SRCP TNGP Resmi Beroperasi, Jadi Pusat Konservasi Ekosistem Borneo

DIRESMIKAN: SRCP milik TNGP menjadi pusat konservasi Ekosistem Borneo. ISTIMEWA

KETAPANG – Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, diresmikan beberapa waktu lalu. Peresmian dihadiri oleh Kasubdit Promosi dan Pemasaran Ditjen KSDAE, Sapto Aji Prabowo. Dengan diresmikannya bangunan tersebut membuka ruang bagi semua pihak, baik pemerintah, swasta dan NGO bisa bekerjasama.

Tempat ini nantinya bisa dijadikan tempat untuk penelitian, baik untuk jenjang S1 hingga S3. Bahkan bisa digunakan untuk anak-anak sekolah tingkat SD sekalipun. Kompleks bangunan baru yang ada di Stasiun Riset Cabang Panti antara lain Camp Besar, Camp Litho, Camp Serba Guna, Camp Nyamuk, enam unit camp peneliti dan bangunan penunjang seperti menara air, rumah incinerator dan bak air.

“Semua bangunan ini dibangun dengan menggunakan Anggaran Surat Berharga Syariah  Negara (SBSN) tahun Anggaran 2020, dengan dana anggaran Rp8  miliar,” kata Sapto Aji Prabowo.

Pembangunan bangunan baru Stasiun Riset Cabang Panti ini adalah bangunan yang paling bagus dari semua yang ada. Didukung oleh perguruan tinggi, tidak hanya bagus fisiknya tetapi juga outputnya berupa potensi penelitian. “Penelitian yang bisa bermanfaat seperti tumbuhan obat dan jenis tumbuhan berkayu yang belum terungkap,” jelasnya.

Terkait pembangunan dan keberadaan SRCP bagi konservasi dan masyarakat, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Matheas Ari Wibawanto, mengatakan Stasiun Riset Cabang Panti yang memiliki luas 2.100 hektare tersebut merupakan gudangnya ilmu yang bisa dieksplorasi dan bisa dibagikan ke dunia pendidikan dan kesehatan. Keberadaan SRCP juga memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar, karena beberapa masyarakat yang ada di sekitar ada yang menjadi porter dan beberapa diantara masyarkat ada yang menjadi asisten peneliti,” ungkap Ari.

Menurut data yang TNGP, ada sekitar Rp1 miliar uang yang berputar setiap tahunnya dalam bentuk honor asisten penelitian, honor porter, belanja kebutuhan logistik dan lain-lain. “Semoga dengan peningkatan sarana dan prasarana di SRCP dapat menarik lebih banyak minat peneliti sehingga ekonomi masyarakat akan ikut meningkat,” ujar Ari.

Lebih lanjut Ari menerangkan, terkait penelitian saat ini sedikit terkendala karena pandemi. Beberapa peneliti dari luar negeri belum bisa datang. Selain itu juga beberapa penelitian untuk sementara belum dilakukan lagi karena situasi pandemi. Seperti misalnya saat ini, pengambilan data curah hujan, penelitian mamalia dan fenologi belum dilakukan secara rutin lagi karena situasi pandemi.

“Namun kita berharap di tahun 2021 semoga saja pandemi bisa berlalu dan para peneliti bisa datang. Kita punya rencana untuk mengembangkan wisata minat khusus yaitu, wisata berbasis lingkungan. Jadi, nantinya jika ada wisatawan yang berminat, mereka boleh mengunjungi SRCP, tetapi hanya boleh 6 hari saja. Apabila akan mengambil data-data primer maka akan didampingi oleh asisten peneliti yang ada di SRCP,” ungkapnya.

“Saat ini, kita bekerjasama dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan berbagai mitra lainnya seperti, termasuk Yayasan Palung yang sudah bermitra sejak tahun 1985, diharapkan bisa semakin meningkatkannya lagi,” lanjut Ari.

Peneliti S2 dari Universitas Nasional (UNAS), Endro Setiawan, mengatakan ada 4.000 jenis tumbuhan yang ada di Gunung Palung. Ada 800 jenis di antaranya sudah diidentifikasi.

UNAS sudah lama bermitra dengan Balai TNGP, Yayasan Palung, Universitas  Boston dan  Universitas Michigan. “Sekitar tahun 1985 kita sudah mulai bekerjasama. Sangat mendukung sebagai perguruan tinggi. Mahasiswa dapat tempat untuk penelitian tugas akhir,” ujarnya.

Menurutnya, SRCP ini penting untuk menumbuhkan minat mahasiswa dalam penelitian. Dia juga berharap mahasiswa lebih bersemangat untuk meneliti dan mempromosikan tempat ini. “Dengan adanya bangunan ini sangat Unas bisa membuat program penelitian di SRCP,” ungkapnya.

Wahyu Susanto selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung, mengaku sudah sekian lama menunggu dan baru di tahun 2020 ada renovasi camp baru. “Kita sudah 3 kali mengalami perubahan pembangunan yaitu tahun 1985, tahun 2007 dan tahun 2020. Cheryl Knoot nanti akan mempromosikan ke rekan-rekan peneliti di luar negeri dan lainnya,” paparnya.

Seperti diketahui, setiap tahunnya Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung menjadi rumah bagi para peneliti. Beberapa universitas yang bekerjasama dengan Balai TNGP yaitu, UNAS, Untan, Atma Jaya Yogyakarta, UIN Jakarta, STIPER, UGM dan IPB. Sedangkan perguruan tinggi dari luar negeri adalah Universitas  Boston dan  Universitas Michigan, Universitas Harvard dan Universitas Alaska. (afi)

error: Content is protected !!