Siasati Pandemi, Ciptakan Anyaman Bambu dan Rotan

Menganyam bambu dan rotan menjadi aktivitas produktif sejumlah warga di Mengkiang, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Masa pandemi Coronavirus Disease (Covid–19) tidak menyurutkan mereka menjadi manusia produktif. Mereka terus berlatih dengan dibimbing ahlinya.

SUGENG ROHADI, Mengkiang

Salah satu warga Desa Mengkiang, Mamy (35) mengatakan untuk jenis anyaman yang dibuatnya antara lain berupa keranjang, bakul dan lainnya dengan menggunakan bahan bambu dan rotan.

“Hari ini, kami finishing anyaman. Kalau saya pribadi buat anyaman berbentuk keranjang, tas, tempat sampah, tempat sayur, bakul nyuci beras dan jenis lainnya. Bahan bakunya, ada yang dari rotan dan bambu. Bahan baku itu saya dapatkan dari hutan sekitar,” ungkapnya.

Mamy baru setahunan terakhir menekuni seni anyaman tersebut. Ratusan produk sudah diciptakannya. Mengenai pemasaran, dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau, terutama Dekranasda dan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi.

“Pemasaran dibantu oleh Dekranasda dan Perindagkop. Kalau untuk order Pesanan anyaman ada yang dari Mengkiang dan juga dari luar Kota Sanggau,” katanya.

“Kalau order dari luar kota, kadang lima sampai sepuluh produk dengan variasi harga kisaran 20an ribu sampai 200an ribu rupiah,” tambah perempuan yang sehari–hari bertani dan berkebun ini.

Sementara itu, Anen (37), warga asal Dusun Kambong, Desa Kambong ini membuat produk anyaman berupa keranjang cuci sayur, tampi, keranjang tempat buah buahan dan lainnya dengan variasi harga Rp20–50 ribu.

“Kalau untuk permintaan (Pesanan,red) yang dari daerah kita di sini ada. Dari luar kota juga ada,” ujar sosok ibu yang kesehariannya bertani ini.

Melalui produk anyamannya, ada hasil tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. “Seratus, dua ratus (Ribu,red) adalah setiap bulan untuk nambah-nambah mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.

Mengenai kebutuhan alat bantu mesin, kedua ibu (Mamy dan Anen) tersebut menyampaikan keinginannya memiliki mesin sendiri untuk alat bantu meningkatkan produksi anyamannya. Sejauh ini semuanya dilakukan secara manual.

“Kadang permintaan banyak. Kalau ada mesin mungkin bisa maksimal produksinya. Sekarang ini, memang belum ada mesin. Untuk meluruskan bahan baku seperti rotan itu kan butuh mesin. Lalu perlu juga mesin serut dan mesin pembelah,” terang Mamy.

“Kadang satu hari mampu tiga atau empat anyaman. Tergantung model dan jenis anyamannya. Selain mesin, bahan baku juga sudah mulai sulit didapat terutama bahan dari tanaman rotan,” jelasnya.

Baik Mamy maupun Anen menyampaikan terimakasih atas pelatihan yang digelar oleh pihak Finnantara bekerjasama dengan pihak terkait. Termasuk juga kepada Pemerintah Kabupaten Sanggau.

“Terimakasih sudah diberikan pelatihan untuk meningkatkan potensi anyaman didaerah. Temen-temen Finnantara juga ada yang ambil hasil produknya. Sekali lagi terimakasih,” ujar Mamy mewakili rekan-rekan peserta lainnya.

Untuk diketahui, kondisi pandemi Covid–19 mengharuskan masyarakat untuk cepat beradaptasi dalam menghadapi tantangan–tantangan baru, terutama dibidang ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami penurunan hingga minus lima persen. Hal ini tentu berpengaruh khususnya bagi daerah di luar Jawa, di mana akses terhadap bahan baku dan informasi lebih terbatas sehingga dampak penurunan ekonomi lebih terasa di setiap rumah tangga.

Atas masalah tersebut, APP Sinar Mas bekerjasama dengan organisasi sosial kemasyarakatan Yayasan Doktor Sjahrir, The Climate Reality Indonesia, Asian Muslim Action Network (AMAN), dan Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) menggelar sesi dialog daring dengan tema peran serta dan pemberdayaan perempuan dalam masa pandemi.

Beberapa narasumber yang hadir dalam dialog tersebut antara lain Pembina Yayasan Doktor Sjahrir Kartini Sjahrir, Chief Sustainability Officer APP Sinar Mas Elim Sritaba, Manager The Climate Reality Indonesia Amanda Katili Niode, Direktur AMAN Ruby Kholifah, dan Ketua ANBTI Nia Sjarifudin. Sesi ini bertujuan mendorong para perempuan agar tidak terpuruk oleh kondisi ekonomi, melainkan tetap berdaya, dan bersemangat sembari mempraktikkan kebiasaan–kebiasaan baru.

Menurut Ketua Aliansi Bhinneka Tunggal Ika Nia Sjarifudin, masih ada harapan bagi perempuan Indonesia ditengah pandemi. “Dibalik kondisi yang serba tidak pasti, kami melihat habitus-habitus Pancasila masih sangat kuat dan mencerahkan. Tanpa instruksi, muncul empati dan gotong-royong di tengah masyarakat, baik itu saling membantu secara ekonomi, maupun saling mendukung untuk menjaga satu sama lain dengan mengikuti protokol kesehatan. Di sini banyak juga perempuan berperan sebagai inisiator. Itu sebuah modal sosial yang baik dalam menghadapi pandemi ini,” jelasnya.

Sesi dialog ini adalah bagian dari Project Kalimantan Rattan, kerja sama APP Sinar Mas dengan Yayasan Doktor Sjahrir dan Vintocraft. Kalimantan Rattan secara khusus berfokus pada pemberdayaan perempuan dengan mengasah keterampilan anyaman rotan, yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian keluarga mereka. Program yang telah berlangsung sejak tahun 2019 ini diterapkan di dua desa, yakni Desa Mengkiang di Kalimantan Barat dan Desa Miau Baru di Kalimantan Timur. Sebanyak hampir 40 ibu rumah tangga di bawah usia 45 tahun telah mengikuti rangkaian pelatihan yang bertujuan untuk membuat produk setempat yang berkualitas untuk dijual ke pasar luar negeri.

Chief Sustainability Officer APP Sinar Mas, Elim Sritaba menjelaskan bahwa salah satu hal penting yang dapat dilakukan oleh perempuan dalam masa pandemi adalah membangun ketangguhan keluarga. “Peluang selalu ada, dan komitmen kami adalah mengajak para perempuan untuk memanfaatkan peluang walaupun dalam kondisi yang serba tidak menentu. Kami berharap kerja sama ini dapat membuat perempuan Kalimantan semakin terampil, dan juga memperhatikan praktik bisnis yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan bernilai tinggi,” ujar Elim.

Kartini Sjahrir, Pembina Yayasan Doktor Sjahrir yang juga antropolog dan pemerhati masalah perempuan, menambahkan bahwa ibu sering berperan sebagai garda terdepan dan panutan dalam keluarga. “Di masa pandemi ini, peran mereka pun semakin besar untuk menguatkan keluarga, baik itu dalam hal melindungi anggota keluarga maupun menopang perekonomian. Maka kami memberikan dukungan penuh supaya komunitas-komunitas perempuan ini semakin terlatih dan mampu mengembangkan diri,” ujar Kartini.

Menyesuaikan dengan kebiasaan baru, usai sesi dialog ini, diadakan pula pelatihan secara virtual yang diikuti oleh sekitar 40 peserta hingga dua hari ke depan. Dijelaskan oleh Vinto B. Effendi, pemilik bisnis kerajinan tangan Vintocraft, peserta pelatihan anyaman rotan ini sebelumnya sudah memiliki sedikit keterampilan dalam menganyam, dan sudah terbiasa dengan penggunaan rotan di kehidupan sehari-hari sehingga potensinya cukup besar untuk dikembangkan. Dari Desa Kambong dan Mengkiang, Kalimantan Barat saja, sejak akhir 2019 sudah ada 600 hasil karya yang dapat diolah dan dipercantik oleh Vinto.

“Bagi pengrajin tidak ada istilah berhenti dan habis ide, karena sesuai pepatah ‘tak ada rotan akar pun jadi’, saat bahan sulit didapat atau mungkin sebuah anyaman gagal, mereka yang terampil akan menemukan solusinya. Maka di sini kami mendukung para peserta untuk lebih konsisten menciptakan kerajinan tangan rotan dengan kualitas yang lebih tinggi, serta terus mengasah kreativitas dan menemukan inovasi-inovasi baru,” ujar Vinto.

Pemberdayaan perempuan dalam Project Kalimantan Rattan ini adalah bagian dari program Desa Makmur Peduli Api, prakarsa APP Sinar Mas untuk memberdayakan warga di sekitar konsesi. Program DMPA ini dijalankan dengan mendukung masyarakat untuk mengelola lahan dengan metode agroforestri, yakni bercocok tanam tumpang sari hortikultura (sayur dan buah), tanaman pangan, peternakan, dan perikanan; serta industri kecil-menengah, baik untuk konsumsi sendiri maupun dijual sebagai alternatif sumber penghasilan keluarga. Program DMPA telah memberikan pendampingan terhadap 335 desa, lebih dari 20.000 kepala keluarga, dan 82 komunitas perempuan, di beberapa provinsi di Indonesia. (*)

error: Content is protected !!