Soroti Tikungan Tajam Kalis

TIKUNGAN TAJAM: Tikungan tajam di sekitar Pasar Desa Nanga Kalis, Kecamatan Kalis, menjadi sorotan anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, Fabianus Kasim, lantaran beberapa waktu lalu telah memakan korban. WWW.UNCAK.COM

Penyebab Laka Lantas

PUTUSSIBAU – Jalan tikungan yang berada di Pasar Desa Nanga Kalis, Kecamatan Kalis, disebut-sebut sebagai penyebab maraknya kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Bahkan, tidak sedikit korban kecelakaan pada titik tersebut harus meregang nyawa. Seperti halnya dialami Bartolomeus Baringan, warga Desa Rantau Kalis, Kecamatan Kalis, beberapa hari lalu.

“Saya yakin, warga sekitar Pasar Kalis dan Polsek Kalis pasti mempunyai data beberapa nyawa yang melayang, dan berapa korban yang luka parah di jalan raya nasional sekitar pasar  Kecamatan Kalis, termasuk Kantor Camat Kalis mestinya ada data  kecelakaan di lokasi yang dimaksud,” ujar Fabianus Kasim, anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu.

Kasim yang juga merupakan saudara kandung korban tersebut menjelaskan, secara umum orang-orang bisa saja menilai bahwa sebab-sebab kecelakaan  berlalu lintas hanya semata-mata kelalaian pengendara  bermotor. Padahal, dia yakin, tentunya ada faktor-faktor lain atau sebab-sebab lain, sehingga mengakibatkan kecelakaan.

“Saya membandingkan Pasar Pagi Putussibau yang terletak di jalan  Pantai Sibau, justru belum terdengar terjadi kecelakaan. Mungkin semua warga tahu bahwa di situ pasar dan tentunya ramai, namun terletaknya bukan di tikungan serta bukan pula di jalan nasional,” terang Kasim.

Dia juga membandingkan bagaimana ruas Jalan Gajah Mada di Kota Pontianak, di mana setiap warung kopi, toko, dan perkantoran diberikan garis putih dan garis parkir. Yang dia ketahui, setiap kendaraan yang melewati garis parkir akan ditegur oleh pemilik toko dan tukang parkir. Sebab, dia menambahkan, apabila kendaraan sangat lama terparkir, maka petugas Satpol PP dan Dishub setempat akan mengempeskan ban kendaraan yang menutup jalan raya, karena dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan raya.

“Sangatlah berbeda di Pasar Nanga Kalis, di mana para pedagang  mendirikan bangunan  untuk bermacam-macam dagangan, namun bukan tempat hunian. Salah satu contoh di antaranya toko bangunan, toko sembako, bengkel, gerobak ikan, gerobak bakso, lapak sayur, warung kopi, warung makan, kios bensin, toko handphone, dan tenda biru,” kata Kasim.
Memang, tak dipungkiri dia bahwa yang namanya pasar pasti menjual sesuatu secara lengkap. Kondisi yang, menurut dia, kian diperparah dengan tanaman mangga  di depan halaman pertokoan, sehingga mempersempit ruas jalan raya. Yang menjadi sorotan dia lantaran aktivitas perdagangan itu tepat di paha-ekor Jembatan Sungai Kalis. “Apakah berdagang atau pasar dibolehkan di paha-ekor jembatan atau adakah izinnya?” tambah Kasim penuh tanya.
Setahu dia, Jembatan Sungai Kalis itu sudah lama dibangun, namun justru bangunan pertokoan yang ada semuanya baru.

Bahkan, dia menambahkan, sampai hari ini, ada beberapa bangunan belum selesai.

“Ini fakta yang harus diinvestigasi oleh instansi pemerintah  terkait, bahkan di antara bangunan yang sudah ditempati di tengah-tengah rumahnya ada tiang listrik (PLN), apakah ini dibenarkan?” kata dia. Dia juga mengungkapkan ada beberapa bangunan di tikungan secara nyata sangat menutup pandangan mata para pengendara atau pengguna jalan raya. Kondisi ini, dikhawatirkan dia, sangat membahayakan. “Saya melihat  bangunan warga dibangun seenak hati saja tanpa memikirkan atau mempertimbangkan keselamatan pengendara bermotor. Jika terus dibiarkan, ke depannya, maka pasti akan menelan korban baru lagi,” kesalnya.

Mestinya di paha-ekor jembatan, tuturnya, ada rambu-rambu pagar pengaman lalu lintas yang biasanya kalau malam memancarkan cahaya merah atau kuning. Rambu-rambu yang dimaksudkan dia, diharapkan untuk menjamin keamanan pengguna jalan raya. Hanya saja yang menjadi pertanyaan dia, tidak  satu pun kelihatan rambu-rambu dimaksud, termasuk rambu-rambu tikungan patah, rambu-rambu simpang empat karena di situ ada Gang Merdeka Timur, dan rambu-rambu penyebrangan pejalan kaki. Dia mempertanyakan apakah dari awal, tanda-tanda peringatan tersebut tidak dipasang rambu-rambunya atau sengaja dihilangkan oleh warga yang berdagang. Yang menjadi sorotan dia, apakah diperbolehkan menghilangkan serta merusak rambu rambu lalu lintas. “Instansi mana yang harus bertanggung jawab dengan rambu-rambu ini?” tanyanya lagi.

Selain itu, dampak aktivitas jual beli, menurut dia, yaitu menimbulkan keramaian pengunjung. Di sana, digambarkan dia, terjadi pertemuan antara penjual dan pembeli, barang keluar serta masuk, ditambah kendaraan antarkabupaten dan dari desa ke kota lalu lalang. Sedangkan, dia menyayangkan, lahan parkir tak tersedia, sehingga pengunjung menggunakan jalan raya untuk parkir dan sudah jelas melewati garis putih-beram. Situasi itu tentu dikhawatirkan dia sangat berbahaya, sehingga pada akhirnya sering menimbulkan korban kecelakaan.

“Saya menilai pemerintah dari berbagai tingkatan tidak tanggap, namun cenderung melakukan pembiaran. Oleh karena itu Muspika dan Muspida serta instansi terkait   harus melakukan pengecekan dan penertiban Pasar Nanga Kalis. Tak hanya itu, para pedagang juga harus  introspeksi diri, di mana bangunan-bangunan pertokoan yang tidak pantas harus dibongkar sesuai aturan,” tegas Kasim.

Kasim melanjutkan, kecelakaan lalu lintas yang merengut nyawa saudaranya, Bartolomeus Baringan, terjadi di sekitar Pasar Nanga Kalis, 25 Agustus lalu, sekitar pukul  17.45 WIB. Dia menyayangkan, ketika itu, insiden tersebut dianggap terjadi akibat kelalaian kedua belah pihak pengendara. Bahkan, dia kembali menyayangkan, lantaran ada keterangan saksi yang menyalahkan saudaranya tersebut. “Namun menurut saksi sekaligus  korban (Veronika Tutu, istri korban, Red) yang saat ini masih dalam perawataan di rumah sakit, menyatakan  bahwa sebelum terjadi insiden, mereka mengelak kendaraan yang parkir di tikungan patah, menutup jalur arah Putussibau – Kalis,” ceritanya geram.

Dikarenakan tikungan itu patah dan hari mulai gelap, kendaraan yang terparkir, menurut dia, baru kelihatan dari jarak dekat. Kondisi ini, menurut dia, menjadikan pengendara harus tiba-tiba menghindar, agar tak menabrak kendaraan yang terparkir. Tapi pada saat mengelak kendaraan yang terparkir, konsekwensinya, saudaranya tersebut harus berpapasan dengan kendaraan yang datang dari arah berlawanan.

“Menurut saya, akitvitas perdagangan dan bangunan-bangunan rumah di Pasar  Kecamatan Kalis itu tanpa disadari, baik secara langsung maupun tidak langsung telah mengakibatkan kecelakaan banyak orang. Persoalan ini harus menjadi perhatian semua pihak dan jangan menjustifikasi bahwa setiap kecelakaan yang terjadi semata-mata kelalaian dari pengendara dan korban,” pinta Kasim.

Pada saat terjadi kecelakaan, menurut dia, semestinya warga sekitar setidaknya prihatin dan segera menolong, bahkan bila ada kematian tidaklah salah apabila mereka membantu secara kemanusiaan. Namun, yang disayangkan dia, warga yang ada di sana kala itu hanya membiarkan korban begitu lama, karena takut dijadikan saksi. Faktanya, menurut dia, para pedagang malahan mengaharapkan orang yang berduka kembali belanja ke tempat mereka.

“Pada prinsipnya, silakan orang berdagang karena berdagang merupakan hak semua orang untuk mencari keuntungan namun juga harus memikirkan keselamatan orang lain. Itu yang utama,” pungkasnya. (arf)

Read Previous

Paneni Sawit PT. MBK, Dua Pria Dijemput Polisi

Read Next

Kebakaran Lahan Nyaris Rambah Rumah Warga

Tinggalkan Balasan

Most Popular