Serunya Merawat Puluhan Kucing

Dokumentasi Mega

Siapa yang tidak suka kucing? Hewan peliharaan satu ini memang banyak disenangi. Saking senangnya, sebagian orang memelihara kucing dalam jumlah yang banyak, mulai dari belasan hingga puluhan ekor. Mereka tak segan mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah untuk perawatan binatang yang dikenal jinak tersebut.

Oleh : Siti Sulbiyah

Kegemaran memelihara kucing itulah yang membuat Mega, Ewin, dan Indah saling mengenal. Mereka tergabung dalam komunitas pencinta kucing atau Cat Lover di Kota Pontianak. Lewat wadah ini mereka sering berdiskusi tentang pemeliharaan kucing yang benar.

Mega mulai memelihara kucing pada tahun 2015. Waktu ini ia hanya punya seekor dengan ras exotic shorthair atau kucing bulu pendek eksotis. Baginya, kucing adalah teman yang bisa diajak bermain dan bermanja.

“Suka kucing karena lucu dan manja,” ungkap Mega saat ditemui di kediamannya di Sungai Raya Dalam, Kota Pontianak.

Setelah beberapa waktu, ia pun memutuskan untuk menambahkan satu ekor lagi sebagai teman bagi kucing pertamanya. Sepasang kucing yang berjenis kelamin berbeda tersebut akhirnya beranak pinak.

Seiring berjalannya waktu, kecintaannya pada mamalia karnivora itu semakin besar. Hal Ini pun membuatnya menambah jumlah kucing dengan berbagai ras yang berbeda. Hingga saat ini ada sekitar 45 ekor kucing yang ia pelihara, dengan empat jenis ras.

“Ada ras British Shorthair, Exotic Shorthair, Persia, dan Munchkin,” sebutnya.

Kucing-kucing yang ia pelihara diberikan ruangan khusus. Setiap ruangan memiliki beberapa kamar. Satu kamar dihuni satu kucing. Ada pula yang dihuni lebih dari satu kucing, yakni kucing betina dengan anak-anaknya. 

Ruangan yang disediakan dibuat senyaman mungkin. Ada pendingin ruangan untuk menjaga suhu ruangan agar tetap nyaman dihuni. Sebab jenis kucing ras yang ia pelihara tidak tahan panas. Mereka juga rentan terkena penyakit apabila suhu terlalu tinggi.

“Juga pasang CCTV untuk mengawasi mereka,” ujarnya.

Punya puluhan kucing membuatnya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memberikan perawatan yang terbaik, mulai dari kebersihan dan hingga kesehatannya. Untuk makanan saja, satu bulan dia perlu menyediakan empat karung pakan. Satu karung harganya Rp1,2 juta. Selain pakan, perawatan lainnya adalah penyuntikan vaksin, pemberian obat cacing, dan mandi. 

“Jadi kalau ditotal sebulan mungkin bisa Rp10 juta,” katanya.

Mega dan Kucing-kucingnyanya

Mengingat biaya yang mahal tersebut, hobinya memelihara kucing pun dijadikan usaha. Kucing-kucing yang ia pelihara dikembangbiakkan untuk dijual kembali. Kini ia telah mengantongi sertifikat tempat pembiakan kucing.

Usaha itu ia rinitis di rumahnya. Selain menjual kucing, ia juga menjual aksesoris dan perawatan kucing. “Yang mengadopsi kucing ini ada yang dari Pontianak, ada juga yang di luar Pontianak,” ucapnya.

Berbagai kontes juga pernah diikuti. Ada puluhan kontes pernah ia menangkan lewat berbagai event yang digelar. “Pernah Juara 1 kontes kucing di Jakarta,” pungkasnya.

Berbeda dengan Mega, Ewin semula tidak begitu berminat pada hewan mamalia yang masuk dalam keluarga Felidae tersebut. Ia justru tertarik pada hewan-hewan reptil. Namun suatu ketika, sang kekasih meminta dirinya membelikan sepasang kucing persia. Seiring berjalannya waktu, sepasang persia tersebut beranak pinak. Jumlahnya pun bertambah. 

“Semakin lama semakin jatuh hati dengan kucing ini. Kucing ini meluluhkan hati saya,” ucapnya.

Sejak saat itulah, ia menambah jumlah kucing dengan jenis yang berbeda, mulai dari jenis Maine Coon, Sphynx, hingga kucing domestik atau kucing kampung. Hingga kini jumlah kucing yang ia pelihara sebanyak 13 ekor. 

Seluruh kucing, baik ras maupun domestik, diperhatikan kesehatan dan kebersihannya. Perawatan kucing diakuinya juga tidak mudah. Mereka harus dimandikan secara rutin, diberikan vaksin, sampai diminumkan obat cacing. Itu dilakukan agar kucing tumbuh sehat. 

“Kita berikan yang terbaik untuk kucing, dan dianggap seperti anak sendiri,” ucapnya.

Ewin sendiri bekerja di sebuah pangkas rambut di Kota Pontianak. Sepulang kerja, ia kerap melepas penat dengan berinteraksi dengan seluruh kucingnya itu. Bermain bersama kucing baginya merupakan cara untuk melepaskan stres. Tingkahnya yang lucu, membuat Ewin bisa melepas kejenuhan dan kelelahan.

Ke depan ia ingin menambah jumlah kucing dengan jenis yang berbeda. Ia juga semakin serius mengembangiakkkan hewan satu ini. Saat ini ia tengah mengurus sertifikat tempat pembiakan kucing.

Sebagian kucing memang untuk dijual kembali. Namun uang hasil penjualan bukan semata untuk kepentingannya, melainkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kucing yang dipelihara. “Beberapa kucing memang dibeli orang untuk diadopsi. Pembelinya juga dari berbagai daerah, bahkan pernah dari Malaysia,” tutupnya.

Sama seperti Mega dan Ewin, Indah juga memelihara beberapa kucing dengan ras yang berbeda. Setidaknya ada belasan kucing yang dipelihara dengan enam ras, mulai dari British Shorthair, Bengal, Munchkin, Exotic Shorthair, Persia, dan Scottish.

Setahun terakhir ia mulai fokus untuk mengembangbiakkan hewan yang terkenal jinak tersebut. Sama seperti Mega, ia juga telah mengantongi sertifikat tempat pembiakan kucing. “Belum lama ini dapat sertifikatnya. baru mulai belajar breeding,” ucapnya.

Merawat kucing baginya sudah seperti merawat manusia. Diperhatikan nutrisinya, diberikan vaksin dan obat cacing, agar si kucing tumbuh sehat. Diperhatikan kebersihannya supaya kucing tetap memiliki penampilan yang bersih dan menarik. Selain menyediakan kamar-kamar yang representatif, ruangan pembiakan kucing juga dipasang air purifier untuk menyaring udara dari partikel-partikel virus.

“Sebab kucing juga rentan sakit dan tertular virus. Apalagi untuk yang anak kuning yang belum mendapat vaksin, virus lebih cepat menular,” katanya.**

 

Takut Virus FPV

Indah tidak bisa menahan air mata ketika kucing peliharaan yang ia sayangi sakit. Ia tidak tega melihat peliharaannya menderita menahan rasa sakit akibat bakteri atau virus yang menyerang.

“Melihat kucing yang sakit rasanya tidak tega. Sedih,” tuturnya.

Kucing ras menurutnya rentan sakit dan tertular virus. Apalagi ketika musim panas dan cuaca yang tidak menentu. Pada kondisi itulah, penyebaran virus sulit ditanggulangi. Walau sudah diantisipasi dengan menjaga kebersihan, hingga menggunakan air purifier untuk menyaring partikel virus, namun hal tersebut tidak sepenuhnya menutup kemungkinan kucing terinfeksi virus.

Salah satu virus yang sangat ia takuti adalah Feline panleukopenia virus (FPV) atau panleukopenia kucing. Infeksi virus yang menyerang kucing, baik kucing liar maupun peliharaan ini merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat membunuh kucing.

“Pernah kucing saya mati kena virus. Dan itu membuat saya menangis,” tutupnya. (sti)

Indah dan kucing Ras Scottish

Beli Pendingin Ruangan

Memastikan ruangan agar tetap nyaman dihuni menjadi salah satu cara agar kucing peliharaan tumbuh sehat. Kondisi cuaca di Kota Pontianak yang kerap dalam suhu yang panas membuat kucing rentan sakit. Bahkan karena kondisi yang panas pula, bulu-bulu kucing banyak rontok.

Itulah sebabnya Ewin buru-buru pembeli pendingan ruangan ketika kucingnya tiba-tiba menunjukan gejala kurang sehat. Indikasinya adalah bulu-bulunya yang rontok. “Kemarin kucing tiba-tiba bulunya rontok, aku cepat-cepat beli AC,” ucapnya.

Kucing ras memang tak tahan panas. Kondisi panas bukan hanya membuat bulunya banyak rontok. Suasana yang panas membuat mereka ngos-ngosan hingga menjulurkan lidahnya. “Pokoknya berikan yang terbaik untuk kucing. Jangan sampai mereka kepanasan,” ujarnya. (sti)

 

Ewin dan Kucing Sphynx

Jadi Seperti Bidan Siaga

Mega harus lebih siaga ketika ada kucingnya yang hendak melahirkan. Ia selalu memantau kondisi si betina jelang waktu bersalin. Kucing betina ketika akan melahirkan, akan terlihat tanda-tandanya.

“Selain menghitung waktu kehamilan, kucing betina kalau mau melahirkan akan menunjukkan tanda-tanda gelisah. Saat itulah aku mulai sering memantau,” kata Mega.

Ya, layaknya manusia, kucing ras dalam proses melahirkan membutuhkan bantuan. Karena itulah, kucing membutuhkan seorang ‘bidan’ agar proses bersalin lancar dan mudah. “Seperti jadi bidan gitu. Saat kucing melahirkan, kita bantu menarik anaknya yang mulai tampak keluar,” ujarnya.

Dalam kondisi yang lain, posisi anak ketika akan keluar juga tidak pas. Misalnya posisi sungsang, yang membuat anak dalam rahim si betina sulit keluar. Kondisi ini yang sangat diperlukan bantuan manusia. Bahkan terkadang perlu bantuan dokter hewan.

“Bahkan kalau anaknya sungsang, sulit dikeluarkan, kucing terpaksa disesar,” ucapnya. (sti)

Mega dan Kucing Ras British shorthair
error: Content is protected !!
Hubungi Kami!