Si Kecil Mengalami Baby Shaming

Body shaming tak hanya dialami remaja dan orang dewasa. Anak-anak, bahkan bayi juga bisa mengalaminya. Tak jarang hal itu membuat sang ibu stres dan depresi. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Body shaming adalah tindakan mengomentari bentuk fisik seseorang baik disengaja maupun tidak. Kebanyakan korban body shaming adalah rekan seusia atau yang lebih dewasa. Tapi, balita dan bayi juga bisa jadi korban body shaming.

Seperti dialami oleh buah hati  Rizkina. Perempuan berusia 25 tahun ini mendapat komentar yang ditujukan pada foto buah hatinya.

“Di kolom komentar sempat ada yang nulis ‘Na, kok jidat anaknya lebar banget. Kemudian, ada juga yang minta hidung Raffa baiknya dipencet-pencet supaya mancung. Belum lagi ada yang bilang Raffa kurang gembul, masih kurus kelihatannya,” curhat Rizkina.

Awalnya, Rizkina masih menanggapi komentar tersebut dengan bijak. Bahkan, dia berterima kasih pada orang yang sudah perhatian pada buah hati tercintanya.  Namun, beberapa waktu lalu saat membawa sang bush hati bertemu teman-temannya, Rizkina kembali mendapatkan komentar mengarah body shaming pada buah hatinya. Dia pun menjadi kepikiran. Tak jarang jadi menangis.

“Benar-benar kepikiran, ngerasa apa gagal jadi ibu. Body shaming yang ditujukan pada buah hati itu sangat menyakitkan. Beruntung suami dan keluarga selalu menguatkan hati, sehingga saya terhindar dari stres dan depresi,” ungkap Rizkina.

Psikolog Verty Sari Pusparini, M.Psi mengatakan tindakan mengomentari bentuk fisik, khususnya pada bayi umumnya dikenal dengan sebutan baby shaming. Hal ini dikarenakan bayi masih kecil dan belum memahami apa yang diucapkan orang lain. Umumnya, baby shaming ini ditujukan kepada orang tuanya. Baby shaming umumnya dilakukan karena adanya perasaan lebih tahu atau merasa berhasil dalam pengasuhan anak.

“Sehingga, yang bersangkutan ingin mengajarkan atau menegur orang tua lain dalam pengasuhan,” katanya.

Psikolog di Aplikasi Halodoc ini menuturkan baby shaming termasuk perilaku perundungan. Ada orang lain yang merasa lebih baik atau superior sehingga melukai orang yang dianggapnya lemah atau inferior. Baby shaming dapat dilakukan berulang-ulang sehingga sangat menyakiti bagi yang mendengarnya

Menurut Verty, umumnya ada standar tertentu di mata masyarakat dalam pengasuhan yang berbeda di tiap budaya, bahkan individu. Ini yang menjadi alasan terjadinya baby shaming.

Psikolog di Sekolah Pelita Cemerlang ini menyarankan orang tua tak memasukkan semua perkataan orang lain ke dalam hati karena tak semua komentar tersebut benar. Kebanyakan malah komentar tersebut pandangan subjektif atau mitos, jika dibandingkan dengan ilmu kesehatan. Orang tua diharapkan dapat menambah pengetahuan dengan banyak mencari tahu ilmu pengasuhan dari sumber yang tepat.

“Misalnya seperti bertanya kepada dokter, atau mengacu pada materi ilmiah. jika orang tua sudah memiliki pengetahuan, diharapkan dapat bisa menyortir perkataan yang benar,” sarannya.
Ketika mendapat baby shaming (yang mengarah pada mom shaming nantinya), sebaiknya dapat berpikir jernih, dan tak menyalahkan diri sendiri. Harus dapat mengelola emosi sehingga tidak menyalahkan diri sendiri atau bayi yang diasuh.

“Tanamkan pikiran bahwa ‘My baby is not yours’. Pengasuhan utama bayi tentunya pada orang tua, bukan pada orang yang mungkin hanya bertemu beberapa kali,” jelas Psikolog dan Founder Borneo Parenting Club ini.

Verty menyatakan setiap orang tua boleh memiliki standar pribadi mengenai anaknya.  Namun, jangan membiarkan anak mengikuti standar orang lain. Tanamkan bahwa sudah menjadi orang tua yang baik. Jika perlu, lakukan pemeriksaan tumbuh kembang di dokter atau psikolog untuk mendapatkan informasi yang tepat.

“Perlu diingat, zaman yang terus berubah membuat orang semakin melek sehingga muncul pengetahuan baru,” ujar Verty.

Jika orang tua merasa down, mengganggu kemampuannya dalam pengasuhan bayi, sebaiknya kunjungi profesional kepada psikolog untuk mendapatkan penanganan psikologis.

“Sejatinya, mengasuh anak merupakan sesuatu yang cukup sulit terutama bagi orang tua baru. Suami istri diharapkan dapat saling mendukung dengan tak berkata negatif, baik kepada pasangan atau kepada anak,” kata Verty.

Verty juga mengingatkan agar tak menyerang cara pengasuhan orang lain. Setiap orang punya cara pengasuhan yang berbeda.

“Jika ingin memberi masukan, gunakan kalimat halus yang tidak menyerang. Kalimat ‘Anaknya kurus ya’ diganti ‘Walau badannya kecil, tapi lincah ya’,” pungkas Verty. **

Read Previous

Pasien Positif Corona Membaik

Read Next

Seorang Pekerja Asing di Ketapang Bebas Corona

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *