Siswa Senang Bisa Sekolah Lagi, Pembelajaran Tatap Muka Dimulai
Rindu Teman dan Guru Terobati

SEKOLAH : Sejumlah sekolah di Pontianak di antaranya SMP Negeri 1 Pontianak mulai melakukan proses pembelajaran secara tatap muka setelah hampir setahun diliburkan akibat pandemi Covid-19, Senin (22/2). Sebelum melakukan pembelajaran setiap guru dan siswa wajib menerapkan standar protokol kesehatan. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POS

PONTIANAK – Hampir setahun sekolah tatap muka ditiadakan akibat pandemi Covid-19. Senin (22/2) kemarin, proses uji coba pembelajaran tatap muka dilakukan di 12 sekolah SD dan SMP di enam kecamatan Kota Pontianak. Ada rasa rindu, haru serta semangat optimis para murid saat hari pertama sekolah dilaksanakan, meskipun suasananya masih di tengah covid-19.

“Saat masuk sekolah, kami disambut guru-guru. Tak lupa pengecekan suhu lengkap dengan mekanisme protokol kesehatan dilakukan. Kami sangat senang bisa sekolah lagi. Rindu guru dan teman-teman,” ujar Siswa Kelas 9 SMP 2 Kota Pontianak, Mumammad Rizky Yansyah kepada Pontianak Post, Senin (22/2).

Selain pengecekan suhu, murid juga diwajibkan untuk mencuci tangan dengan sabun. Kemudian barulah dipersilahkan masuk ke kelas masing-masing. Di dalam kelas, jarak juga diatur sedemikian rupa.

Ia pribadi betul-betul rindu untuk belajar tatap muka. Rindu dengan teman dan guru-guru. Rindu bisa belajar bersama. Namun tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. “Alhamdulillah sudah bisa belajar tatap muka lagi. Kalau daring agak susah. Apalagi untuk memahami materi yang kurang dimengerti. Kalau sekarang kita tidak tahu bisa langsung bertanya ke guru,” ujarnya.

“Suasana belajar bersama di dalam satu ruangan salah satu yang saya rindukan dari sekolah. Namun masih di tengah covid, pastinya harus ikut menerapkan protokol kesehatan,” ujar siswa SMP 2 lainnya, Apranata.

Apranata terkesan dengan pembelajaran tatap muka di hari pertama ini. Bisa melihat guru menjelaskan di depan kelas. Kemudian bertemu kawan. Ini seperti rindu yang membuncah.

Di tempat sama, Camat Pontianak Selatan, yang juga sebagai tim penanganan percepatan Covid-19 di wilayahnya, Fursani juga ikut memantau pelaksanaan pembelajaran tatap muka di SMP 2 Pontianak.

Secara keseluruhan proses pembelajaran tatap muka di SMP 2 berjalan sesuai arahan tim satgas covid 19. Protokol kesehatan dijalankan betul. Sebelum masuk kelas, pemeriksaan suhu dilakukan. Kemudian anak diwajibkan untuk mencuci tangan menggunakan sabun. Di dalam kelas, jarak antara satu murid dengan murid lainnya juga telah diatur.

“Dari informasi pihak sekolah, pembelajaran diberlakukan shift. Untuk kelas A, B, C dan D Senin dan Selasa sedangkan untuk kelas E, F, G dan H dilakukan Rabu dan Kamis. Proses belajar mengajar hanya tiga jam. Maksimal murid di dalam kelas 18 orang, dengan jarak yang diatur,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam proses pembelajaran tatap muka, pihak SMP 2 terlebih dulu melaporkan kegiatan ini pada tim Satgas Covid di Kecamatan Pontianak Selatan. “Saya berharap kerjasama antara murid, guru dan orang tua dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian pembelajaran ini bisa dilakukan normal kembali,” ujarnya.

Kepala Sekolah SMP 2 Pontianak Selatan, Yudi Herdiana mengatakan dari 292 siswa kelas 9, ada 235 siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka di tahap pertama ini. Jika dipersentasekan terdapat 80,47 persen siswa ikut belajar tatap muka dan disetujui ortunya.

Pemaksimalan tim satgas Covid-19 di sekolah akan dilakukan. Saat ini, tim satgas berjumlah 28 orang. Tentu jika proses belajar mengajar di SMP 2 berhasil, akan ada tambahan kuota proses belajar tatap muka ini. Iapun bakal mengambil inisiasi untuk menambah jumlah tim satgas sebagai ujung tombak pengawasan Covid-19 di sekolah.

Pontianak Post juga melihat proses pembelajaran tatap muka di SD 20 Pontianak Selatan. Secara garis besar tidak jauh dengan sekolah lain yang ditunjuk buat melaksanakannya. Protokol kesehatan dijaga ketat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD 20 Kecamatan Pontianak Selatan, Rubiyanti menuturkan sebelum pembelajaran tatap muka diterapkan, sekolah sudah menyiapkan sarana prasarana penunjang penerapan protokol kesehatan. Lalu membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) langkah-langkah penerapan protokol kesehatan.

“Kami juga menghubungi berbagai pihak di antaranya RT setempat, komite dan Puskesmas. Lalu setelah ada instruksi dari dinas maka dijalankan (pembelajaran tatap muka) sesuai prosedur yang berlaku,” ujarnya.

Untuk tahap pertama ini, total sebanyak 27 murid melaksanakan proses pembelajaran tatap muka dibagi dalam dua kelas. Satu kelas di isi 14 dan 13 siswa. Seluruhnya merupakan kelas 6. Secara total siswa kelas 6 di SD 20 sebanyak 56 orang.

Untuk siswa kelas 6 lainnya akan melaksanakan pembelajaran tatap muka pada shift berikutnya. Jadi untuk Senin dan Rabu shift pertama, lalu Selasa dan Kamis shift kedua. Selain itu proses pembelajaran daring tetap dilakukan terutama bagi anak-anak yang tidak diizinkan orang tua untuk mengikuti pembelajaran tatap muka.

“Kita juga memberikan pembelajaran daring kepada anak-anak karena kondisi kesehatan mereka harus belajar di rumah,” ujarnya.

Ia melanjutkan, animo siswa pada saat pertama kali pembelajaran tatap muka sangat tinggi. Bahkan ada siswa yang datang sebelum jadwal masuk pada pukul 07.30. Untuk jam pembelajaran selama tiga jam dalam sehari.

Untuk materi pembelajaran, pihaknya menyampaikan materi penting yang sekiranya siswa mengalami kesulitan dalam belajar sendiri di rumah. “Kami memilah materi yang ada terutama bagi materi yang berkenaan untuk ujian sekolah,” katanya.

Ia menambahkan, beberapa waktu lalu pihaknya juga telah membuat surat persetujuan dari orang tua dengan menggunakan materai. “Untuk kelas enam hanya ada dua siswa yang tidak menyetujui proses pembelajaran tatap muka,” ucapnya.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono juga ikut memantau proses pembelajaran tatap muka hari pertama di SMP 1 Pontianak. “Proses pembelajaran tatap muka dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Tahap pertama ini kita prioritaskan kelas 9 SMP dan Kelas 6 SD,” ujar Wali Kota.

Kemudian kapasitas ruangan juga dibatasi maksimal 16 siswa. Untuk siswa lainnya tetap melakukan pembelajaran daring dari di rumah. Pembelajaran tatap muka ini akan terus dievaluasi. Jika aman dan baik maka akan dilanjutkan semakin meluas kepada kelas lainnya.

Pembelajaran tatap muka akan dilakukan pada sekolah yang sudah siap. Ia pun membuka pintu, bagi sekolah swasta jika ingin melaksanakan belajar tatap muka. Dengan catatan harus menerapkan protokol kesehatan serta mekanisme dari tim satgas Covid-19.

Hal terpenting sekolah mesti mempersiapkan sarana prasarana penunjang penerapan protokol kesehatan seperti pengecekan suhu tubuh, pencuci tangan atau membawa masker.

Sekarang zona di Kota Pontianak telah kuning. Kuncinya terus waspada bahwa bagaimana agar tidak timbul kluster terutama di sektor pendidikan.

Anak-anak diharapkan bisa menjadi duta siswa yang tangguh terhadap Covid-19. Evaluasi pembelajaran tatap muka setiap hari akan dilakukan. Jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan tim satgas Covid-19 akan terus memonitor murid dan guru.

Kepala Bidang SMA, Disdikbud Kalbar Fatmawati menjelaskan, pada dasarnya sekolah yang berada di daerah zona kuning sudah diperkenankan untuk memulai PTM. Sepanjang sekolah tersebut memiliki kesiapan sarana prasarana dan lainnya.

Khusus di Kota Pontianak, SMA Negeri yang sudah memulai PTM disebutkan dia antara lain, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 5, SMAN 11. Sementara untuk SMA Swasta ada, SMA Swasta Kapuas. “Nah kalau untuk di daerah, semua yang berada di zona kuning rata-rata sudah melaksanakan pembelajaran hari ini (kemarin),” jelasnya.

Rata-rata sekolah yang berada di zona kuning sudah direkomendasikan semua oleh Disdikbud Kalbar untuk melaksankan PTM. Total SMA sederajat se-Kalbar ada 466 sekolah. Untuk evaluasi, sesuai rapat bersama kepala dinas pendidikan se-Kalbar, daerah yang awalnya berada di zona kuning kemudian berubah menjadi orange, tetap akan dilihat zona sebelumnya.

Hanya sekolah di kecamatan yang banyak ditemukan kasus Covid-19, yang harus menghentikan PTM. Sedangkan khusus Kota Pontianak dan Singkawang, jika terjadi perubahan zona menjadi orange, maka PTM di semua sekolah harus dihentikan.

Kepala SMAN 3 Pontianak Wartono menambahkan, pihaknya memprioritaskan PTM dilaksanakan untuk pelajar kelas XII. Pelaksanaannya dibagi menjadi dua sif. Separuh pelajar masuk di sesi pertama pukul 07.30-09.30 WIB. Sementara sesi kedua masuk pukul 09.45-11.45 WIB. “Dan hanya prioritas kelas XII, hari Senin sampai Kamis. Jumatnya kami pakai untuk evaluasi,” katanya.

Jumlah siswa khusus kelas XII di tempatnya ada 332 orang. Dari jumlah tersebut masih ada sekitar 40 orang lebih yang belum mendapat izin dari orang tua. Mereka yang belum mendapat izin orang tua tetap difasilitasi mengikuti pembelajaran dalam jaringan (daring).

“Kemudian yang diizinkan ini separuh, separuh. Jadi ada sekitar 150-an saja per sif,” jelasnya.

Wartono memastikan protokol kesehatan di sekolah tersebut sudah disipakan dengan baik. Dalam hal ini pihaknya bekerjasama dengan Puskesmas terdekat. Mulai dari cek suhu tubuh di pagi hari, ketika masuk pelajar yang suhunya di atas 37 derajat celcius tidak diperkenankan mengikuti PTM.

“Kemudian yang (sudah) di sekolah menjadi tanggung jawab sekolah, karena memang jika ada yang sakit dan sebaginya kami koordinasi dengan Puskesmas terdekat,” pungkasnya.

Salah satu pelajar Klarisa merasa PTM sangat baik untuk membuat pelajar lebih mengerti dengan materi yang diajarkan guru. Sebaliknya ketika pembelajaran daring, ia mengaku banyak hal atau materi yang dirasa sulit untuk dimengerti. “Senang bisa tatap muka lagi. Kalau daring biasanya lebih diperbanyak tugas, langsung dikasi tugas jadi susah memahami materi,” ucapnya. (bar/iza)

error: Content is protected !!