Tahan Diri untuk Swafoto

Peringatan 17 Agustus 2019 menjadi pengalaman berkesan bagi Setiadi. Dia mendapat kesempatan menginjakkan kaki di Istana Merdeka. Bahkan, tak sekadar berkunjung, news presenter TVRI Kalbar ini turut berkontribusi menjadi seorang Protokoler Perbantuan Istana Kepresidenan 2019.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Sejak lama Setiadi ingin masuk ke dalam Istana Kepresidenan. Tahun ini, 2019, dia berhasil mewujudkannya. Pria kelahiran Sungai Ambawang, 19 April 1993 ini pun sangat antusias menceritakan pengalamannya selama tiga minggu di sana.

Pria yang akrab disapa Adi ini menuturkan kegiatan Protokoler Perbantuan Istana Kepresidenan ini merupakan kegiatan rutin. Diselenggarakan oleh Kementerian Sekretariat Negara yang melibatkan banyak unsur.

“Tujuannya, untuk membantu pelaksanaan 17 Agustus 2019 di Istana Merdeka. Tim yang tergabung terdiri dari 25 orang (baik perrnpuan maupun pria) dari 34 Provinsi di Indonesia yang terpilih,” ujarnya.

Ada tahapan yang dilalui untuk bergabung di sana. Dimulai dari mengirimkan berkas seperti menuliskan identitas standar, prestasi yang diraih, pendidikan dan lainnya. Menurut anggota Paskibraka Kubu Raya 2010 ini, berkas yang dikirimkan ini berupa portofolio yang menjelaskan tentang diri.

“Jika diibaratkan seperti menjual diri lewat prestasi dan pengalaman yang pernah diraih. Setelah diseleksi dan dinyatakan lulus, pemuda-pemudi terpilih ini datang ke Jakarta,” tutur Ketua Purna Paskibraka Indonesia Kubu Raya 2014 sampai 2018.

Kegiatan di Istana Kepresidenan dimulai dari tanggal 31 Juli hingga 20 Agustus 2019. Salah satu tugas yakni membantu persiapan kegiatan yang berkaitan dengan perayaan 17 Agustus di Istana Merdeka. Seperti, pelaksanaan pagelaran wayang, pengukuhan Paskibraka Nasional pada 15 Agustus 2019.

“Serta, pengibaran dan penurunan bendera pada 17 Agustus 2019. Seluruh kegiatan ini di bawah arahan biro protokol kementrian sekretariat negara,” jelasnya.

Banyak pengalaman yang didapatkan Duta Mahasiswa Genre Kalbar 2015. Dia bersama yang lainnya bisa berkeliling ke istana. Bertemu langsung dengan presiden dan melihat bagaimana rumitnya urusan istana dan presiden.

“Intinya, benar-benar bisa dekat dengan presiden. Pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Apalagi, tidak semua orang berkesempatan mendapatkan pengalaman ini. Dari yang awalnya cuma bisa melihat istana merdeka dari luar dan televisi, peserta mendapatkan akses,” ungkapnya.

Putra Dirgantara Indonesia Intelegenci 2017 ini mengaku saat berada di Istana Merdeka seakan-akan seperti masuk ke rumah sendiri. Cukup menunjukkan tanda pengenal (id card), peserta bisa masuk ke dalam Istana Merdeka. Bahkan, Setiadi dan bersama teman-temannya berkesempatan menjalankan ibadah salat Jumat bersama presiden.

“Pemuda-pemudi terpilih jadi mengetahui dalam kegiatan-kegiatan kepresidenan dan apa saja yang harus dilakukan. Tentunya, ilmu ini bisa digunakan jika berminat bekerja di bidang keprotokoleran,” jelas Indonesia’s Delegate for International Youth Summit 2017 Yogyakarta.

Dari pengalaman itu, Ketua Forum Genre Kalimantan Barat 2017-sekarang ini mengetahui bahwa pelaksanaan upacara yang dilakukan tergolong cukup rumit. Setiap tahun istana harus mempersiapkan jumlah undangan yang terus bertambah.

Tahun 2019, ada 18.000 undangan yang dibagikan. Terdiri dari 9.000 undangan pagi saat pengibaran dan 9.000 sore saat penurunan. Proses mengurusnya juga sangat detail. Karena undangan tidak hanya meliputi pejabat negara, pimpinan lembaga negara dan menteri. Tetapi, juga orang-orang penting di Indonesia.

“Melihat dinamika protokol, bagaimana bisa gesit dalam melayani presiden di setiap kegiatan,” katanya.

Pengalaman lain yang diperoleh Indonesia’s Delegate for Asian Young Sociopreneur Leader Exchnge 2018 Hongkong ini adalah harus tepat waktu (on time). Datang pagi, pulang tengah malam. Selain itu, harus menahan diri untuk tidak mengajak foto para pejabat yang ditemui.

“Benar-benar harus menahan diri, meski memiliki keinginan untuk mengabadikan momen bersama tokoh penting Indonesia,” tuturnya.

Ada larangan juga untuk mengunggah beberapa hal yang menjadi rahasia negara. Baik berkas maupun lokasi. Di laman media sosialnya, Setiadi hanya mengunggah foto di beberapa tempat yang diperbolehkan dan mendapat izin dari Setneg. Sehingga, teman-teman benar dilarang lelet saat berada disini.

“Tidak jarang jika ada yang lelet, akan dimarahi,” pungkasnya.

Read Previous

Defisit Daging di Kalimantan Barat

Read Next

Diskominfo Kalbar Wujudkan Proses Perizinan yang Cepat

Tinggalkan Balasan

Most Popular