SJW, Pahlawan Masa Kini?

SOCIAL Justice Warrior atau yang kerap disingkat SJW adalah terminologi yang digunakan kepada mereka yang berjuang keras dalam bidang keadilan sosial. Biasanya hal yang disuarakan berkaitan dengan HAM, isu politik, feminisme dan lingkungan. Nggak heran istilah ini dekat dengan kehidupan aktivis.

Makna ini pertama kali tercetus di tahun 1991 untuk mengapresiasi seorang aktivis asal Kanada akan aksinya yang berani menentang ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Yap! Awalnya istilah ini justru disematkan sebagai pujian sesuai dengan pengertiannya dalam bahasa Indonesia, pejuang keadilan sosial.

Sayangnya makna ini bergeser menjadi negatif sejak tahun 2011. Kejadian beberapa tahun terakhir yakni banyaknya gerakan dan oknum  yang kebeblasan menyerukan suara di media sosial. Kemunculan mereka yang mengatasnamakan aktivis ini sebagian meresahkan warganet sebab kebanyakan dari mereka sebatas berkoar-koar padahal hanya mengetahui masalahnya secara parsial.

“Istilah ini memang lagi populer di dunia maya. Harusnya makna ini positif tapi dikonotasikan jadi negatif. Kalau aku pribadi sih menolak atau nggak disebut SJW, nggak juga sih. Toh sudah seharusnya semua orang punya kepedulian terhadap lingkungannya,” cuap Ruth Feliani, pendiri Pipet Kite.

Kerusakan lingkungan yang terjadi menjadi alasan sekaligus motivasi terkuat Feliani menjadi aktivis yang bergerak menyerukan kelestarian lingkungan.

“Aku nggak bisa melihat lingkungan rusak dan diam saja pas orang buang sampah sembarangan di depan muka kita. Padahal dampaknya akan terasa bersama,” unggkap gadis yang pernah menjadi Duta Lingkungan Hidup 2017 ini.

Bagi sebagian orang sulit menahan bungkam dan memilih menyerukannya. Salah satu tindakan yang cepat di era sekarang dengan bersuara di media sosial. Itulah yang dilakukan Aigantara saat protes terhadap kesetaraan perempuan.

“Saya muak dengan stereotip yang kerap diterima bahwa perempuan harus pandai masak dan tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Padahal kini banyak koki hebat yang justru datang dari kaum adam,” jelas Aiga.

Salah satu anggota BEM IKIP PGRI ini kerap mengunggah ajakan penghapusan stereotip di media sosialnya. Dia kerap mendapatkan dukungan dari teman-temannya saat melakukan aksi di media sosial.

“Setelah apa yang saya lakukan lalu saya tergolong SJW? Hmm, kalaupun iya mungkin saya akan berupaya untuk reclaiming that word jadi bermakna positif, sebab SJW yang sekarang dikenal sudah terlanjur bermakna buruk,” pungkas Aiga. (dee)

 

 

 

 

 

Read Previous

Garuda Select, demi Mewujudkan Mimpi ke Pentas Dunia

Read Next

Kiat Membeli Rumah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *