Surut Buka Toko, Pasang Tarik Perahu

PENAMBANG MUSIMAN: Maliki tengah mengendarai perahunya untuk mengantar penumpang yang mau menyebrang. FIRDAUS DARKATNI/PONTIANAK POST

Mencari Nafkah di Waktu Banjir

Sejak dua pekan Sungai Melawi dan Kapuas meluap. Masyarakat yang ramai tinggal di pinggir sungai pun kesulitan. Pasalnya, jalan setapak di pinggir sungai direndam banjir. Meski tak tinggi, masyarakat kesulitan lakukan aktivitas. Penambang perahu pun kini jadi pilihan.

FIRDAUS DARKATNI – SINTANG

MALIKI warga asal Kelurahan Kapuas Kiri Hilir, Kecamatan Sintang tengah menunggu penumpang sembari bersantai di tepi sungai, tepat di depan Pendopo Bupati Sintang, Minggu (27/7).

Maliki adalah salah satu penambang perahu jenis long boat yang sejak dua pekan terakhir mulai sibuk mengantar penumpang dari Pasar Inpres ke Kelurahan Mekar Jaya, pun sebaliknya. Tak hanya itu, kadang ia juga layani jasa untuk menyeberang dari Pasar Sungai Durian menuju ke Mensiku.

Bermodal perahu sepanjang 10 meter dan mesin 2 PK, saban hari selama banjir ia getol bekerja layani penumpang yang hendak menyeberang. “Satu orang kalau mau menyebrang, bayar Rp10 ribu. Kadang saya bawa barang juga,” ungkapnya kepada Pontianak Post.

Banjir yang menyebabkan jalan tergenang di sekitar pesisir sungai, membuat masyarakat enggan turunkan motor roda dua. Akibatnya, aksesbilitas masyarakat terganggu. Mereka lebih memilih jasa perahu untuk mobilisasi.

“Ada sekitar belasan orang yang seperti saya ini, penambang baru. Kami mulai menambang sejak banjir. Kalau penambang tetap yang dari dulu sudah ada, banyak,” imbuhnya.

Sebelum banjir, Maliki adalah pemilik toko di Kelurahan Kapuas Kiri Hilir. Sejak banjir menerjang. Warung sembako miliknya tak bisa operasional. Untuk tetap mendapat nafkah, dirinya memilih bekerja sebagai penambang sampan. “Lumayanlah satu hari dapat Rp100 ribu – Rp200 ribu, sudah dipotong sama bensin untuk mesin,” katanya lagi.

Jika nanti tak lagi banjir. Maliki pun tak melanjutkan menjadi penambang. Dirinya mulai membuka usaha sembakonya sembari mengantar minyak dari kios satu ke kios lainnya. Seperti pekerjaan sebelum banjir yang ia kerap lakoni.

“Kalau sudah tidak banjir saya kerja seperti sebelumnya lagi. Buka warung dan antar minyak ke kios-kios,” ucapnya sambil mengikat tali penambang perahu ke tiang. Ia pun kembali beristirahat sembari menunggu penumpang lagi. (*)

error: Content is protected !!