Sosialisasi  Restorasi Gambut di Kalimantan Barat

PONTIANAK – Empat tahun sudah Badan Restorasi Gambut (BRG) terbentuk. Tepatnya, pada 6 Januari 2016, Presiden Joko Widodo menerbitkan Perpres No 1/2016 tentang BRG yang bertugas merestorasi lahan gambut seluas 2,67 juta hektare di tujuh provinsi prioritas selama lima tahun. Wilayah itu, yakni, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua.

Sebab itu,  dalam rangka penyebarluasan informasi, membangun kesepahaman bersama antara stakeholder, menggalang dukungan komitmen dan perluasan jejaring kerja restorasi ekosistem gambut, maka Kedeputian Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut RI menyelenggarakan Sosialisasi Pengelolaan Gambut Tingkat Provinsi Kalimantan Barat 2020, Rabu (29/7) melalui aplikasi zoom.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Dr. Myrna A. Safitri mengatakan dari sisi luasan, belum ada  negara mana pun yang menandingi lahan gambut Indonesia. Hal menarik lainnya, restorasi lahan gambut yang ada di Indonesia tidak berada di ruang kosong. Ada jutaan orang yang hidup di lahan gambut dengan berbagai aktivitas yang dilakukan. Target restorasi dilakukan di lahan konservasi, area konsesi, dan kawasan lain.

Di Kalbar ada 13 perusahaan  perkebunan yang terlibat dalam kegiatan ini. Dengan luasan areal HGU yang ada dalam target restorasi sekitar 47 ribu hektare atau 77 persen dari target restorasi yang ada.

“Kami juga sudah membangun berbagai macam dalam jumlah besar insfrastruktur pembasahan lahan gambut, sekat kanal,  sumur bor, dan lain-lain telah kita bangun,” jelasnya.

Melalui Program Desa Peduli Gambut, ada 525 desa dan kelurahan yang didampingi. Khusus di Kalbar ada 90 desa yang didampingi baik langsung oleh BRG atau pun  kerjasama LSM dan beberapa perusahaan.  Myrna mengatakan, yang ingin dicapat dari desa peduli gambut ini bukan  semata-mata mendukung kegiatan restorasi gambut, namun berharap pelaksanaan restorasi gambut yang ada di desa tersebut,  dapat mendukung upaya pemerintah desa dan daerah   untuk meningkatkan status ekonomi di desa desa tersebut.

Pada Indeks Desa Membangun, Permen Desa PDT Trans tahun 2016, yang menjadi target restorasi ada sekitar 87 persen desa yang sangat tertinggal dan desa tertinggal. Ini, kata dia, menjadi cambuk untuk memikirkan seluruh intervensi pembangunan agar bisa membantu desa meningkatkan status desa. Inilah yang dilakukan desa peduli gambut. Sehingga pada 2018-2019 terjadi pergeseran status. Desa sangat tertinggal dan tertinggal mulai berkurang jumlahnya. Desa berkembang, maju dan mandiri terus meningkat.

“Di Kalbar pada 2020, dari desa-desa yang didampingi ada 12 desa yang telah berhasil menjadi status desa mandiri. Saya kira ini sejalan, tidak hanya sejalan dengan kebijakan pusat, tetapi sejalan dengan kebijakan pemerintah Provinsi Kalbar  untuk meningkiatkan jumlah desa mandiri yang ada di provinsi ini,” ulasnya.

Rudy Priyanto, Kepala Kelompok Kerja BRG RI menjelaskan bahwa pelaksanan yang telah dilakukan yakni melaksanakan kegiatan 3 R yakni Rewetting  (R1), Revegetation (R2), dan Revitalization  (R3). Melaksanakan kegiatan pemeliharaan pada infrastruktur pembahasan gambut, dan demplot revegetasi, memfasilitasi kegiatan operasi pembasahan gambut rawan kekeringan, memfasilitasi kegiatan operasi pembahasan cepat lahan gambut terbakar. Pada 2017-2019, di Kalbar telah dilakukan R1 dengan membuat  sekat kanal 563 unit, sumur bor 491 unit, R2 sebanyak 75 hektare dan R3 ada 69 paket. Sedangkan rencana kegiatan di 2020 ini, akan dilakukan pembangunan sekat kanal 67 unit, R2 di 75 hektare, dan R3 ada 47 paket. Rencana kerja provinsi Kalbar ini ada di 12 KHG.

Sementara itu,  Suwignya Utama, Kapoja Edukasi dan Sosialiasai BRG RI  menyampaikan, pendekatan yang dilakukan  yakni dengan membangun kepedulian dan mendorong partisipasi masyarakat dalam restorasi gambut. Retorasi ini tidak bisa dilakukan parsial, tetapi memerlukan kerjasama banyak pihak. “Yang kami lakukan ini bagaimana mendorong kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam restorasi gambut,” ungkapnya.

Tujuh kegiatan yang dilakukan pihaknya, yakni  pendampingan desa, pemetaan sosial, integrasi restorasi gambut,  penguatan institusi lokal, pemberdayaan ekonomi, penguatan inovasi pengetahuan lokal dan teknologi tepat guna, pemantauan kegiatan restorasi gambut.

Sementara itu, peran masyarakat di lahan gambut pada periode 2016-Juli 2020 di Kalbar terdiri aspek ekonomi ada 90 guru yang dilatih, dan pemberian alat peraga mengenai lahan gambut untuk proses pembelajaran,  135 orang parelegal, 76 fasilitator desa peduli gambut,76 kelompok masyarakat, 36 orang dai peduli gambut,  3 orang pendeta peduli gambut,  236 petani peduli gambut, dan seniman pangan. “Ke depan peran pemda bagaimana bisa melanjutkan pertanian di tanah gambut ini. Di Kalbar ada 57 titik dibangun mini demplot dari sekolah lapang petani gambut tadi,” pungkasnya. (mrd)

error: Content is protected !!