Sukses dari Lembaran Kain Songket

Dirintis sejak tahun 2000, usaha Dayang Songket semakin meroket. Berkat keuletan Imtihani (57), pemilik usaha tersebut, songket khas Sambas itu dikenal di kancah nasional dan internasional. Bahkan, meraih penghargaan Upakarti pada tahun 2017.

Oleh : Siti Sulbiyah

Usia Dayang, sapaan akrab Imtihani, memang tak lagi muda. Tetapi semangatnya menghasilkan karya di dunia fesyen tak pernah memudar. Keuletannya merintis usaha songket Sambas pada akhirnya membuahkan hasil. Banyak perempuan tertolong perekonomiannya setelah direkrut untuk menjadi penenun.

“Saat ini ada 60 penenun yang bekerja dengan saya. Mereka semua ada di Sambas,” ungkap Dayang.

Aktif dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat melalui usaha dibangun, membawanya meraih penghargaan tertinggi di bidang perindustrian, yakni Penghargaan Upakarti pada tahun 2017. Penghargaan ini adalah penghargaan di bidang perindustrian yang diberikan kepada pihak yang berprestasi, berjasa, dan aktif melakukan pembangunan dan/atau pemberdayaan industri kecil dan industri menengah. Setahu dia, penghargaan Upakarti untuk kerajinan kain songket nusantara, baru diberikan kepada dua orang. Salah satunya adalah Dayang Songket.

Semula, Dayang tak menyangka bakal menyabet penghargaan bergengsi tingkat nasional itu. Perjalanannya meraih penghargaan itu, dilalui dengan beberapa tahapan seleksi dengan jumlah peserta yang tidak sedikit. Pada tahap akhir seleksi, ia sendiri tidak membutuhkan banyak persiapan. Sebab, menguasai seluk beluk kain songket dan usahanya.

“Padahal pada saat itu saya buru-buru ke Jakarta untuk presentasi. Sama sekali tidak mengira akan terpilih,” kenang dia.

Usaha Dayang Songket dirintis sejak pindah ke Pontianak pada tahun 2000. Pontianak dijadikan fokus area pemasaran, sementara untuk produksinya, ia mengandalkan para penenun di Sambas. Hingga saat ini seluruh penenunnya berproduksi di Sambas.  Nama Dayang Songket sendiri, diambil dari nama panggilan dirinya.

Jauh sebelum membuka usaha sendiri, Dayang telah bergelut dengan dunia tenun songket sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya di bangku kelas tiga. Keterampilan menenun itu diturunkan dari sang nenek. Sementara usaha songket, semula merupakan usaha keluarga yang diwariskan oleh kakek, yang kerap ia panggil Datok.

“Dulu di Sambas itu ada sebuah rumah besar, yang dikhususkan untuk menenun. Ada sekitar 20 alat tenun waktu itu,” kata perempuan asal Kabupaten Sambas ini.

Sewaktu remaja, songket-songket yang dihasilkan, membuatnya meraih pundi-pundi rupiah. Biasanya, penghasilan dari menenun ia belikan emas. Satu kain songket bisa untuk membeli sekitar lima gram emas. Dulu harga emas hanya Rp7 ribu pergram.

Tahun 90an ia mulai sering ikut orang lain berdagang kain songket ke berbagai daerah, termasuk ke Malaysia. Pameran-pameran juga aktif diikuti untuk menambah wawasannya di dunia fesyen. Ia semakin banyak belajar.

“Bisa ikut pameran di Pontianak, dulunya itu sudah sangat bergengsi,” kata dia.

Semakin banyak pengalamannya di dunia tenun songket, semakin menguatkan dirinya untuk merintis usaha sendiri secara mandiri. Tahun 2000, keinginannya diwujudkan ketika memutuskan pindah ke Pontianak. Jejaring di Sambas ia manfaatkan. Beberapa perajin ia rekrut sebagai pegawai.

Lewat pemasaran langsung, kain songket khas Sambas mulai dikenal. Para pejabat rajin mengenakan kain ini dalam berbagai kegiatan. Dukungan dari berbagai pihak dinilai dia berpengaruh besar dalam mempromosikan kain ini. “Sekarang kita bersyukur Songket Sambas sudah mulai dikenal,” kata Dayang.

Imtihani, Ketua Iwapi Kota Pontianak

Dayang  juga aktif memperkenalkan kain ini melalui pameran-pameran yang digelar secara lokal maupun nasional. Berbagai daerah juga pernah ia sambangi, untuk memperkenalkan kain kebanggaannya itu. Pameran di luar negeri juga pernah diikuti.

“Pameran yang pernah diikuti di Jakarta, Bali, Surabaya, Jambi, Lampung, dan daerah lain. Kalau di luar negeri pernah ke Kuching, Kuala Lumpur, Brunei Darussalam, Jepang, dan Belanda,” tutur dia.

Meski usainya tak lagi muda, namun Dayang masih aktif terlibat dalam kegiatan organisasi. Tercatat, ia pernah aktif di Dekranasda Kota Pontianak. Saat ini pun, ia didapuk sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha (Iwapi) Kota Pontianak. **

loading...