Si Kecil Malas Mandi

Aqilatul Hafidza. SITI/PONTIANAK POST

Mengajak si kecil mandi terkadang menjadi sebuah tantangan yang tidak mudah. Apalagi jika penolakan terjadi berulang kali dan terlampau sering. Orang tua pun bisa dibuat jengkel. Lalu bagaimana mengatasi anak yang malas mandi?

Oleh : Siti Sulbiyah

Ada saja alasan atau tingkah laku anak untuk menolak ajakan mandi ayah dan bunda, mulai dari enggak mau beranjak dari tempat tidur, asik bermain, atau betah menghadap televisi. Padahal anak-anak, khususnya balita, paling suka bermain dan beraktivitas di tempat-tempat yang bisa membuatnya terkena debu atau kotoran. Belum lagi aktivitas yang luar biasa membuatnya berkeringat.

Itulah mengapa mereka perlu mandi secara rutin, agar tetap bersih dan sehat. Namun terkadang anak menolak untuk mandi dengan berbagai alasan. Menurut Desni Yuniarni, M.Psi. Psikolog, ada beberapa alasan anak enggan atau malas mandi.

“Biasanya karena pengalaman awal yang diterima kurang menyenangkan,” ungkap Desni. Ia mencontohkan adanya perasaan dingin ketika terkena air, atau pernah kemasukan air yang membuatnya menjadi tidak nyaman. “Selain itu juga bisa karena pengalaman lain yang membuat balita merasa mandi menjadi hal yang tidak menyenangkan,” tutur Desni.

Narasumber : Desni Yuniarni, M.Psi. Psikolog

Penolakan yang dilakukan si kecil hendaknya disikapi dengan respons yang positif. Dikatakannya, sikap positif itu di antaranya dengan tidak memarahi, memaksakan, atau tindakan negatif lainnya yang justru membuat balita tambah tidak mau mandi. Apalagi sampai memberikan hukuman kepada mereka.

Lantas bagaimana mengatasi hal ini? Dosen Prodi PG PAUD FKIP Untan ini menuturkan cara positif mengajak anak untuk mandi adalah dengan membuat kegiatan mandi menjadi aktivitas yang menyenangkan. Sebab, sudah menjadi kodrat anak-anak senang dengan hal-hal yang menyenangkan. Salah satunya dengan permainan. Pada saat mandi orang tua bisa mengajaknya bermain.

“Mainan-mainan anak bisa dibawa ke bak mandi. Apakah itu bebek-bebekan, pistol-pistolan air, bola-bola kecil, atau bermain sabun-sabunan. Jadi diajak bermain air di kamar mandi,” ucapnya.

Mengingat dunia anak adalah dunia bermain, kata dia, maka tanamkanlah persepsi yang positif bahwa mandi adalah yang kegiatan yang menyenangkan. Ketika sudah menjadi kegiatan yang menyenangkan, anak akan lebih mudah untuk diajak mandi. Bahkan, semakin betah berlama-lama.

Selain itu, orang tua juga harus tahu alasan anak tidak mau mandi. Sebab bisa jadi karena ia tidak tahan dingin atau karena takut terkena shampo yang membuat matanya pedas. Apabila si kecil enggan mandi karena tidak tahan air dingin, Pemilik Biro Konsultasi Psikologi Indigrow ini menyarankan untuk menggunakan air yang hangat. Namun, semakin bertambah umur, penggunaan air hangat untuk mandi harus dikurangi sedikit demi sedikit agar tubuh anak bisa menyesuaikan suhu normal air.

Sedangkan apabila tidak mau mandi karena khawatir terkena shampo yang membuat matanya pedas, maka orang tua bisa membantunya menggunakan shampo secara perlahan, sambil mengajarkan anak.

“Bisa dia (anak,red) menuangkan sendiri shamponya. Katakan kepadanya kalau ini enggak apa. Atau penggunaan shamponya bisa dengan handuk basah. Bisa juga disediakan handuk kering sehingga airnya bisa diusap. Tentu ini prosesnya bertahap pelan-pelan dan harus sabar,” jelasnya.

Mandi adalah ritual harian yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Karena itu, menurut Desni, sudah semestinya orang tua tahu kapan akan mengondisikan suasana yang membuat anak tidak menolak ajakan untuk mandi.

“Ketika mengajak anak mandi, kita sudah mengkondisikan melalui bahasa tubuh dan intonasi yang terdengar menyenangkan. Lewat senyuman misalnya, kita ajak anak untuk melakukan hal-hal menyenangkan di kamar mandi,” ujarnya.

Tidak kalah penting, tambah dia, adalah memberikan apresiasi kepada si kecil karena mau mandi. Apresiasi menurutnya tidak harus berupa barang, namun cukup dengan berikan pujian yang membuatnya merasa bangga atas hal yang telah ia lakukan.

Selain membuat kegiatan mandi semenarik mungkin, setelah mandi anak diberikan reward. Tidak harus berupa barang, misalnya dengan mengacungkan jempol, atau menceritakan bahwa anak mau mandi dan tidak rewel kepada anggota keluarga lain.

“Reward seperti itu akan memperkaya pengalaman anak bahwa mandi merupakan  kegiatan yang menyenangkan,” pungkasnya. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!