa membawa virus varian alpha dan delta tersebut. “Termasuk ASN, ASN juga sebenarnya jangan dulu ke Jawa atau Jakarta,” pungkasnya. (bar)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!