Subhan; Mudik Dilarang, Tempat Berkerumun Harusnya Dilarang Juga.

Subhan Nur, Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Barat

PONTIANAK – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Subhan Nur sekaligus Tim Satgas Covid-19 di Kabupaten Sambas menyebutkan bahwa penangnan Covid-19 di kabupaten Sambas mungkin sudah maksimal dan menyeluruh. Hanya saja, koordinasi antar tim masih belum terjalin dengan menyeluruh. Dia merasakannya karena memang karena jabatannya melekat jabatan Tim Satgas Covi-19.

“Buktinya, pada agenda rapat baik secara offline atau online belum pernah saya diundang. Binggung juga, padahal ini untuk penanganan Pandemi Covid-19 di Sambas,” ucap politisi NasDem dapil Sambas ini.

Menurutnya pelarangan mudik sampai membuat pembatas antara kabupaten-kabupaten atau antar kota-kabupaten memang membuat kalangan masyarakat protes keras. Sebab, sudah jadi kebiasaan masyarakat ketika akan merayakan lebaran mengunjungi keluarga terdekat.

“Nah larangan mudik karena ditakutkan membuat kerumunan masa inilah yang menjadi salah satu alasan pelarangan mudik atau balik kampung. Karena sudah dikeluarkan pemerintah, mau tidak mau harus diikuti,” ucap dia.

Di Kabupaten Sambas sendiri, lanjutnya, pengawalan ketat dan penjagaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) sejauh ini dilakukan sangat maksimal. Dia sudah melihat sendiri tim Satgas Kabupaten bekerja bersama tim terkait. Artinya setiap PMI balik masuk Kalbar selalu diawasi ketat dan menyeluruh. “Tujuannya juga agar PMI tersebut, tidak menyebabkan pembawa virus petaka ini,” katanya.

Hanya saja, Subhan juga meminta kebijakan dibuat harus selaras dan menyeluruh. Artinya titik-tik yang memunculkan keramaian dan rawan penyebaran Covid-19 juga wajib diberlakukan serupa. Ini sebagai upaya dan bentuk meredam pergerakan Covid-19 ke masyarakat. “Dan kita sendiri tidak tahu kapan pandemi ini bakalan selesai,” tukasnya.

Subhan menambahkan pandemi Covid-19 memang sudah membuat susah seluruh komponen masyarakat. Hampir segala lini usaha dan pekerjaan berdampak luas. Ada yang di PHK, tempat usaha dan perusahaan bahkan ditutup. Ada juga memilih bertahan dengan segala konsekuensi pendapatan. “Nah, disinilah sebenarnya kehadiran pemerintah dalam menenangkan masyarakatnya,” ucap dia.

Dia menyebutkan bahwa karena aturan pelarangan mudik atau balik kampung sudah dikeluarkan. Mau tidak mau masyarakat harus patuh. Hanya saja, kebijakan lain harus disertai atau diikuti juga dong. “Kebijakannya harus adil dong,” tukasnya.

Misalnya, sekiranya area wisata yang memunculkan keramaian masyarakat sebaiknya ditutup. “Intinya area tempat yang membuat kerumunan masa. Ini bahaya loh,” ujarnya.

Di sisi lain penerbangan dari luar negeri tak hanya dari India, negara yang dilanda Covid-19 secara sadis juga harus dilarang. Penerbangan dari Wuhan-Jakarta saja dikabarkan masih dibuka. “Harusnya mau isolated, lakukan menyeluruh,” katanya.

Di sisi lain, dia tercegang membaca berita dua hari belakangan bahwa sebelas ribu orang menghadiri hari pertama festival musik bernama di Wuhan Music Strawberry Festival, kemarin. Sementara India diamuk Corona dengan catatan lebih dari 400 ribu kasus per hari. Warga dari daerah penyebab virus ini muncul tampak berteriak kegirangan saat beberapa aksi favorit dari band mereka tampil di panggung.
“Ada 11 ribu orang penonton hadir di acara tersebut. Banyak yang sudah tidak memakai masker.

Fotonya tersebar di media. Adapula yang masih memakainya,” ujarnya. “Ini rasanya tidak adil saja,” timpal dia.(den)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!