Taruna Asal Singkawang Jadi Korban Hilangnya Kapal MV Nur Allya

HILANG: Rizki Fallah, Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta asal Singkawang yang menjadi korban hilangnya MV Nur Allya di Perairan Halmahera. ISTIMEWA

Orangtua Khawatir Kapal Dibajak

PONTIANAK – Yosi Yosuwar hanya bisa pasrah menunggu kabar berita putranya, Rizki Fallah, Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta yang menjadi korban hilangnya MV Nur Allya di Perairan Halmahera, Maluku.

Rizki Fallah merupakan warga Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Rizki mengambil pendidikan jurusan Nautica di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Saat peristiwa ini terjadi, Rizki tengah mengikuti praktik lapangan (prala) di kapal MV Nur Allya milik PT Gurita Lintas Samudra sejak setahun yang lalu.

Kapal pengangkut nikel, tempat Rizki Fallah melaksanakan praktik lapangan, hilang kontak sejak 20 Agustus 2019, saat berlayar dari pelabuhan Sagea, Halmahera tujuan Morosi. Saat ini sang ayah, Yosi Yosuwar hanya bisa berharap, tim penyelamat secepatnya bisa menemukan keberadaan putranya.
Kepada Pontianak Post, Yosi menceritakan terakhir kali ia berkomunikasi dengan anaknya. Yosi terakhir kali berkomunikasi dengan anaknya itu pada 20 Agustus 2019 sekitar pukul 15.30. Rizki melalui Short Message Service (SMS) mengirim pesan bahwa kapal yang ditumpanginya segera berangkat. “Pa, kapal jalan,” tulis Rizki kepada Yosi melalui SMS.

“Itu SMS dari anak saya. Kapal sudah jalan. Saat itu kapal tempatnya praktik akan berangkat menuju Morosi, setelah bongkar muat di pelabuhan Sagea, Halmahera,” kata Yosi.

Sejak itu, ia tidak lagi terhubung dengan anaknya. Menurut Yosi, selang tiga hari kemudian, ia kembali mendapat kabar dari pihak kampus tempat anaknya menempuh pendidikan, yang menyatakan jika kapal tempat anaknya melakukan praktik lapangan hilang kontak sejak tanggal 20 Agustus 2019.

“Saya pertama kali mendapat informasi dari kampusnya. Katanya kapal tempat anak saya praktik, hilang kontak sejak 20 Agustus lalu,” ujar Yosi Yosuwar kepada Pontianak Post, kemarin.

Saat ini, dirinya berada di Jakarta untuk menunggu kabar berita dari anaknya.“Ini sudah hari ke delapan. Kenapa sampai sekarang belum ada kabar juga. Tapi kalau berdasarkan informasi belum ada tanda-tanda kapal itu tenggelam. Justru saya khawatir, jika kapal itu dibajak,” katanya.

Dikatakan Yosi, ada 25 orang yang berada di kapal tersebut. Hanya saja, dari 25 orang yang ada di dalam kapal, Rizki Fallah adalah satu-satunya yang berasal dari Kalbar.

Sementara informasi yang dihimpun Pontianak Post, sejak Selasa (27/08), pencarian MV Nur Allya terus dilakukan. Dengan menggunakan KN SAR Pandudewanata, tim rescue yang dilengkapi alat pendeteksi sinyal marabahaya (signal distress) Direction Finder (DF) menuju Perairan Laut Halmahera, Pulau Obi, Maluku Utara yang merupakan lokasi terakhir kapal memancarkan signal distress.

KN SAR Pandudewanata juga berkomunikasi dengan KN Ular 405 milik Bakamla RI via Radio Marine Ch.16 yang melakukan pencarian di radius 15 Nm dari Pulau Kekek, Obi.

Selain itu tim gabungan juga berpapasan dengan KM. Sereniti 09 yang sedang melintas di perairan sekitar lokasi. Namun KM. Sereniti 09 tidak menemukan tanda-tanda keberadaan MV. Nur Allya ataupun benda-benda yang dicurigai kapal tenggelam.

Tiba di koordinat yang telah ditentukan, tim SAR gabungan langsung melakukan deteksi dengan menggunakan DF selama ± 1 jam. Hasilnya signal distress terdeteksi lemah dan di sekitar lokasi tersebut juga tidak ditemukan adanya benda-benda atau tumpahan minyak yang dicurigai dari MV Nur Allya. (arf)

Read Previous

Bupati Teken MoU Informasi Geospasial

Read Next

Kloter 11 Pulang Sehat dan Selamat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular