Tak Ada Konvoi Tatung, Naga, dan Barongsai

KESEPAKATAN: Kesepakatan bersama Wali Kota, Kapolres, Dandim, Kepala Kantor Kemenag, Kepala Dinas Parpora, Ketua Panitia Pelaksanaka Imlek dan Cap Go Meh tahun 2021 beserta delapan majelis keagamaan Kota Singkawang terkait perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Senin (22/2). HUMASKOT FOR PONTIANAK POST

SINGKAWANG – Pandemi Covid-19 membuat atraksi tatung maupun arakan naga, barongsai, dan kerumuman di jalan-jalan Kota Singkawang pada perayaan Cap Go Meh ditiadakan. Yang hanya ada yakni ritual agama di masing-masing rumah ibadah. Hal tersebut sesuai kesepakatan bersama Wali Kota, Kapolres, Dandim, Kepala Kantor Kementerian Agama, Kepala Dinas Pariwisata, Ketua Panitia pelaksanaka Imlek dan Cap Go Meh tahun 2021, beserta delapan majelis keagamaan Kota Singkawang di rumah dinas jabatan Wali Kota, Senin (22/2) malam.

Semuanya telah menyepakati sejumlah poin terkait perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang. Mereka sudah rapat, memutuskan dan membubuhkan tanda tangan di atas kesepakatan bersama. Upaya tersebut diambil sebagai langkah nyata menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Provinsi Kalimantan Barat Nomor 443.1/0111/Tahun 2021 tanggal 8 Januari 2021 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat dan Pelarangan Sementara Perayaan Cap Go Meh untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi Kalimantan Barat, serta hasil kesepakatan rapat Pelaksanaan Kegiatan Imlek 2572 dan Cap Go Meh 2021 tanggal 22 Januari 2021 dan tanggal 26 Januari 2021 mengenai penegakan Surat Edaran Gubernur dimaksud.

Wali Kota (Wako) Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan bahwa kesepakatan ini akan segera disebarluaskan ke tokoh agama, tokoh masyarakat, rumah ibadah, dan masyarakat. “Selaku Wali Kota, saya mohon untuk kita semua mentaati Surat Edaran Gubernur Kalbar, demi kenyamanan, keamanan, serta memutus matarantai penyebaran Covid-19, sehingga semua pihak bisa membaca, memahami isi kesepakatan, dan nantinya akan kita sosialisasikan ke masyarakat,” ungkap Wako.

Sementara itu, Kapolres Singkawang AKBP Prasetiyo Adhi Wibowo menyampaikan bahwa Polri-TNI serta unsur pemerintahan akan siap mengamankan kegiatan ibadah. Ia menegaskan, pemerintah tidak melarang umat untuk beribadah, tapi menjamin kegiatan ibadah umat berjalan dengan aman, tertib, serta lancar. “Kami minta aturan terkait upaya pemerintah mengendalikan Covid-19 agar ditaati dijalankan,” katanya.

Pihaknya akan terus melaksanakan pendisiplinan dan pembubaran kerumuman masyarakat sebagaimana aturan yang ada. “Kami juga mengingatkan pengunjung yang datang ke Singkawang juga mentaati aturan dan imbauan pemerintah terkait pengendalian penyebaran Covid-19, jika melanggar kami akan siap melaksanakan penegakan hukum,” katanya.

Sementara itu, Dandim 1202/Skw Letkol Inf. Condro Edi Wibowo akan siap membantu Polri dalam  upaya bersama pengendalian penyebaran Covid-19. Pihaknya menegaskan bahwa nantinya yang diperhatikan adalah kerumuman massa, baik berjalannya saat ritual maupun orang-orang yang ingin menyaksikan ritual itu sendiri. “Ini perlu perhatian bersama,” kata Dandim. Oleh sebab itu TNI-Polri dipastikan dia, akan bersinergi mencegah kerumuman tersebut namun ritual ibadah tetap berjalan lancar.

 

Di sisi lain, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kota Singkawang, HM. Natsir sangat mengapresiasi adanya inisiatif Pemkot membuat kesepakat bersama ini. Langkah ini ia nilai sebagai upaya bersama guna mencegah penyebaran Covid-19 dan hal-hal yang menimbulkan kerawanan. “Kami sangat mengapresiasi kesepakatan ini. Dan kami berterima kasih atas kemakluman masyarakat nantinya atas kondisi saat ini terutama mereka yang beragama Budha, Konghucu,” jelasnya.

Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia Kota Singkawang, Budiman mengimbau umat Konghucu, umat Budha, umat Tridharma, serta umat Tao untuk patuh Surat Edaran Gubernur Nomor 443 dalam rangka pelaksanaan perayaan Cap Go Meh tahun 2021. “Mari kita taati dan patuhi apa yang menjadi imbauan pemerintah terkait pengendalian penyebaran Covid-19 sekaligus upaya bersama kita dalam mempertahankan eksistensi kota Singkawang sebagai kota tertoleran di Indonesia,” imbaunya.

Dengan adanya kesepakat ini, maka ia mengimbau rohaniawan dalam hal ini praktisi tatung, tetap melaksanakan ritual di tempat ibadah masing-masing untuk tidak turut ke jalan yang dapat mengundang kerumunan massa. (har)

 

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!