Siap Keuangan Hadapi Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi menjadi perbincangan hangat saat ini. Sebagian kalangan menganggap resesi ini cukup menyeramkan bila benar-benar terjadi. Persiapan menghadapi resesi pun mulai dilakukan agar keuangan terjamin. Langkah apa saja yang dapat dilakukan?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Resesi adalah periode penurunan ekonomi sementara dimana perdagangan dan aktivitas industri berkurang. Umumnya ditandai dengan penurunan produk domestik bruto (PDB) dalam dua kuartal berturut-turut.

Resesi keuangan menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan, terlebih dalam kondisi krisis akibat pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bisa saja resesi ekonomi terjadi dalam waktu dekat.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untan, Dr. Helma Malini, SE., MM mengatakan resesi mungkin saja terjadi tahun 2021. Namun, jika kondisi ekonomi memburuk resesi bisa saja mulai terjadi pada akhir tahun 2020.

“Tentunya sebelum resesi benar-benar akan terjadi, seseorang sudah harus mempersiapkan keuangan pribadi agar bisa bertahan hidup,” kata Helma.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memiliki dana darurat. Helma menyarankan sebaiknya dana darurat ini sudah dipersiapkan sejak jauh hari.

Dalam kondisi krisis seperti ini, perusahaan tempat bekerja bisa saja mengalami kebangkrutan, hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena mengalami kemerosotan ekonomi. Menemukan pekerjaan baru di tengah resesi dirasa sangat sulit.

“Di sinilah dana darurat akan sangat berguna. Pada rentang waktu dimana mencoba mencari pekerjaan baru, Anda dapat membiayai hidup dengan dana darurat yang dikumpulkan,” ujar Helma.

Idealnya, lanjut Helma, besarnya dana darurat harus bisa mencukupi kebutuhan selama tiga sampai enam bulan.

Langkah kedua yang dapat dilakukan adalah melunasi utang. Terlilit utang ketika perekonomian sedang memburuk bukanlah hal yang menyenangkan.

“Kalau Anda masih memiliki tunggakan utang atau cicilan, lunasi lah segera,” tutur Helma.

Misalnya, dari empat utang yang dimiliki, bisa membayar dua utang lebih dulu dan menyisakan dua utang lainnya hingga nanti memiliki uang untuk membayar.

“Usahakan saat resesi terjadi, seluruh utang yang dimiliki sudah dibayar lunas,” tutur Helma.

Langkah ketiga, mengesampingkan kebutuhan jangka pendek yang tidak perlu. Helma menuturkan jika benar-benar ingin, bisa menunda hingga ada kelebihan finansial. Usahakan untuk memprioritaskan kebutuhan yang memang diperlukan.

Langkah keempat, manfaatkan peluang. Helma menyatakan sah-sah saja memanfaatkan peluang yang ada. Misalnya, membangun usaha yang dapat menghasilkan kebutuhan dasar. Harus yakin bahwa peluang yang coba dibangun bisa menghasilkan.

“Tanpa adanya keyakinan, peluang tersebut tak akan berjalan sesuai yang diharapkan,” ucapnya.

Helma menambahkan uang yang dimiliki akan habis, jika menghadapi resesi tanpa persiapan. Kebutuhan harian tak bisa terpenuhi dan akhirnya tak bisa hidup layak.

Peminjaman uang tak akan bisa dilakukan. Karena saat akan melakukan kredit, bank harus mengetahui apakah peminjam memiliki pemasukan dalam frekuensi tiga bulan.

“Bank juga melihat apakah tabungan yang dimiliki layak atau tidak,” pungkas Helma. **

 

loading...