Supadio Lumpuh Total, 37 Penerbangan Dibatalkan

supadio

PENERBANGAN TERGANGGU: Sejumlah penerbangan dibatalkan keberangkatannya dikarenakan kondisi kabut asap yang tebal. Sementara masih banyak penumpang yang bertahan menunggu keberangkatan mereka. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

SUNGAI RAYA – Sebanyak 37 penerbangan dari dan menuju Bandara Supadio mengalami pembatalan terbang akibat kian tebalnya kabut asap yang membuat jarak padang di bawah batas aman penerbangan, Minggu (15/9). Jarak pandang di kawasan Bandara Supadio, pada Minggu, sejak pukul 08.00 hingga pukul 16.00 berkisar antara 250 meter – 650 meter.

“37 penerbangan yang batal itu terdiri dari 19 penerbangan yang batal berangkat dan 18 penerbangan yang batal datang sehingga pada akhirnya mendarat di bandara lain dan beberapa balik lagi ke bandara asal,” kata Plt Manajer Operasi dan Pelayanan Bandara Supadio, Andry Felanie, Minggu (15/9).

Semula hingga sekitar pukul 08.45 masih terdapat sejumlah pesawat yang sempat landing dan take off di Bandara Supadio. “Tadi padi masih sempat ada tujuh pesawat yang berangkat dan tiga pesawat yang datang. Namun di atas pukul 8.45, jarak pandang di bawah batas normal atau di bawah 1.000 meter sehingga membuat banyak penerbangan selanjutnya terganggu,” jelasnya.

Ditanya soal kerugian akibat banyaknya penerbangan yang batal hari ini, kendati tidak menyebutkan angka detail, namun Andry mengaku tidak hanya pihak maskapai, pihak Bandara Supadio pun juga mengalami kerugian.

Jelang sore hari yakni sekitar pukul 15.32 jarak pandang di bandara sudah berangsur membaik, menurutnya untuk jarak pandang di run way 15 bandara Supadio sudah mencapai 2300 meter, sedangkan di run way 33, jarak pandangnya sudah mencapai 2400 meter. “Kami berharap dengan jarak pandang yang sudah berangsur membaik ini membuat beberapa maskapai yang batal bisa kembali dijadwalkan diberangkatkan atau bisa mendarat di Bandara Supadio,” harapnya.

Untuk penerbangan selanjutnya, kata Andry, pihaknya masih berkoordinasi dengan maskapai untuk memastikan siap atau tidaknya pihak maskapai untuk kembali melakukan penerbangan. Kendati kabut asap masih tebal, namun kata Andry pihak bandara akan terus siap memberikan pelayanan bagi penumpang.

Melihat kondisi kabut asap yang masih pekat, kata dia, untuk potensi jarak pandang di bawah rata-rata masih bisa saja terjadi. Apalagi sambungnya jarak pandang di Ketapang hingga Minggu sore lanjutnya masih di bawah 200 meter. “Informasi dari teman-teman di lapangan hingga tadi sore, jarak pandang di Ketapang masih di bawah 200 meter. Tentunya kita semua berharap agar kabut asap ini segera hilang sehingga aktivitas penerbangan bisa kembali normal,” ungkapnya.

Akibat mengalami pembatalan penerbangan, Pantauan Pontianak Post di Bandara Supadio, terdapat sejumlah penumpang yang tampak duduk bahkan terbaring di beberapa sisi bandara termasuk di mushola bandara sembari menunggu jemputan untuk kembali ke rumah masing-masing bahkan berinisiatif untuk menggunakan jalur darat untuk kembali ke kampung halaman.

Misalnya saja yang dialami Suriati (45), warga asal Putusibau ini semula dijadwalkan akan berangkat ke Putusibau sekitar pukul 9.00 WIB. Namun dia terpaksa menunggu keputusan pihak bandara dan maskapai untuk kepastian keberangkatan pesawat yang akan ditumpanginya.

“Sampai sekitar pukul 13.00 tadi saya menunggu kepastian dari pihak bandara dan akhirnya karena jarak pandang karena kabut asap tebal, pesawat kami batal berangkat,” kata Suriati yang sedang terbaring mushola bandara.

Lantaran khawatir kembali terjadi pembatalan penerbangan membuat Suriati berinisiatif pulang ke Putusibau menggunakan taksi. “Belum tentu besok bisa berangkat, sementara saya masih harus kerja, jadi yang pasti-pasti sajalah, makanya akhirnya saya pesan taksi saja untuk balik ke Putusibau,” jelasnya.
Pembatalan penerbangan juga dialami Ranti (39) yang sejatinya akan berangkat ke Jakarta menggunakan Lion Air sekitar pukul 11.30 wib. “Ya pasti kecewa lah batal berangkat hari ini, karena besok saya ada pelatihan di Jakarta. kalau sudah begini tentu saya yang rugi ketinggalan materi,” jelasnya.

Ranti pun mengaku prihatin lantaran masalah kabut asap menjadi salah satu bencana rutin yang terjadi setiap tahun di Kalimantan Barat. “Sepertinya pemerintah masih belum terlalu tegas menindak oknum pelaku pembakar hutan dan lahan,makanya hingga sekarang kabut asap masih terus terjadi,” pungkasnya.

Sementara itu maskapai Nasional Garuda Indonesia membatalkan 12 penerbangan akibat kabut asap. Tiga di antaranya di Pontianak (GA512/513 – Rute Jakarta – Pontianak – Jakarta, GA502/505 – Rute Jakarta – Pontianak – Jakarta dan GA504/507 – Rute Jakarta – Pontianak – Jakarta). Angka ini juga masih data hingga siang hari, kemarin.

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, M Ikhsan Rosan, pembatalan penerbangan tersebut sejalan dengan komitmen maskapai dalam keselamatan dan keamanan penerbangan. Lebih lanjut, untuk memastikan kesiapan dan keselamatan operasional penerbangan, sejumlah penerbangan Garuda Indonesia turut mengalami keterlambatan maupun pengalihan penerbangan.

“Berbagai antisipasi tersebut turut berdampak terhadap sejumlah rotasi penerbangan, untuk itu kami mengimbau penumpang untuk melakukan pengecekan secara berkala jadwal penerbangan mereka. Sehubungan dengan hal tersebut, kami juga telah mempersiapkan upaya mitigasi untuk penanganan penerbangan yang terdampak termasuk penanganan penumpang,” katanya.

Di tempat terpisah, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan, sebagai langkah menjamin keselamatan dan keamanan, Lion Air Group mengalami keterlambatan keberangkatan dan kedatangan (delay), pengalihan pendaratan (divert), kembali ke bandar udara keberangkatan (return to base/ RTB) serta melakukan pembatalan penerbangan (cancel), di beberapa jaringan domestik yang dilayani.

“Hal ini sebagai dampak yang timbul berpotensi mengakibatkan terganggunya pada rotasi pesawat untuk sektor atau rute penerbangan berikutnya. Keputusan tersebut disebabkan akibat cuaca buruk berupa fog/smoke (kabut asap) yang terjadi di beberapa daerah,” ungkap dia, kemarin.

Kondisi kabut asap yang melanda sejumlah daerah di tanah air ini, kata dia, mengakibatkan jarak pandang pendek  atau visibility below minimum dan tidak memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan untuk proses lepas landas dan mendarat. Dia menegaskan, bahwa berdasarkan situasi yang terjadi, seluruh operasional dijalankan berdasarkan standar operasional prosedur (SOP).

Pada Minggu (15/9) hingga pukul 12.00 WIB misalnya, di seluruh penerbangan domestik, maskapai ini mencatat, sebanyak enam penerbangan mengalami pengalihan pendaratan, yang mana satu di antaranya Lion Air Penerbangan Makassar (UPG) – Pontianak (PNK) divert Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK). Untuk penerbangan yang mengharuskan kembali ke bandaara keberangkatan (RTB) dialami dua penerbangan, yang salah satunya Lion Air penerbangan Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK) – Pontianak (PNK) kembali ke Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK).

Keterlambatan kurang dari 60 menit, dialami lima penerbangan, yang mana dua di antaranya penerbangan dari atau menuju Pontianak. Keterlambatan 60 menit-180 menit dialami oleh 12 penerbangan. Keterlambatan lebih dari 180 menit, dialami sebanyak 56 penerbangan, yang mana 11 di antaranya penerbangan dari atau menuju Pontianak. Sementara pembatalan penerbangan, harus dia alami enam rute penerbangan, yang salah di antaranya Wings Air penerbangan Pontianak (PNK)-Ketapang (KTG) maupun sebaliknya.

“Lion Air Group sudah menginformasikan kepada seluruh penumpang atau tamu yang terganggu perjalanannya. Lion Air Group juga memfasilitasi kepada penumpang bagi yang akan melakukan proses pengembalian dana (refund), perubahan jadwal keberangkatan (reschedule) sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku,” jelas dia.

Danang menambahkan, Lion Air Group akan terus berkoordinasi bersama pihak terkait guna memperoleh perkembangan atau keterangan sesuai situasi terbaru. Menurutnya, operasional Lion Air Group akan berjalan normal kembali setelah jarak pandang dinyatakan aman untuk penerbangan (safe for flight). “Lion Air Group akan meminimalisir dampak yang timbul, agar operasional lainnya tidak terganggu,” pungkas dia. (ash/ars/sti)

Read Previous

Tim BKKBN Kalbar Hadiri Harganas Nasional di Kalsel

Read Next

Penolakan Revisi UU KPK Meluas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular