Tantangan Guru, Setelah Pandemi Covid 19

OLEH Robertus Jematu 

Profesi guru dan tugasnya sangatlah mulia. Guru menjadi pilar-pilar yang menyokong lahir dan berkembangnya profesi-profesi yang lain. Berdasarkan tugas dan fungsi pokok, guru dan dokter jelas berbeda. Kita dapat menyebutkan salah satu contoh, misalnya guru bisa mendidik orang menjadi dokter, namun dokter tidak bisa mengobati orang menjadi guru.

Tugas mulia dokter adalah mengobati (guru) yang sakit menjadi sehat. Di tengah pandemi Covid 19 yang mengglobal saat ini, para dokter dan tenaga medis lain menjadi ujung tombak. Meski demikian, pengalaman pahit inipun menjadi “guru” bagi semua orang dari semua profesi.

Makna kata guru hanya menjadi jelas jika dihubungkan dengan dunia pendidikan. Artinya guru dan pendidikan memiliki hubungan yang tak terpisahkan dan hubungannya itu membawa dampak sosial yang mengagumkan.

Menjadi guru itu menarik. Setelah sepuluh tahun menjalani profesi ini, saya menemukan makna tugas guru yaitu sebuah tugas istimewa yang penuh dengan berbagai peluang dan tantangan. Peluangnya bahwa tugas mendidik itu tidak pernah berhenti sebagaimana menjadi manusia pembelajar karena tidak pernah berhenti untuk belajar.

Kebijakan dalam bidang pendidikan dapat berubah setiap lima tahun. Menteri Pendidikan Nasional, Nadiem Makarim telah membuat suatu perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Perubahan yang paling santer dan viral dari kebijakan tersebut adalah meniadakan Ujian Nasional, lalu menggantinya dalam bentuk yang lain yaitu Test Assesmen Kompetensi.

Bentuk uji kompetensi seperti ini menurutnya dapat meningkatkan kualitas sumber daya generasi muda Indonesia.Teknologi dan informasi membuat segalanya berjalan begitu cepat. Teknologi informasipun telah masuk ke dalam dunia pendidikan. Teknologi membuat proses pendidikan berjalan begitu cepat. Di sinilah letak tantangan bagi guru, dimana mereka harus mengerjakan tugasnya dengan cepat. Persoalannya adalah bagaimana upaya guru supaya dari proses yang cepat itu mendatangkan hasil yang tepat guna (efektif dan efisien) ? Karakter seperti apa yang dihasilkan dari proses yang serba cepat itu? Bagaimana upaya pemerintah terhadap sekolah-sekolah yang belum mendapatkan akses Internet yang baik?

E-learning adalah wadah bagi guru dan siswa supaya dapat menjalankan proses pendidikan secara online, dari mana dan kapan saja. Dalam situasi pandemi global seperti saat ini, E-learning menjadi salah satu pilihan utama sehingga proses kegiatan belajar mengajar dapat tetap berjalan. Hal yang perlu disadari adalah proses belajar itu tetap berjalan namun suasananya berubah. Perubahan suasana itu bukan karena dampak Covid19, melainkan karena ada sesuatu yang dikebiri dari proses pendidikan itu sendiri yaitu siswa ‘kehilangan‘ figur teladan.

Dalam E-Learning semua proses pembelajaran menjadi praktis. Proses pendidikan itu berada di genggaman tangan. Terkait karakter, terdapat 4 karakter yang dapat dikembangkan melalui E-Learning yaitu disiplin waktu, mandiri, tanggung jawab dan jujur. Inipun terjadi kalau guru mengatur lamanya waktu dalam proses pembelajaran itu. Semuanya terjadi begitu cepat, tanpa ada kontak fisik dan kontak mata antara siswa dan guru. Siswa dapat belajar dengan bebas sementara beban tugas guru menjadi lebih ringan. Lihat saja ujian sekolah pada tahun 2020 rata-rata menggunakan sistem Online. Tampaknya banyak guru sudah merasakan manfaat dari konsep E-Leraning itu.

Dalam kurikulum 2013, keseimbangan antara aspek intelektual, moral dan spiritual (forma) dengan tindakan (aktus) merupakan jiwa pendidikan karakter. Salah satu perubahan yang mencolok adalah perubahan pada format raport.

Raport K-13 sebagai laporan hasil penilaian siswa tidak hanya melampirkan capaian nilai akademik siswa, tetapi lengkap dengan dua aspek yang lain yaitu sikap dan keterampilan. Kebijakan atas perubahan format raport ini sangat jelas menunjukkan harapan pemimpin terhadap manusia Indonesia yaitu manusia yang cerdas dalam ketiga aspek tersebut.

Kecerdasaan ini menjadi indikator dalam mengukur tingkat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun demikian, pendidikan karakter yang didengungkan dalam K-13 akan berhadapan dengan tantangan baru manakala proses pendidikan itu hanya dilakukan secara online. Karakter yang bisa dikembangkan dan diukur melalui proses pembelajaran online yang serba cepat adalah disiplin, mandiri, tanggung jawab, jujur

Pembelajaran daring makin terasa pentingnya. Menteri Pendidikan Nasional,tampaknya sedang berupaya supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih praktis dan efisien, namun hasilnya efektif. Lihat saja RPP yang tadinya belasan halaman disederhanakan menjadi 1 halaman. Memang, apa yang sedang dilakukan pak menteri belum bisa dinilai hasilnya.

Namun, kita percaya dia mempunyai visi yang cemerlang untuk bangsa dan negara ini, terutama untuk perkembangan kualitas guru-guru Indonesia, baik akademik, teknis dan karakter. Tantangan dari model pembelajaran online adalah ketersediaan fasilitas internet belum merata di setiap sekolah. Masih banyak sekolah-sekolah di pedalaman yang belum tersentuh oleh jaringan internet. Hal menyebabkan akses terhadap informasi sangat kurang. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini kerja sama antara menkominfo dan mendikbud sangat mendesak untuk meminimalisir persoalan ini.

Peran pemerintah pusat dalam memberi teladan dan membantu guru meningkatkan kualitas dan kompetensinya sangat penting. Di era digital yang serba canggih dan cepat ini, orang yang berprofesi guru harus memiliki jiwa kerja, minimal mengerjakan tugas dan fungsi pokoknya dengan baik. Dengan bekerja secara efektif dan efisien, guru sesungguhnya sedang mendidik siswanya agar nantinya menjadi pribadi yang memiliki karakter yang baik.

Kerja seperti apa yang diharapkan? Secara umum, kita dapat mengidentifikasi tiga etos kerja, yakni kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas. Di tengah arus informasi dan perkembangan teknologi yang makin canggih, guru tidak hanya dituntut bekerja keras, tetapi juga kerja cerdas dan tuntas. Kerja cerdas dalam konteks ini adalah pola kerja yang cepat dan tepat, sesuai dengan tuntutan teknologi. Sedangkan kerja tuntas adalah kerja sampai selesai. Kerja tuntas menuntut tanggung jawab yang besar agar orang memahami apa artinya bekerja keras.

Keterampilan kerja merupakan hasil dari suatu proses pendidikan. Pada umumnya proses berbanding lurus dengan hasil yang dicapai. Proses pendidikan yang berkualitas tentu menghasilkan out put yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang taat pada proses.

Proses pendidikan berkualitas itu dapat berjalan apabila komponen-komponen dasar yang mendukung proses itu terlibat secara proaktif. Minimal terdapat empat komponen dasar yang dapat kita sebutkan antara lain, lembaga pendidik, pendidik/tenaga kependidikan, peserta didik dan orang tua peserta didik. Implikasinya keempat komponen tersebut mesti mempunyai visi misi bersama sebagai acuan bersama dalam berproses mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Untuk mengejar visi itu perlu misi.

Visi merupakan titik tujuan yang menjadi fokus target bersama. Sedangkan misi adalah usaha-usaha yang diperlukan untuk mencapai target tersebut. Sekolah menjadi tempat yang paling utama untuk menjalankan misi itu.

Namun demikian, proses pendidikan itu tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di dalam lingkungan masyarakat, tempat peserta didik itu mengalami realitas dunia yang sesungguhnya. Kita melihat bahwa sekolah menjadi tempat para pelajar untuk belajar, sedangkan masyarakat adalah tempat orang ‘terpelajar’ menerapkan hasil belajarnya.

Namun dalam arti luas, belajar sesungguhnya dapat berlangsung di mana saja. Dalam masyarakat, kita memberi sekaligus menerima pengaruh atau dampak hidup kita dari dan terhadap yang lain. Entah itu bersifat positif maupun negatif. Sebagai individu, cara kita atau setiap orang berbeda menentukan perkembangan masyarakat. Sebaliknya, masyarakat sebagai entitas sosial mutlak diperlukan setiap individu sebab di sana setiap orang dapat mempelajari banyak hal dan berkembang secara manusiawi.(*)

Penulis Staf Guru SMA Negeri 1 Sungai Tebelian Sintang

loading...