Seragam Sekolah Hangus, Ines dan Meti Butuh Bantuan

SERAGAM TERBAKAR: Ines (12) dan Meti (13) duduk di rumah tetangga melihat rumah mereka yang tinggal puing, Jumat (30/8). Mereka belum ke sekolah, karena seragam terbakar. MIFTAHUL KHAIR/PONTIANAKPOST

Api Menghanguskan Rumah Benediktus di Tebedak

Api membakar habis rumah Benediktus (49), di Gg Perintis Dusun Dengoan Desa Tebedak Kecamatan Ngabang Kamis (29/8) malam. Tak sampai satu jam, api menghancurkan rumah. Tak ada satu harta benda pun yang bisa diselamatkan dari musibah itu.

Miftahul Khair, TEBEDAK

API muncul sekitar pukul 23.28 WIB. Dalam hitungan menit api kian membesar. Tiga mobil pemadam kebakaran yang turun pada malam itu tak dapat berbuat banyak untuk memadamkan api yang sudah terlanjur membakar rumah yang 70 persen terbuat dari kayu itu. sekitar satu jam kemudian, api akhirnya mampu dijinakkan. Tapi rumah sudah habis terbakar. Ines (12) dan Meti (13), dua sepupu ini tengah tertidur lelap di kamarnya saat api membesar.
Ines menceritakan, awalnya ia tak menyadari adanya api. Ia pun tak mendengar suara tetangga yang berusaha membangunkannya.

Ia terbangun saat merasakan panas. Lalu ia mendengar suara potongan kayu jatuh ke lantai. Bergegas mereka keluar kamar, mengambil kunci, lalu berlari keluar rumah. Mereka berteriak, mencari pertolongan.

“Kami dengar kayak suara hujan. Rupanya api. Kami langsung lari minta tolong,” kata Ines.

Tak ada yang bisa mereka selamatkan. Hanya satu buah ponsel yang berada di dekat mereka malam itu. Semua pakaian ikut terbakar. Termasuk seragam sekolah, sepatu dan buku pelajaran mereka.

“Ndak sekolah hari ini. Karena seragam terbakar semua,” kata siswa SMP Maniamas Ngabang ini. Salah seorang warga yang tak ingin disebut namanya mengatakan, saat api muncul ia tengah bersantai di depan gang bersama warga lain. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan kedua anak yang tinggal di rumah tersebut. Mereka berlari memanggil-manggil warga.

“Saya langsung lari ke rumah itu dan mendobrak pintu. Saya pikir masih ada barang yang bisa diselamatkan. Rupanya api sudah besar,” katanya.

Sementara itu, Benediktus (49) sedang tak berada di rumah saat musibah itu terjadi. Ia dan sang istri tengah berada di kampungnya di Dusun Sungai Lonjeng, Desa Sekais, Kecamatan Jelimpo. Ia mengaku mendapatkan kabar dari salah seorang tetangga yang menelpon istrinya.

“Pagi tadi kami baru datang ke sini. Ternyata memang sudah habis (rumah, red). Tapi puji tuhan, keponakan kami masih selamat. Kalau rejeki bisa dicari kan, yang penting anak-anak selamat dulu,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini.

Ditanya soal kerugian yang dirasakan, Itus panggilan karibnya menyebut dapat mencapai angka Rp200 juta. Belum lagi surat-surat berharga yang disimpan di rumah tersebut. “Tak ada satu potong harta benda yang bisa diselamatkan,” terangnya.

Ia mengaku belum dapat memikirkan apa yang akan dilakukannya dalam beberapa hari ke depan. “Untuk sementara kami bisa tinggal di kampung. Lalu keponakan kami diungsikan ke rumah saudara di Ngabang,” katanya.
Itus juga mengucapkan terima kasihnya kepada bupati yang mau melihat langsung rumahnya yang telah habis terbakar. Beserta bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepadanya. “Kami ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pemerintah. Bantuan ini sangat berharga untuk kami,” katanya lirih.

Berikan Bantuan

Pemerintah Kabupaten Landak langsung menyalurkan sejumlah bantuan kepada peristiwa nahas tersebut. BPBD Landak mengirimkan paket bantuan sembako, alat memasak, pakaian hingga selimut pada Jumat (30/8) siang.

Bupati Landak, dr Karolin Margret Natasa pun turut meninjau langsung lokasi kebakaran. Sekaligus berdialog singkat dengan korban. Menurutnya, kedatangannya siang itu merupakan bentuk perhatian pemkab kepada warganya yang mendapatkan bencana.

“Kami prihatin akan bencana yang menimpa keluarga Pak Benediktus. Kami menyampaikan keprihatinan kami, sejumlah bantuan dari pemkab sebagai bentuk perhatian kita,” katanya.

Sebagai salah seorang warga bumi intan, menurutnya pemerintah turut berkewajiban ikut bergotong royong untuk meringankan beban warga yang sedang berduka. “Kita berharap penyebab kebakaran bisa segera diketahui, sehingga bisa menjadi kewaspadaan bagi kita semua,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Polsek Ngabang masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. Garis polisi pun telah terpasang mengelilingi TKP.

Kapolsek Ngabang, Bradanata Sembiring yang ikut turun pada malam itu menyebut anggota Polsek datang ke TKP untuk membantu petugas pemadam kebakaran yang datang kemudian melakukan pemadaman di lokasi. Selanjutnya memastikan bahwa api sudah benar-penar padam dengan cara menyemprotkan air ke bekas kebakaran tersebut.

Kapolsek menambahkan, tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, namun rumah korban berikut barang yang ada hangus dilalap api, tinggal menyisakan puing puing saja. Kerugian akibat kebakaran ditaksir mencapai Rp 200 juta.

“Penyebab kebakaran masih belum diketahui . Karena api dilihat sudah membesar saat diketahui saksi di TKP ” jelas Kapolsek. (*)

Read Previous

Menolak Kenaikan Iuran BPJS

Read Next

Oknum Guru Cabuli Siswa dengan Cara tak Wajar

Tinggalkan Balasan

Most Popular