Strabismus, Dua Mata Bergerak ke Arah Berbeda

Strabismus juling

Strabismus merupakan salah satu kelainan pada mata. Penyebabnya beragam. Apakah mata juling ini bisa disembuhkan?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Strabismus adalah suatu kondisi dimana kedua mata tidak bergerak ke arah yang sama. Mata bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu atau kedua bagian mata dapat mengarah ke dalam, luar, atau arah lainnya.

Dokter spesialis mata, Sri Yuliani Elida mengatakan strabismus dapat disebabkan karena bawaan lahir atau didapat. Bisa karena kelainan reflaksi, ada penyakit di bagian retina atau makula, kelemahan otot, stroke maupun menderita penyakit sistemik.

Strabismus terbagi dalam beberapa jenis, bergantung pada ke arah mana mata bergerak, frekuensi kejadiannya dan bagian mata mana yang terdampak.

“Tetapi, secara garis besar, mata juling lebih sering dibagi menjadi dua kategori, yakni Accommodative esotropia dan Intermittent exotropia,” kata Sri.

Accommodative esotropia merupakan tipe strabismus yang paling sering ditemukan, terutama pada anak-anak berusia dua tahun atau lebih. Pada kondisi ini, fokus mata berhubungan dengan ke arah mana mata melihat.

“Maka dari itu, mata membutuhkan usaha lebih untuk berfokus pada benda di sekitarnya. Akibatnya, posisi salah satu mata bergerak ke arah dalam,” ujar Sri.

Intermittent exotropia merupakan jenis mata juling yang terjadi ketika kedua mata tidak dapat bergerak bersamaan. Salah satu mata akan berfokus pada objek atau arah tertentu, sedangkan mata lainnya berfokus ke arah lain. Akibatnya, salah satu mata bergerak ke arah luar mata. Eksotropia intermiten dapat terjadi pada orang dari kelompok usia berapa pun.

Adapula tipe lain dari stabismus, yakni Infantile esotropia. Tipe ini biasa ditemukan pada bayi berusia di bawah enam bulan. Kondisi ini ditandai dengan kedua mata mengarah ke dalam. Pergerakan mata ke arah dalam awalnya terjadi beberapa kali, namun kemudian akan menjadi permanen.

Selain tipe yang telah disebutkan, strabismus dapat dikategorikan berdasarkan arah mata, yaitu arah ke dalam (esotropia), arah ke luar (eksotropia), arah ke atas (hipertropia) dan arah ke bawah (hipotropia).

Dokter di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak ini menuturkan pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengukur kaca mata. Apabila mengalami kelainan reflaksi, dokter akan langsung memberi kaca mata.

“Tetapi, jika seperti esotropi atau juling ke arah dalam, dokter akan langsung merencanakan operasi. Lebih cepat lebih baik. Apalagi jika terjadi pada anak-anak, khususnya anak perempuan,” ujarnya.

Sebab biasanya ketika anak perempuan tersebut dewasa, dia akan mulai tertarik menggunakan kosmetik. Pengobatan membuat anak tidak akan merasa minder. Elida menambahkan jika mata juling tidak cepat dikoreksi, kondisi mata akan lebih lemah.

Mata juling akan kalah dari mata disebelahnya. Tidak menutup kemungkinan jika tidak segera ditangani dapat mengarah pada kebutaan. Pengobatan tidak bisa dilakukan sendiri. Pasien harus ke dokter mata.
“Bahkan terkadang, dokter mata saja harus merujuk ke ahli strabismus untuk menangani mata juling ini,” tutup Elida. **

Read Previous

Jaga Kebersihan Pantai dan Laut

Read Next

Peserta Bintang Radio Heningkan Cipta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *