Aktivitas Komunitas Ngaji Braille Bagikan Alquran di 10 Masjid
Tak Hanya Melafalkan Alquran tapi Juga Saling Memotivasi

FOKUS: Prana Carenza (kiri) dan anggota Ngaji Braille sedang membaca ayat suci Alquran di depan jamaah Masjid Rahmat, Kembang Kuning, Surabaya. (Wahyu Zanuar Bustomi/Jawa Pos)

Tidak hanya belajar melafalkan ayat suci Alquran, mereka juga saling memotivasi. Saling berkeluh kesah. Komunitas Ngaji Braille tidak sekadar mendampingi para penyandang disabilitas supaya bisa mengaji. Tapi, juga memberikan support dan dorongan spiritual. Terlebih soal bagaimana mensyukuri takdir dan segala kehendak-Nya.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

TIDAK ada yang berbeda dengan kedatangan anggota komunitas Ngaji Braille Surabaya di Masjid Rahmat Kembang Kuning. Hanya, mereka membuat formasi memanjang saat berjalan. Masing-masing memegangi bahu yang ada depannya. Sesekali juga harus berhenti. Terutama saat hendak menaiki ubin masuk masjid.

Dengan penuh keyakinan, setiap anggota mengikuti ke mana arah berjalan. Semua dipasrahkan kepada orang yang ada paling depan. Maklum, bagian terdepan adalah penunjuk jalan sekaligus pembina komunitas Ngaji Braille. Barisan berisi lima orang itu diarahkan ke saf paling depan.

Para jamaah di masjid pun sudah menunggu. Tak berselang lama, jari telunjuk Prana Carenza mulai bergerak. Begitu juga bibirnya. Dengan lincah dan fasih dia mulai melafalkan ayat suci Alquran.

Sekilas, jari telunjuk Prana hanya bergerak pada kertas putih kosong. Yang dirabanya itu kertas khusus. Di sana tertulis huruf hijaiyah sekaligus harakatnya. ’’Termasuk untuk melihat hukum bacaannya,’’ kata Prana.

Kedatangan rombongan komunitas Ngaji Braille di Masjid Rahmat Kembang Kuning itu bukan hanya untuk mengaji. Melainkan juga menunjukkan bagaimana para tunanetra tetap bisa membaca Alquran meskipun dengan segala kekurangan dan keterbatasan.

Hal tersebut juga dilakukan untuk memotivasi jamaah yang hadir siang itu. Betapa tidak, para penyandang tunanetra membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa membaca Alquran. Itu berbeda dengan orang normal. Hanya, kesempatan tersebut jarang dimaksimalkan.

Pembina spiritual komunitas Ngaji Braille Surabaya Arif Hadi Umam mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk menginspirasi orang banyak. Total ada 10 masjid yang didatangi komunitas Ngaji Braille Surabaya. Mereka tak hanya mengaji, tetapi juga memberikan Alquran braille surah Yasin dan juz 30.

Cara itu dilakukan untuk mengampanyekan ngaji braille bagi para penyandang disabilitas. Dengan begitu, beberapa masjid tersebut bisa memfasilitasi tunanetra untuk mengaji. Syukur-syukur juga mampu memberikan pelatihan ngaji braille bagi yang membutuhkan.

Karena itu, kata Arif, kegiatan tersebut digelar tidak hanya untuk belajar membaca Alquran, tapi juga melakukan pendampingan spiritual terhadap setiap anggota. Harapannya, mereka bisa berdamai dengan ketetapan Ilahi. ’’Kami yang normal saja kadang sulit bersyukur, apalagi mereka,’’ ucapnya.

Komunitas Ngaji Braille berdiri sejak sembilan tahun lalu. Tepatnya, 2013. Saat itu anggotanya memang para tunanetra. Nah, lambat laun anggotanya mulai beraneka macam. Mulai tunadaksa, tunawicara, hingga tunarungu. Sebab, semua memiliki kesulitan yang sama.

Menurut Arif, dalam membaca Alquran braille, yang paling susah justru bukan para tunanetra. Melainkan tunarungu dan tunawicara. Sebab, mereka berkomunikasi melalui gerak bibir. Namun, hal itu tidak menjadi masalah, asalkan semua didasari niat yang kuat.

Selain belajar membaca Alquran, para anggota komunitas diberi ruang untuk saling curhat. Rata-rata mereka mengobrol tentang kehidupan. ’’Biasanya saling mencurahkan keluh kesah mereka,’’ kata Arif.

Peristiwa lucu dan mengharukan juga sering terjadi. Misalnya, ketika mengaji, ada yang membawa jajan. Saat itu ada kucing yang lewat. Lalu, jajan tersebut dimakan kucing. Karena tidak bisa melihat, akhirnya mereka tetap memakan jajan tersebut.

Ada juga masalah lain. Yakni, mereka kerap lupa menaruh sesuatu meskipun berada di sisinya. Menurut Arif, sebagian besar di antara mereka belajar Alquran braille sejak kecil. Dengan begitu, saat bergabung, yang ada hanya penggalangan.

Prana, salah seorang anggota komunitas, menuturkan bahwa dirinya mengalami kebutaan sejak lahir. Prana pun belajar Alquran braille sejak SD. Awalnya dia memang mengalami kesulitan saat menghafal kode dalam Alquran. Namun, setelah terbiasa, dia kini sudah ahli. Hanya, dia perlu mendalami lagi soal hukum bacaan.

Mahasiswa Unesa itu mengungkapkan, karena keterbatasannya, memang tidak mudah membaca Alquran. Namun, jauh lebih sulit jika tidak belajar Alquran braille. Sebab, semua berawal dari kebiasaan. ’’Saya masih khatam Alquran sekali,’’ kata pria 25 tahun itu.

Komunitas Ngaji Braille bukan hanya tempat belajar mengaji bagi penyandang disabilitas. Melainkan juga sebagai pendamping para difabel untuk mendapatkan dorongan spiritual. Termasuk bagaimana bisa ikhlas dan bersyukur. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!