Sudahkah Kita Hidup Bahagia

opini pontianak post

Oleh : Harjani Hefni, LC

Bahagia terbagi dua, semua dan hakiki. Ada orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu akan diperolehnya bila mempunyai uang banyak, sehingga waktunya dihabiskan hanya untuk mencari uang. Prinsip hidupnya adalah time is money. Dengan uang banyak bisa beli rumah mewah, kendaraan mahal, jalan yang jauh menjadi dekat, ke mana pergi orang pasti menghormat.

Demikian besarnya pengaruh uang dalam kehidupan sehingga tidak sedikit orang yang berpacu dengan waktu untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Orang yang menjadikan uang sebagai indikator kebahagiaan kadang-kadang tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya.

Ada yang mengukur kebahagiaan dengan achievment atau prestasi. Jika mereka punya prestasi, maka mereka akan dihargai, dan karena dihargai dia menjadi bahagia. Orang yang punya prinsip ini akan menghabiskan seluruh waktunya untuk mencapai prestasi.

Secara ukuran dunia yang pendek, mungkin kita bisa melihat dengan kasat mata bahwa pandangan kebahagiaan dengan dua alat ukur itu melahirkan kekayaan dan prestasi yang cukup besar. Tapi, fakta berbicara bahwa  harapan akan mendapatkan uang sebesar-besarnya dan prestasi setinggi-tingginya tidak selamanya bisa direalisasikan. Ada orang yang menggapainya tapi tidak sedikit yang harus tersisih. Jika seseorang selalu mengejar uang dan prestasi lalu tidak menggapainya, maka dua pandangan di atas bukan menjadi sumber kebahagiaan, tetapi akan menjadi sumber keresahan.

Bagi orang yang benar-benar beriman, mereka meyakini bahwa uang dan prestasi bukanlah dua faktor utama untuk meraih kebahagiaan, tetapi hanya faktor pendukung. Kunci kebahagiaan itu tidak terletak pada banyaknya uang maupun harta benda yang dimiliki seseorang. Sebab bila kunci kebahagiaan itu terletak pada banyaknya uang dan kekayaan yang dimiliki seseorang, maka sudah barang tentu di rumah mewah, yang fasilitasnya serba menunjang tidak akan ada tangis dan derita, sedih dan pilu. Tetapi kenyataannya tidak demikian, suka dan duka, sedih dan bahagia, resah dan gelisah, tangis dan ketawa ternyata milik semua orang.

 

Sumber Kebahagiaan

Kunci kebahagiaan sebenarnya ada pada diri manusia itu sendiri. Pusatnya ada di dalam hati. Kebahagiaan itu akan didapat manakala hati seseorang ingat kepada Allah. Orang yang benar-benar beriman dan selalu ingat kepada Allah dipastikan hidup bahagia. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”  (Q.S. Ar-Ra’d : 28).

Dan orang yang berpaling dari mengingat Allah akan merasakan kekeringan dan kehampaan rohani, dan dari situ muncul kegelisahan diri.

Allah berfirman, “Dan barang siapa yang berpaling dari ingat kepada-Ku, maka niscaya dia akan merasakan kehidupan yang serba sempit.” (Q.S.Thaha:124).

Untuk mengingat Allah, Dia sediakan kepada kita beberapa media, di antaranya salat, zikir, membaca Alquran, istighfar, dan taubat. Selain sarana itu, semua perintah Allah adalah sumber ketenangan dan semua larangan Allah adalah sumber kesengsaraan. Perintah Allah selalu sejalan dengan fitrah manusia. Kalau manusia berhasil melaksanakan perintah Allah, maka hati akan mendapatkan ketenangan, karena bersesuaian dengan fitrahnya.

Adapun standar kebahagian yang bersifat lahir di antaranya yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW adalah “Man ashbaha minkum aaminan fi sirbihi, mu’afan fi jasadihi, ’indahu quutu yaumihi, faka-annama hiizat lahu ad dunya.” Barangsiapa dipagi harinya sudah mendapatkan keamanan di lingkungannya, sehat jasadnya, dan dia punya makanan untuk satu hari itu, maka dia seolah-olah mendapatkan seluruh isi dunia.” (Diriwayatkan oleh al Bukhari dalam al Adab al Mufrad dan at Tirmidzi dalam Sunan).

Hadits ini mengajarkan bahwa kebahagiaan dunia sangat sederhana. Hanya tiga indikatornya. Pertama, dirinya merasa aman, keluargaanya aman, dan lingkungannya aman. Kedua, badannya sehat. Ketiga, memiliki makanan untuk hari itu.  Tapi tidak banyak orang menganggap rasa aman itu nikmat, sehat itu nikmat, kecukupan makan itu nikmat. Biasanya orang yang pernah kehilangan rasa aman, pernah mengalami sakit, dan pernah kelaparan, pasti merasakan betapa bahagianya orang yang hidup aman, sehat dan punya makanan meskipun hanya untuk satu hari. Sedangkan orang yang bergelimangan nikmat kadang-kadang tumpul hatinya untuk mensyukuri nikmat Allah. Agar nikmat besar ini bisa dihadirkan, maka Allah mengajarkan kita bersyukur. Syukur akan berbuah bahagia jika memenuhi empat langkah berikut: senang dengan nikmat yang diterima, kita ucapkan rasa bahagia kita dengan lisan, dan kita gunakan nikmat itu sebaik-baiknya sesuai dengan amanah Allah, lalu kita merapat kepada Allah Sang Pemberi nikmat dengan beribadah.

Jika hati kita penuhi dengan dzikir, sholat, istighfar, taubat, baca Alquran dan memenuhi aturan syariat, lalu kita merasa aman, sehat, dan punya kecukupan makanan, maka banyak-banyaklah bersyukur kepada Allah, dan pastikan kita adalah orang yang paling berbahagia, di dunia dan di akhirat. **

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak

 

 

 

loading...