Tari adalah Hidup

Dwi Oktariani, M.Pd // Dosen & Penari

Tarian memberi banyak arti bagi Dwi Oktariani. Bukan hanya sebagai bentuk ekspresi dari jiwa, desakan emosi, ataupun kebahagiaan. Melalui dunia tari, Dwi mampu meraih mimpi indahnya. Dia berhasil mengukir prestasi, mewujudkan cita-cita sebagai dosen, serta membuka studio tari. Berikut wawancara dengan Dwi.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

*Awal tertarik dengan dunia tari?
Saya mulai menari sejak taman kanak-kanak. Acara perpisahan di taman kanank-kanak dulu menjadi panggung pertama. Awalnya hanya hobi, bukan sebuah kecintaan. Suatu hari saya mengikuti salah satu acara menari dalam bentuk pawai dan outdoor pada siang hari dan matahari tengah terik-teriknya. Tetapi saat melihat antusias dan senyum penonton yang datang, entah kenapa hati ini merasakan kebahagiaan yang berbeda. Di sana saya merasa menjadi diri sendiri. Saya bahagia saat menyampaikan rasa melalui media tubuh saya.

*Jenis tarian yang dikuasai?
Dari sekian banyak tarian, yang paling saya kuasai ialah tari tradisi dan kreasi baru etnik Melayu khususnya Kalbar. Karena saya sedari kecil terbiasa menari tradisi. Tetapi, sejak 2011 saya mempelajari banyak tarian baru bagi saya seperti Ballet, jazz, kontemporer, hiphop, Kpop, ladies style, salsa dan lain-lain.

*Pernah menari di Istana Kepresidenan RI?
Kesempatan ini menjadi suatu kebanggaan bagi saya yang terpilih sebagai perwakilan Kalimantan Barat dalam Tim Kesenian Massal Gempita Khatulistiwa sebagai penari Melayu pada peringatan ke-66 HUT RI tahun 2011. Saya sangat berterima kasih kepada seluruh tim dan pelatih yang telah mempersiapkan kami untuk dapat menari di Istana Negara. Disana saya banyak mendapatkan teman-teman baru. Saat itu, momennya sedang berpuasa, jadi menahan haus dan lapar saat menari di tengah teriknya matahari.

*Pengalaman menarik?
Banyak sekali pengalaman menarik. Saya bisa mempelajari budaya-budaya yang ada. Menambah ilmu akan pola-pola hidup etnik-etnik tertentu di dunia ini. Saat melakukan pertunjukan saya sangat senang sekali karena akan menemui orang-orang baru dan menambah pengalaman melalui pertemanan, dapat bertukar budaya, saling menghargai kebudayaan mereka yang berbeda dengan kebudayaan saya dan lainnya.

*Prestasi yang pernah diraih?
Saya berhasil memenangkan lomba tari saat di sekolah maupun kuliah. Namun, sekarang saya jarang mengikuti lomba sebagai penari. Tetapi, lebih fokus membuat karya tari atau koreografer. Penari-penari berbakat sayalah yang berkompetisi. Murid beberapa kali memenangkan lomba FLS2N, serta yang terbaru anak didik saya memenangkan juara 1 lomba tari mewakili Kalbar, dimana penarinya merupakan para pegawai di Telkom Kalbar dan hanya latihan 1 hari. Tim hanya berlatih kurang lebih 8 jam saat itu. Dengan latar belakang tim yang bukanlah penari profesional. Namun, saya yakin setiap orang bisa menari, tidak ada yang tidak mungkin jika mau berusaha.

*Saat ini juga menjadi dosen?
Menjadi dosen di bidang pendidikan seni tari khususnya juga merupakan salah satu mimpi saya sedari kecil. Karena saya ingin bekerja di bidang yang memang saya cintai. Saya mengambil pendidikan S1 dan S2 di jurusan pendidikan seni tari. Setelah lulus, ditunjuk menjadi asisten dosen. Mata kuliah pertama yang saya ampu adalah analisis gerak tari untuk semester 5. Dimana saat itu saya adalah mahasiswa yang baru saja lulus di semester 7.
Saya mengambil pendidikan S2 dan kembali mengajar sebagai dosen prodi seni pertunjukan dan PGSD. Sekarang saya merupakan dosen tetap di UNU Kalbar Prodi PGSD.

*Siapa saja murid tari Anda?
Saya sudah mengajar seni tari dari tingkat TK baik tari tradisi, modern maupun ballet, SD,SMP, SMA, perguruan tinggi, hingga kelas karyawan. Sehingga saya paham kebutuhan dan karakter para penari di setiap tingkatan.

*Hal yang diperoleh dari dunia tari?
Melalui dunia tari saya banyak sekali mendapatkan banyak pengalaman dan kesempatan untuk belajar lagi dan lagi. Saya memutuskan kuliah di jurusan pendidikan seni tari karena saya ingin semua orang bisa menari. Tidak hanya karena suka menari, tapi dapat merasakan kebahagiaan saat menari seperti yang saya rasakan. Bagi saya pendidikan itu hobi, tari adalah hidup, dan mendidik adalah cinta. Saya menyelesaikan pendidikan di jurusan ini dalam kurun waktu 3,5 tahun dan meneruskan magister pada jurusan yang sama kurang lebih 1,5 tahun. Saya tertarik untuk mengetahui metode mengajar. Misalnya, apa yang dapat dilakukan untuk membuat orang bisa menari. Saya juga belajar cara menjadi pendidik yang baik, berpengalaman dalam meneliti, baik bidang kajian tari tradisional maupun menganalisis permasalahan pendidikan seni tari di sekolah-sekolah dan lembaga forman nonformal lainnya. Hingga akhirnya, saya membuat dan mengembangkan suatu produk berbentuk multimedia interaktif tari ‘Jepin Langkah Simpang’. Ini untuk menjembatani semua kalangan yang ingin mempelajari tarian tersebut dalam bentuk yang lebih fun dan cocok untuk semua kalangan.

*Harapan kedepannya?
Saya berharap dunia tari terus berkembang dan menjadi ladang mengekspresikan diri dalam hal-hal yang positif. Karena tari juga merupakan jembatan usaha untuk mempertahankan identitas budaya bangsa. Pesan untuk seluruh pegiat seni khususnya seni tari, jangan ragu untuk menari, rasakan bahagiamu dalam berkarya dan berekspresi, terus berinovasi dalam mengembangkan kreativitas diri. Ingatlah bahwa ‘everybody can dance’. **

Read Previous

Satgas Pangan Musnahkan 3,2 Ton Daging Kerbau Asal Malaysia

Read Next

No Grizi Still Party

Tinggalkan Balasan

Most Popular