Kisah Warga Bantu Warga di Masa Pandemi (2)
Subsidi Silang untuk Mereka yang Tidak Mendapatkan Gaji

TERGERAK: Aliansi mahasiswa lintas kampus membagikan makanan kepada warga yang usahanya kembang kempis akibat PPKM darurat di Denpasar. (17/7). GERAKAN WARGA BANTU WARGA FOR JAWA POS

Bagirata memfasilitasi redistribusi kekayaan kepada para pekerja yang terdampak pandemi agar mencapai dana minimum yang dibutuhkan. Di Bali, mahasiswa lintas kampus bergerak membantu membagikan logistik, informasi, bantuan hukum, hingga rekomendasi sumber pendapatan selain pariwisata.

DINDA JUWITA-DEBORA DANISA, Jakarta

BERPULANGNYA orang tua memang memukulnya dengan keras. Tapi, Fajar Maulana tak hendak roboh karenanya.

Dia terus membanting tulang mengembangkan usaha layanan jasa desain, meski memang belum rutin mendapat order.

”Sering pusing sendiri, semua hal dilakukan sendiri. Lelah dan burn out menjadi wajar terjadi tiap hari. Saya ingin bisnis kecilku berkembang,” tulisnya dalam pesan yang termuat di laman Bagirata.id.

Pemuda yang berprofesi sebagai desainer grafis lepas itu menjadi salah satu penerima dana dalam platform crowdfunding tersebut. Tak banyak donasi yang dibutuhkan pria asal Cimahi, Jawa Barat, itu. Dia hanya menuliskan Rp 500 ribu.

Cerita Fajar hanya satu di antara ribuan cerita serupa yang termaktub dalam laman yang sama. Pandemi Covid-19 memang mengubah segalanya. Namun, perubahan itu pula yang melahirkan Bagirata.id.

Lody Andrian, salah seorang pendiri Bagirata, menceritakan, dirinya cukup beruntung karena bisa tetap bekerja dari rumah (work from home). Namun, banyak rekannya yang tak seberuntung dia. Salah satunya Ivy Vania.

Ivy bekerja di sektor food and beverage. Praktis, badai pandemi langsung menghantam mata pencahariannya. Namun, dia tak ingin berpangku tangan saja.

Lody, Ivy, Muhammad Rheza, Elham Arrazag, dan Andreas Tulus akhirnya menginisiasi sebuah platform. Kerja-kerja lima orang sekawan itulah yang melahirkan Bagirata.id.

Dari laman resminya disebutkan Bagirata adalah platform subsidi silang untuk membantu kondisi finansial para pekerja yang terkena dampak ekonomi di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19. Bagirata bekerja dengan memfasilitasi redistribusi kekayaan kepada pekerja yang terdampak agar mencapai dana minimum yang dibutuhkan.

”Ada orang-orang yang bisa bekerja dari rumah, masih digaji, masih mendapatkan bonus, THR, dan lainnya. Mereka yang diharapkan bisa menyubsidi silang mereka-mereka yang tidak mendapatkan gaji,” katanya.

Lody dan kawan-kawan paham tidak semua orang mau. ”Tapi, paling tidak sekecil apa pun pasti membantu,” ujarnya.

Alumnus Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta itu menuturkan, upaya tersebut didedikasikan sebagai bentuk solidaritas untuk para pekerja di sektor jasa, hospitality, pariwisata, kesehatan, farmasi, maupun tekstil yang harus tutup dan dipaksa mengambil unpaid leave atau PHK sepihak.

Selain itu, ada pekerja di sektor media, kreatif, seni pertunjukan, budaya, hiburan, dan gig economy yang terkena penutupan usaha, pembatalan proyek, izin pembuatan acara, dan hambatan lain. Lody menyebut Bagirata adalah platform sederhana. Redistribusi kekayaan pun tak jelimet.

Para pemberi hanya perlu membuka laman Bagirata.id, mengikuti alur distribusi dana, lalu mengeklik profil orang yang diinginkan untuk diberi dana tersebut. Untuk memudahkan para pemberi, Bagirata juga mewajibkan para penerima menyertakan akun media sosialnya. Dengan begitu, para pemberi dana bisa melihat langsung profil si penerima.

Berbeda dengan sistem donasi pada umumnya, Bagirata menerapkan sistem agar si pemberi bisa langsung menyalurkan uangnya kepada si penerima. Tanpa melalui pengumpulan dana di satu pintu, dana tersebut bisa langsung terdistribusi kepada penerima melalui akun Gopay ataupun Dana.

Hingga saat ini, lanjut Lody, tiap hari ada saja orang-orang dermawan yang menjadi pemberi. Sejalan dengan itu, ada juga para penerima yang mendaftarkan diri.

Total, ada sekitar 5 ribu penerima bantuan yang terdaftar. Hingga 21 Juli, dana yang disalurkan tercatat lebih dari Rp 924 juta. Tak ada nominal minimal untuk berdonasi.

”Jumlah terkecil ada yang donasi Rp 7 ribu dan terbesar Rp 3 juta. Nggak masalah mau sekecil apa pun silakan, pasti sangat membantu,” imbuh pria 29 tahun itu.

Bersama para volunter, Lody dan kawan-kawan pun ikut melakukan verifikasi langsung tiap ada data yang masuk. ”Kami setiap hari mendedikasikan waktu khusus untuk mengurus Bagirata. Biasanya malam selesai kerja atau pas hari libur kita selalu sempatkan,” tambahnya.

Pandemi yang mencekik Bali, pulau yang sangat mengandalkan pariwisata, salah satu sektor paling terdampak, juga menggerakkan mahasiswa lintas kampus.

Awal bulan ini mereka menginisiasi terbentuknya Gerakan Warga Bantu Warga Bali. Seperti gerakan serupa di daerah lain, mereka membantu warga untuk berdonasi bagi warga lain yang kesulitan akibat pandemi.

Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Udayana Muhammad Novriansyah, salah satu perwakilan dari gerakan itu, menyatakan bahwa gerakan tersebut sebagai pemantik. Gerakan Warga Bantu Warga Bali hanya satu di antara dua jalur yang mereka lakukan sebagai mahasiswa di tengah pandemi.

”Biar kami nggak diam aja, akhirnya kami inisiatif. Awalnya dari BEM Udayana dulu, kemudian mengajak teman-teman aliansi BEM se-Bali,” ungkapnya, Rabu (21/7).

Gerakan itu bersifat inklusif dengan tiga tujuan utama. Pertama, sebagai wadah informasi. Warga yang membutuhkan update informasi persebaran Covid-19, layanan kesehatan, ketersediaan oksigen, hingga vaksinasi bisa berbagi dan mencari informasi di akun media sosial gerakan tersebut. Kedua, sebagai wadah pengaduan. Gerakan itu bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali untuk memfasilitasi masyarakat yang membutuhkan audiensi atau advokasi.

”Jadi, misalnya masyarakat mengalami keterpurukan ekonomi dan sebagainya, itu dia bisa mengadu ke LBH Bali. Nanti diadvokasikan melalui audiensi atau tim hukum,” jelas Ansyah, sapaan Novriansyah.

Ketiga, sebagai wadah solidaritas. Itu diimplementasikan dalam bentuk kegiatan berbagi, yang salah satunya mereka gelar pada Sabtu lalu (17/7).

Beberapa tenaga dari aliansi BEM Bali turun ke titik-titik di tiga kabupaten/kota. Buleleng, Badung, dan Kota Denpasar. Sebenarnya, hampir semua daerah di Bali yang erat dengan pariwisata mengalami keterpurukan.

Seperti kata Ansyah, gerakan itu sebagai pemantik. Mereka punya satu gol yang lebih besar. Yakni, pemulihan ekonomi lewat diversifikasi. Sektor pariwisata selama ini memang menjadi roda penggerak terbesar perekonomian Pulau Dewata.

Namun, pandemi ini membuktikan bahwa mengandalkan satu sektor itu saja tidak cukup. Untuk tujuan itu, aliansi BEM sudah berusaha berkomunikasi dan mengajukan audiensi dengan pemerintah setempat. Mereka berharap pemerintah segera merumuskan kebijakan ekonomi baru yang lebih menyejahterakan masyarakat Bali.

”Poin rekomendasi yang ingin kami sampaikan adalah bagaimana sektor-sektor lain seperti pertanian dan maritim juga bisa dimanfaatkan sebagai sentra ekonomi Bali,” jelas Ansyah.*

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!