Serapan Dunia Kerja Makin Tinggi

polnep

Hari ini, Polnep Luluskan 1.290 Wisudawan

PONTIANAK – Serapan dunia kerja akan tiap lulusan dari Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) semakin tinggi. Tidak sedikit dari mahasiswa Polnep yang direkrut perusahaan, bahkan saat mereka masih menyusun tugas akhir.

“Sebelum diwisuda sudah ada mahasiswa kami yang direkrut. Ini sesuai harapan kami. Semua lulusan, termasuk yang tahun ini cepat diserap dunia kerja. Paling lama 2-3 bulan setelah lulus,” ujar Direktur Polnep, Ir HM Toasin Asha MSi di kantornya, kemarin, 10 September 2019.

Hari ini, 11 September 2019, Polnep kembali mencetak 1.290 wisudawan. Rapat senat terbuka wisuda digelar di Auditorium Universitas Tanjungpura, Jl Ahmad Yani Pontianak. “Tahun ini, prodi yang meluluskan bertambah. Lulusan tahun ini secara IPK rata-rata pun lebih baik dari sebelumnya. Ini bagian dari keberhasilan proses pembelajaran yang relatif lebih bagus,” katanya.

Seperti wisuda sebelumnya, Polnep mengganjar lulusan dengan IPK tertinggi dengan piagam penghargaan dan sedikit hadiah. Bedanya tahun yang menerimanya dikelompokkan berdasarkan tiga bidang ilmu. (1) Bidang ilmu rekayasa, yaitu Teknik Sipil, Elektro, Arsitek, Mesin. (2) Bidang pertanian perikanan, yaitu prodi di bawah Jurusan Pertanian dan Perikanan. (3) Bidang Tata Niaga, yaitu prodi di bawah Administrasi Bisnis dan Akuntansi.

“Saya lihat yang lalu IPK tertinggi dari jurusan tertentu, sehingga tahun ini dikelompokkan. Harapan saya jadi lebih fair. Semoga jadi kebanggan tersendiri para lulusan,” ujarnya.

Toasin juga berharap, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji SH MHum bisa hadir dalam wisuda. “Saya sudah beraudiensi langsung dengan bapak gubernur. Semoga besok tidak ada halangan dan beliau bisa hadir di wisuda kami,” katanya.

Ia menambahkan, tahun ini, Polnep mendapat tambahan delapan dosen S2 yang sudah menyelesaikan S3-nya. Pun sudah tarun keputusan dari Kemenristekdikti, satu dosen menjadi guru besar bidang bahasa inggris. Ada dua lagi yang mengusulkan guru besar bidang pertanian dan manajemen bisnis.

“Sudah menjadi impian semua dosen meraih jabatan tertinggi, guru besar. Semoga tidak ada kendala dalam proses dua guru besar lagi,” ujarnya. “Polnep komit mendukung dosen untuk meningkatkan kualifikasinya dari S2 menjadi S3, hingga guru besar.”

Semakin tingginya standar lulusan Polnep berimbas pada semakin tingginya minat lulusan SMA/SMK menjadi mahasiswa di sana. Tingginya animo pendaftar memaksa beberapa prodi menambah kuota penerimaan mahasiswa. “Ada beberapa prodi yang minta izin tambah kuota, seperti Arsitek, Sipil, Akuntansi, dan IT,” katanya.

Tiap lulusan Polnep tak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga sertifikat komptensi dari lembaga resmi sertifikasi negara. Saat ini, Polnep masih menerima bantuan Kemenristekdikti terkait biaya sertifikasi tersebut. Tetapi kedepan, Polnep dituntut mandiri untuk pembiayaannya.

“Ini sudah menjadi keharusan setiap perguruan tinggi vokasional, sebelum lulus mahasiswa minimum ikut satu skema. Dalam satu prodi bisa beberapa skema. Alhamdulillah, teknik sipil dapat alokasi anggaran dari Kementerian PUPR,” ujarnya.

Secara kelembagaan, Polnep pun terus berbenah, seperti dalam pengajuan SOTK. “Alhamdulillah, kami sudah terima balasan untuk SOTK. Tahun 2019, tahun terakhir Renstra, kami juga akan mempersiapkan Renstra baru sesuai Kemenristekdikti,” katanya.

Hal tak kalah penting adalah Visi Misi Polnep, apakah ditingkatkan atau dipertahankan dengan jangka waktu diperpanjang di 2019. Pada 2020, Polnep kembali mempersiapkan akreditasi institusi. “Standarnya baru, kriterianya naik. Tadinya A menjadi Unggul, B menjadi Baik Sekali, dan C menjadi Baik. Unggul ini di atas A. Ini tantangan kami ke depan,” ujarnya.

Terkait pengembangan prodi, ada beberapa jurusan yang telah mengusulkan, seperti Prodi Pariwisata/Perhotelan, Prodi D4 Pembenihan Ikan, dan Prodi D4 Alat Berat. “Tim sudah menyusul proposal, tinggal tunggu dirapatkan dalam senat,” katanya.

Saat ini, Polnep memiliki lebih dari 6.000 mahasiswa, jumlah ini sudah melebihi kapasitas daya tampung. “Kemungkinan ada kelas darurat satu semester. Kami masih menunggu penyelesaian gedung belakang yang bisa menampung 3.000 mahasiswa dalam dua shift. Dalam jangka panjang, kami harus cari lokasi baru pengembangan kampus. Kami ada lahan kebun 10 hektar dari Mega Timur dan lahan di Mempawah. Kemungkinan bisa jadi lokasi baru pengembangan kampus,” pungkasnya. (mde)

Read Previous

Dominasi Pertanian di Bumi Lawang Kuari

Read Next

Walau Ditentang, Jokowi tetap Terbitkan Surpres Revisi UU KPK

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *