Tanda-Tanda Tubuh Kekurangan Cairan

Dua per tiga bagian tubuh manusia adalah cairan. Tubuh perlu cairan yang cukup untuk berfungsi secara optimal. Lantas, bagaimana menyadari bahwa tubuh tengah mengalami kekurangan cairan?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Banyak orang beranggapan dehidrasi sekadar kurang minum saja. Padahal, dehidrasi bukan sekadar kekurangan minum saja. Namun, kekurangan cairan di dalam tubuh yang tak hanya berupa air saja, tapi juga elektrolit, garam, mineral, dan gula darah yang penting untuk tubuh.

Dokter Umum RSUD Abdul Aziz Singkawang, Ryan Arifin menjelaskan dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang didapatkan, sehingga keseimbangan zat gula dan garam menjadi terganggu. Akibatnya, tubuh tidak dapat berfungsi secara normal. Kandungan air di dalam tubuh manusia yang sehat lebih dari 60 persen total berat badan.

“Dua penanda awal dari dehidrasi diantaranya adalah rasa haus dan urine yang semakin pekat,” jelasnya.

Ryan mengatakan penyebab dehidrasi antara anak dan dewasa hampir sama. Ada beberapa penyebab dehidrasi diantaranya adalah kondisi demam. Suhu tubuh yang tinggi membuat penguapan air dari kulit berlebih, sehingga kehilangan cairan akan lebih mudah terjadi. Tubuh akan merespon dengan berkeringat agar suhu tubuh dapat diturunkan.

Diare dan muntah juga menjadi salah satu penyebab dehidrasi. Diare dan muntah dapat terjadi karena saluran cerna bermasalah. Saat diare, usus tidak dapat menyerap cairan dengan baik. Cairan banyak terbuang melalui proses buang air besar. Diare biasanya disertai dengan gejala muntah yang tentu akan membuat cairan tubuh semakin terkuras, sehingga terjadi dehidrasi.

“Kurangnya cairan seperti kurang minum juga bisa membuat kondisi dehidrasi baik pada anak maupun dewasa,” kata Ryan.

Ryan menuturkan beberapa kemungkinan yang membuat kurangnya minum pada anak biasanya sedang tumbuh gigi, pilek, sariawan, atau penyakit mulut lainnya. Sedangkan, pada orang dewasa seperti sakit gigi, radang tenggorokan, penyakit tumor rongga mulut atau esofagus. Kondisi tersebut bisa membuat mulut dan tenggorokannya nyeri dan tidak nyaman saat minum.

“Aktivitas yang padat seperti yang menghasilkan keringat banyak, namun tidak disertai minum air yang cukup akan dapat berakibat pada kondisi dehidtrasi,” tutur ayah satu anak ini.

Dehidrasi sendiri memiliki beberapa tingkatan. Ada yang ringan dan mudah ditangani, sedang, atau parah baik pada anak maupun dewasa. Dehidrasi parah bisa bisa mengancam nyawa, jika tidak segera diobati.

Ciri-ciri dehidrasi ringan dan sedang pada anak meliputi mulut dan bibirnya terlihat kering, tidak ada air mata saat menangis dan tampak rewel dan kurang mau bermain. Selain itu, tidak kuat menyusu seperti biasa. Warna urine tampak lebih gelap dan baunya lebih menyengat dari biasanya. Dan, popoknya kering, padahal sudah dipakai lebih dari 6 jam. Sedangkan dehidrasi yang sangat parah ditandai dengan tangan dan kakinya yang terasa dingin. Tubuh terlihat pucat. Mata dan ubun-ubun cekung. Anak tampak sangat lemas dan mengantuk.

“Serta, sesak napas dan tekanan darah rendah,” ujar Ryan.

Alumnus Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan (FKIK) Untan ini mengungkapkan jika dehidrasi dibiarkan begitu saja tentu akan menimbulkan kegagalan organ baik organ ginjal, hati, jantung, bahkan yang paling berat otak. Pengembalian cairan yang hilang (rehidrasi) harus segera dilakukan. Semakin cepat rehidrasi dilakukan, semakin baik kondisi perbaikan orang yang mengalami dehidrasi.

Saat rehidrasi sebaiknya mengonsumsi air putih atau minuman elektrolit. Pada bayi atau anak lebih baik minum ASI, susu formula ataupun oralit. Hindari konsumsi minuman berenergi, kopi, makanan asin, minuman soda saat mengalami dehidrasi. Mengganti cairan menggunakan minuman berenergi, soda, ataupun kopi dapat memperberat kondisi dehidrasi sehingga kegagalan organ lebih cepat terjadi.

Ryan menambahkan dehidrasi bisa dicegah. Caranya dengan minum banyak cairan dan mengonsumsi makanan yang kadar airnya tinggi, seperti buah-buahan dan sayuran.

“Jangan lupa minum air yang cukup. Untuk orang dewasa minimal tujuh gelas sehari. Sedangkan, pada anak atau bayi melanjutkan ASI dan minum susu formula, serta MPASI yang cukup,” pungkasnya. **

loading...